3 Penyebab Konflik Horizontal di Masyarakat Majemuk

Di artikel sebelumnya, kita sudah pernah membahas tentang salah satu jenis konflik yaitu konflik vertikal, dimana konflik yang terjadi antara pemerintah atau pihak yang berwenang dengan rakyatnya sendiri. Nah kali ini, kita akan mengulas hal lain lagi selain konflik vertikal, yaitu konflik horizontal. Jika konflik vertikal bergerak dari atas ke bawah, dari pemerintah ke rakyat, maka seperti namanya konflik horizontal bergerak secara rata, menyeluruh, terjadi antar sesama manusia.

Baca juga :

Acap kali ketegangan antara kita terjadi, entah apa sebenarnya maksudnya. Jika dilihat, banyak sekali faktor-faktor kehidupan serta faktor dalam diri kita sendiri yang hidup sebagai manusia yang bisa menyebabkan adanya perselisihan dan perbedaan pendapat yang akhirnya bisa ditebak, melahirkan sebuah konflik. Jika ditelusuri, kita bisa menemukan banyak sekali faktor-faktor penyebab konflik horizontal ini, tapi kami merangkumnya menjadi beberapa penyebab mengapa konflik horizontal, konflik antar sesama manusia ini bisa terjadi. Meskipun berbagai faktor ini kebanyakan berasal dari kita sendiri, dengan sedikit pengelihatan yang lebih jeli tentang kehidupan sehari-hari, kami sajikan untuk anda 3 sebab konflik yang terjadi antar sesama manusia

1. Egois

Rasa egois ini bisa jadi sikap yang menyeramkan bila berada pada tingkat yang telalu tinggi. Egoisme yang tinggi menimbulkan tidak adanya rasa kepedulian antar sesama, selama dia untung masyarakat pun tidak apa bila jadi korban. Sekali lagi, pemikiran primitif semacam ini yang menjadi penyebab pecahnya masyarakat, terlebih lagi mereka berkonflik hanya gegara perselisihan yang kecil yang mana sebenarnya bisa diselesaikan dalam sekejap.

Dari rasa ketidak pedulian lagi, maka rasa menghormati hak asasi orang lain juga nampaknya bisa hilang dengan mudahnya. Karena segala hal adalah tentang mengenai dirinya sendiri, apa yang baik untuk dirinya sendiri, apa yang menurut dia cocok untuk dirinya sendiri, apa yang paling terbaik untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan apa akibatnya yang ditimpakan ke orang lain. Hak asasi orang lain yang diselewengkan bisa melahirkan rasa tidak terima dari orang tersebut. Akhirnya, konflik tidak bisa dihindari lagi.

Meskipun begitu, ras egois seperti ini adalah rasa yang sudah mengakar di sebagian masyarakat kita, kita bisa dengan mudah melihat contohnya di kehidupan sehari-hari bila anda lebih teliti. Rasa egois seperti inilah harus dihilangkan, karena sangat bersifat merugikan orang lain. Terlebih lagi, bukankah lebih indah bila kita dapat hidup bermasyarakat dengan damai dan tentram dengan rasa saling peduli satu sama lain?

Baca juga:

2. Iri Hati

Apa yang didapatkan orang lain adalah sebuah penghargaan atau sebuah hadiah untuk orang itu. Kita sebagai orang lain hanya mengagumi apa hadiah yang didapatnya, namun sayangnya kita seringkali mengabaikan usaha yang dilakukannya selama ini untuk mendapatkan hal itu. Dengan hanya melihat segi material inilah, ada rasa ingin memiliki barang orang lain. Entah itu jabatan atau suatu benda, yang pasti rasa iri tadi menginginkan kita untuk mendapatkan hal itu, bagaimana caranya. [AdSense-B]

Seperti yang kita tahu, persaingan mendapatkan jabatan kerja bisa menjadi hal positif, bila karyawan memperoleh hal itu dengan meningkatkan kinerja dan memperolehnya dengan jerih payah sendiri. Namun lain halnya bila dia menggunakan “cara belakang”, cara busuk untuk menghancurkan seseorang. Hanya dengan memikirkan caranya, kita secara langsung sudah memasuki zona konflik, dimana yang kita pikirkan hanya cara-cara untuk menjatuhkannya saja. Cara licik seperti ini sayangnya masih banyak ditemukan di sektor paling penting negara ini, sektor politik. Kita bisa lihat di televisi, berbagai cara percobaan pembunuhan yang dilakukan hanya untuk mendapat atau memproteksi jabatan dari siapapun yang ingin menjatuhkannya. Pedihnya, ditambah dengan ketidak adilan hukum menjadikan korban semakin terpojok.

Amat menyeramkan bukan, semua diawali hanya dengan rasa iri dalam hati. Rasa memiliki memang boleh, tapi kita juga harus tau apakah hal yang akan kita lakukan itu benar atau tidak. Berhasil memiliki namun dengan cara yang licik seperti menghilangkan rasa puas saat berhasil mendapatkannya. Yang ada hanyalah rasa bersalah yang amat dalam, yang akan dibawa sampai mati.

Baca juga:

[AdSense-A]

3. Dendam

Manusia memang tempatnya salah, manusia terkadang melakukan kekhilafan. Baguslah bisa kesalahn tadi bisa diperbaiki, tidak mengulanginya lagi dengan adanya “perjanjian” minta maaf. Walaupun maaf sudah disampaikan, tapi entah mengapa hati susah melupakan. Jujur saja, banyak dari kita yang pasti merasakan dendam pada orang tertentu. Karena kesalahannya yang bisa kita anggap tidak bisa ditolerir, karena mungkin memiliki imbas yang amat buruk bagi hidup kita.

dimana dia tetap menimbun rasa dendam itu, maka di suatu pikiran seseorang ada rasa yang tersirat untuk menjatuhkan. Tidak menjadi obsesi, hanya kadang muncul di beberapa waktu saja. Bisa saja, pada suatu kesempatan dia akhirnya bisa mejalankan aksi balas dendamnya dengan rasa puas di dada.

Dengan alasan apapun, dendam sebenarnya tidak baik untuk disimpan, dan hal itu amat sangat baik bila kita bisa menjalani kehidupan dengan semangat baru dengan langkah pertama, yaitu melupakannya. Memang tidak mudah, tidaklah mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pasti ada rasa untuk membuat orang itu kesusahan dengan tidak memaafkannya. Tapi, rasa dendam yang tidak dilupakan akan membuat rasa sakit yang berkelanjutan, karena dendam tadi selalu mengingatkan kita pada rasa sakit yang terjadi di masa lalu. Alangkah baiknya, jika setelah kita memaafkan, kita segera melupakannya. Kemudian menjalani hidup kita sebagaimana mestinya.

Itu dia, pembahasan lebih dalam mengenai 3 hal yang membuat kita saling berkonflik satu sama lain. Intinya, selama kita menyayangi satu sama lain dengan rasa hormat dan kasih sayang di hati, maka konflik tadi tidak akan pernah terlahir. Perpecahan hanya akan menjadi sebuah mitos. Kehidupan harmonis yang selama ini kita impikan bisa kita peroleh. Dengan begitu, kita dapat menikmati hidup kita yang hanya sekali ini dengan penuh kebahagiaan dan rasa damai di hati. Melupakan permasalahan di masa lampau, dan jalan tenggap menelusuri lorong kehidupan yang baru. Marilah membuat perbedaan menjadi sebagai hal unik untuk mengistimewakan kita. Dengan berbeda, kita menjadi istimewa di mata dunia.

Baca juga: