4 Dampak Perang Padri di Sumatra Barat yang Merugikan

Seringkali kita menemui konflik yang terdapat pada negarakita tercinta ini. Banyak sekali perdebatan dan perbedaan pendapat yang akhirnya bisa menjad pemicu suatu pertempuran, ynag contohnya bisa kita saksikan pada beberapa konflik yang dikarenakan oleh penyebab konflik Ambon ataupun penyebab konflik Poso. Tidak hanya daerah Timur saja yang terdapat konflik, namun daerah Sumatra juga pernah mengalami perselisihan.

Hal itu juga merupakan salah satu penyebab perang padri. Dampak dari perang itu ada hal positifnya, yaitu Kaum Adat yang mulai mau introspeksi diri dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti jalan Islam dengan sebenar-benarnya, sesuai apa yang diinginkan oleh kaum padri. Namun selain dari dampak positif tersebut, ada dampak-dampak negatif lainya yang sangat merugikan masyarakat, di antaranya adalah :

1. Imam Bonjol Tertangkap

Sebab pertama ini adalah konflik yang didasari oleh penyebab konflik horizontal ataupun yang dikarenakan oleh penyebab pelanggaran HAM vertikal. Salah satu tokoh yang penting dan terkenal dari peperangan ini adalah Tuanku Nan Renceh atau yang biasa disebut dengan panggilan Tuanku imam Bonjol. Beliau merupakan tokoh yang tidak asing bagi kita, selain kita dapat mengilhami beluai dari buku bacaan dikala sekolah dulu, kita juga dapat menemui sosok beliau dalam uang yang kita pakai sehari-hari. Imam Bonjol adalah seseorang yang sangat merepotkan bagi Belanda, karena beliau merupakan orang yang cerdas dan strategik, sehingga dapat berhasil menghalau serangan Belanda. Sampai-sampai Belanda harus memutar otak kembali untuk bisa menangkap dan menjatuhkan pemimpin Kamu Padri ini sendiri dengan berbagai tipu daya. Mirip dengan kejadian pada Banjar, yang mana kita perlu belajar dari sejarahnya. Banyak sekali perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut tanah air demi masa depan bangsa, salah satunya adalah perang yang disebabkan oleh latar belakang Perang Banjar.

Beliau yang kala itu sudah bisa berhasil mempersatukan kedua kamu yang bertentangan yaitu kaum adat dan kaum padri mengiyakan ajakan berdamai dari Belanda, karena juga mengingat kdua pasukan dari Padri maupun Belanda masih dalam masa pemulihan. Perjanjian itupun disetujui pada 15 November 1825 dengan nama Perjanjian Masang.

Pada tahun 1835, Belanda kembali melakukan serangan yang memecah kamu padri menjadi dua bagian. Pasukan padri pun tercerai berai, dan Tuanku Imam Bonjol tidak hanya tinggal diam saja melihat keadaan yang terpuruk itu. Beliau kembali berusaha untuk mempersatukan pasukan yang tersisa, namun apadaya, jumlah anggota yang tertinggal, yang siap untuk berperang hanya segelintir orang saja. Tanpa diduga, pesan dari Belanda kembali datang, mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk melakukan perundingan. Melihat kondisi pasukan yang tidak stabil, Tuanku Imam Bonjol pun menyanggupinya.

Ternyata itu hanya tipuan Belanda untuk akhirnya bisa menangkap beliau. Beliau kemudian menjalani masa yang lama dalam pengasingan, dengan kondisi beliau yang saat itu sedang sakit. Ahirnya beliaupun diasingkan ke beberapa wilayah, satu demi satu. Mulai dari, Bukittinggi, kemudian dibawa ke Padang, lalu diasingkak kembali ke Cianjur, setelah itu ke Ambon, dan terakhir dipindahkan kembali ke Manado. Di sana lah beliau beristirahat dengan tenang akibat penyakit jantung.

[AdSense-B]

2. Dikuasainya Benteng Bonjol oleh Belanda

Seab kedua ini bukan sebab konflik yang masih terjadi karena perbedaan amat sepele, yaitu penyebab konflik antar etnis. Setelah Tuanku Imam Bonjol meninggal, Belanda tetap terus berusaha untuk mendesak agara kaum Padri bisa menyerahkan wilayahnya untuk bisa menjadi wilayah yang diawasi oleh Belanda. Namun tentunya kaum Padri tidak menyetujuinya, dan mengerahkan kekuatan mereka pada pertempuran di Benteng Bonjol. Dengan semangat besar dan kemarahan yang tidak terhingga karena Belanda telah menghabisi pemimpin mereka, pasukan Padri terus bertempur dengans sengit melawan Belanda. Meski begitu, akhirnya Benteng Bonjol berhasil ditaklukan oleh Belanda dan menjadi satu aste kepemilikan Hindia-Belanda.

[AdSense-A]  3. Belanda Memperluas Wilayah Kekuasaanya

Ternyata, walaupun perbedaan pendapat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat yang masih belum mau menjalankan ajaran Islam dengan baik walapun sudah memeluk islam melahirkan dampak konflik agama, yaitu pecahnya peperangan ini pada 1803, hal ini diamanfaatkan dengan baik oleh Belanda. Di kala itu, Indonesia belum mandapat predikat militer terkuat di Asia Tenggara, karena perlawanan rakyatnya pun masih bersifat kedaerahan. Kamu Padri yang kala itu dalam kondisi lemah hanya bisa menerima kenyataan bahwa siasat Belanda untuk menangkap pemimpin mereka ternyata berhasil. Hasilnya, Belanda kembali menjalankan kebijakannya yang menguntungkan pihak mereka sendiri. Rakyat yang kala itu kebingungan hanya bisa pasrah mematuhi perintah Belanda yang kejam. Banyak dari mereka yang kembali terjun ke kerja rodi untuk Belanda.

Walaupun kaum padri berusahan kembali untuk mempertahankan wilayah dan harga diri mereka dengan pertempuran di Dalu-dalu yang mana dipimpin oleh Tuanku Tambusai, ternyata mereka masih kalah dengan kekuatan Belanda yang amatlah kuat. Jatuhnya benteng Dalu-dalu tadi membuat pasukan Padri mundur ke Semenanjung Malaya, dan akhirnya wilayah tersebut masuk ke dalam pengawasan pemerintahan Hindia-Belanda.

4. Dibangunnya Monumen Perang Padri

Meskipun tekah berhasil menaklukkan kaum Padri, namun pemerintah Belanda tentunay tidak bisa melupakan pertempuran sengit yang pernah dialaminya. Oleh karena itu, untuk menghargai serta mengapresiai perjuangan kaum Padri yang semangatnya membara, dan juga untuk mengingat kembali memori tentang perjuangan di perang padri ini agar tidak terlupakan, pemerintah Hindia-Belanda membangun sebuah monumen yang dinamakan Monumen Perang Padri.

Selain untuk mengingatkan kita akan perang antara kaum padri dan kaum adat dulu, namun juga sebagai pengingat untuk kita tentang momen luar biasa saat kaum adat dan kaum padri yang notabene berbeda pendapat, bersatu padu dan mengkombinasikan kekuatan untuk melawan Belanda. Perang Padri pun akhirnya bisa menginspirasi banyak orang tentang persatuan, entah itu orang pribumi atau pasukan Belanda sekalipun.

Dampak-dampak negatif diatas memang menimbulkan kerugian yang amat besar, namun pengorbanan dan perjuangan mereka akhirnya tidak sia-sia, karena pada akhirnya Indonesia bisa merdeka. Tinggal kita yang hidup di masa ini agar bisa lebih belajar dari pengalaman yang ada. Dengan terciptanya bangsa yang beragam , tidak seharusnya kita bisa dengan mudah terpecah belah dengan segala penyebab konflik sara. JUga, kita bisa mengambil contoh penting dari yang disebabkan pula karena penyebab perang Aceh.

Kadang kita juga berpikir, apakah konflik itu perlu dilakukan, mengapa konflik yang dikarenakan seperti pada contoh konflik antar ras dan penyebab konflik antar suku masih terus terjadi, mengapa melawan bangsa sendiri nampaknya sudah bisa menjadi keseharian. Jangan sampai hanya dengan perbedaan pandangan, perbedaan agama, dan perbedaan pendapat bisa menjatuhkan kita ke dalam jurang perpecahan. Kita bisa mengambil contoh dari perang ini, yakni Perang Padri. Salah satu alasan mengapa perang ini bisa terjadi adalah penyebab konflik antar agama. Sayangnya, pengendalian konflik sosial menurut Kaum Padri masih belum bisa berjalan dengan baik. Negara Indonesia tentunya akan lebih indah bukan bila masyarakatnya hidup dengan harmoni dalam perdamaian? Mari kita rangkul sesama, sesama manusia, dan sesama bangsa Indonesia!