Fakta Tentang Akibat Perlawanan Aceh Terhadap Portugis

Era Penjajahan merupakan suatu era yang amat buruk bagi suatu bangsa. Seperti halnya Indonesia, yang mana mempunyai berbagai perlawanan daerah seperti pada penyebab perang Padri pecahlatar belakang perang Banjar dan juga dampak Perang Padri. Usaha untuk memperoleh kemerdekaan tetap diperjuangkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia, dengan berbagai daya dan upaya. Meskipun memang kekuatan persenjataan dan tekonlogi terlihat sangat tidak seimbang, namun api semangat dalam hati mereka tetap membara. Masyarakat Indonesia juga harus mengorbankan segala sesuatu yang dicintai. Kota tanah kelahiranpun juga ikut dikorbankan, sama seperti yang terjadi pada penyebab Pertempuran Bandung Lautan Api.

Pada era yang mengerikan tersebut, banyak sekali konflik yang dapat ditemukan, entah itu antar masyarakat sendiri atau perlawanan antara masyarakat dengan pemerintah. Kita bisa mnjumpai berbagai sejarah yang menjelaskan mengenai adanya penyebab konflik horizontal dan juga penyebab pelanggaran HAM vertikal yang dapat ditemukan hampir di segala penjuru negeri. Namun, masyarakat kita tidak tinggal diam. Banyak dari leluhur kta yang melakukan perlawanan sengit untuk memerangi penjajahan, seperti yang pernah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Aceh ini. Perang tadi menimbulkan beberapa akibat, yakni :

1. Banyaknya Korban Jiwa

Perlawanan di Aceh ini menandingkan dua kekuatan yang cukup besar, yakni kekuatan rakyat Aceh, dengan kekuatan pendatang, Portugis. Perlawanan Potguis ini bisa dibilang sebagai salah satu dampak konflik agama, karena salah satu tujuan mereka itu adalah utnuk menyebarkan agama endemik mereka, yakni Katolik. Kedua belah pihak saling bertikai, terutama dikarenakan oleh kebijakan Portugis yang sangat merugikan rakyat.

Oleh karena itu, peperangan pun akhirnya pecah dan menewaskan banyak orang, baik dari pihak Aceh ataupun Portugis. Namun, Portugis juga akhir mengeluarkan salah satu strategi mereka yang busuk, yakni ikut merekrut rakyat Aceh untuk bisa diselipkan dalam pasukan. Hal itu membuat perlawanan rakyat Aceh sedikit berkurang dan mereda, mengingat mereka akan melawan bangsa mereka sendiri. Dengan begitu, kekhawatiran rakyat Aceh tadi dimanfaatkan Portugis untuk kembali mengembangkan sayapnya di tanah Aceh. Perjuangan rakyat pun semakin ditekan dan akhirnya masyarakat terpaksa meninggalkan medan tempur untuk berlindung dan membentuk strategi baru. Bersamaan dengan itu, Portugis juga semakin mencengkeram kerajaan-kerajaan kecil yang berada di Aveh untuk bisa ikut tunduk pada kekuasaan Portugis.

2. Mode Pertempuran Berubah Menjadi Gerilya

Pada perlawanan Aceh ini, kita bisa melihat adanya ketidak seimbangan kekuatan antara rakyat Aceh dengan pasukan Portugis. Rakyat Aceh yang saat itu masih belum mempunyai angkatan bersenjata terbaik di dunia dan juga personel militer terbaik di dunia yang memadai terpaksa harus mundur dan akhirnya “menghilangkan” eksistensi mereka untuk sementara, dengan menggunakan metode peperangan yang lain, yakni gerilya. Perlawanan selanjutnya dilakukan secara diam-diam, berbanding terbalik dengan perlawanan yang sudah dilakukan sebelumnya. Strategi tersebut dapat dimanfaatkan denagn baik oleh rakyat Aceh untuk bisa memperoleh kembali supply makanan dan senjata yang dibagikan pada pasukan Aceh.

Hal itu tentunya sangat membantu sekali, mengingat pada era peperangan, berbagai supply yang dimiliki terkuras habis untuk digunakan hidup sehari-hari. Apalagi, barang mereka juga dijadikan barang sitaan oleh pasukan Portugis. Barang-barang dan perbekalan yang diambil tadi tidak hanya digunakna untuk bala tentara Aceh saja namun juga dibagikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan, mengingat kedatangan Portugis ke tanah Aceh memiskinkan orang-orang yang ada di sana. Adalagi salah satu keuntungan dari perang Gerilya ini, adalah untuk mengurangi jumlah korban jiwa dari pihak Aceh. Aceh sangat kekuarangan jumlah pasukan, sehingga metode Gerilya nampaknya merupakan salah satu strategi yang efektif dan juga relevan dengan keadaan yang dialami Aceh saat itu.

[AdSense-B]

Rakyat Aceh yang akhirnya bisa mengaplikasikan metode tersebut dengan baik bsia mendapat sega keuntunan yang bisa di dapat dari gerakan bawah tanah tadi. Mereka bisa membuat jalur mobilitas yang tersembunyi dan tidak terdeteksi oleh Portugis, mereka bisa mendapatkan kembali harta benda mereka, dan yang terpenting jumlah korban jiwa dari Aceh bisa diminimalisir.

[AdSense-A] 3. Berbagai Kerajaan-kerajaan Kecil Jatuh Ke Tangan Portugis

Tentnya pada perang ini, kita bisa menemukan tokoh- tokoha yang terkenal di dalamnya, yang sangat berjasa pada perjuangan rakyat Aceh kala itu, seperti  pada rokoh-tokoh dalam Perang Aceh salah satunya adalah Sultan Iskandar Muda. Terlepas dari fakta bahwa tokoh-tookoh tersebut juga ikut serta membantu masyarakat Aceh, sayangnya kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut masih bisa ditaklukkan dengan mudah oleh Portugis. Portugis sempat kewalahan untuk melawan api semangat mereka untuk mempertahankan harta benda, tanah, dan tradisi mereka yang sangat ingin dihapuskan atau di replace oleh Portugis.

Perlawanan berlangsung sengit antara kerajaan kerajaan di Aceh dengan pasukan Portugis. Hampir semua golongan rakyat mau ikut serta membantu perang tersebut degan sukarela, apalagi melihat kehadiran salah satu tokoh dalam peperangan, yang pastinya bisa mengorbankan semangat mereka untuk bisa lebih besar lagi. Walaupun persenjataan yang dimiliki Aceh juga tidak seberapacnggih dari yang dimiliki oleh Portugis, namun kekuatan dari rakyat Aceh yang beberapa masih menggunakan senjatar tradisional akhirnya juga bisa mengalahkan anggota Portugis. Meskipn begitu, dengan kekalahan dari faktor persenjataan dan juga pasukan, ternyata daftar kerajaan-kerajaan tersebut berhasil ditumbangkan satu per satu.

4. Penyebaran Katolik

Disamping kala itu Portugis memiliki salah satu angkatan laut terkuat di dunia, tujuan sebenarnya dari Portugis ada 3G, yakni Gold, Gospel, dan Glory. Portugis tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh kesemuanya saat berhasil mendarat di Aceh. Gold sudah berhasil mereka dapatkan, kejayaan juga berhasil mereka raih, dan kemudian penyebaran agama Katolik yang juga mreka lakukan jauh-jauh hari.

Salah satu teknik penyebaran agama katolik menurut Portugis adaah pada saat perdagangan. Dari situ mereka berlanjut untuk menyebarkan katolik ke perumahan sekitarnya, dan kemudian menyebar lagi hingga mencapai sekolah-sekolah. Dari sanalah, banyak masyarakat akhirnya mengantu agama Katolik, dan keluar dari agama Islam yang telah lama mereka anut. Namun, dengan fakta ini mayoritas masyarakat Aceh sangat kecewa dan marah terhadap kedatangan Portugis, karena Aceh memang terkenal dengan agama Islam yang telah danut sejak lama oleh mayoritas rakya di sana. Portugis pun dikecam habis-habisan, dan itulah yang menjadi salah satu penyebab pecahnya perang Aceh pada era Portugis.

5. Portugis Akhirnya Mundur Dari Aceh

Dengan menyadari bahwa kekuatan Aceh semakin lama semakin besar, maka tidak ada jalan lain selain menaik mundur seluruh pasukan dari tanah Aceh. Portugis akhirnya merelakan harta benda yang dijarahnya, yang juga ternyata berhasil dierbut oleh rakyat Aceh sendiri. Hal itulah yang akhirnya menjadi pelajaran bagi Portugis, untuk tidak menyepelekan keuatan rakyat Indoneisa, yang notabene bisa menjadi kekuatan luar biasa bila berkumpul dan melakukan perlawanan bersama-sama.

Itulah tadi beberapa akibat dari perang perlawanan Aceh terhadap Portugis yang terjadi pada masa penjajahn dahulu. Kita sebagai masyarakat Indonesia saat ini harusnya berusaha untuk mempertahankan kedaulatan dan persatuan negara kita ini.

Jangan sampai berbagai isu yang menjadi penyebab konflik antar suku, contoh konflik antar ras, dan penyebab konflik antar agama menjadi unsur utama terpecahnya bangsa kita. Namun dengan keadaan masyarakat Indonesia ini, kita bisa mengingat perkataan Ir.Soekarno mengenai perjuangan bangsa. Perlawanan untuk melawan bangsa sendiri memang lebih sulit.

[AdSense-C]

Oleh karena itu, kita perlu melakukan pengendalian konflik sosial yang baik untuk mencegah faktor-faktor konflik tersebut.