Sponsors Link

4 Penyebab Konflik Antar Agama di Indonesia

Sponsors Link

Beragam konflik memang muncul dari beragam sumber, termasuk agama di dalamnya. Padahal tentunya, agama tidak serta merta diciptakan untuk berbuat semena-mena terhadap yang lainnya. Tentunya, semuanya kembali lagi ke manusia nya. Apabila tindakan manusia tadi memang baik, maka segala hal yang menyangkut kehidupannya pun akan ikut berimbas menjadi kegiatan yang baik. Seperti halnya air, yang tentunya akan tetap jernih bila tanpa dicampur dengan limbah yang beracun. Sama dengan manusia, bila akhlak nya dirusak oleh kegiatan-kegiatan yang buruk, pikirannya akan jatuh ke dalam lembah kebusukan.

ads

Lalu, apakah manusia sendiri memang murni melakukan konflik hanya karena agama? Sepertinya tidak. Perbedaan di agama ini dijadikan momentum yang bagus bagi oknum-oknum yang ingin mencari jalan pintas untuk memecah masyarakat. Membunuh atas nama agama, melakukan pelecehan atas nama agama, melakukan penghakiman atas nama agama. Padahal, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan itu semua. Segala kehancuran yang mereka sebabkan sendiri itu bahkan tidak ada yang mengajarkan. Kita pasti tahu bukan, seluruh agama pasti selalu menyerukan perdamaian. Lalu apa yang sebenarnya menjadi penyebab konflik antar agama terus terjadi di masyarakat?

Baca juga:

1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Akan Kehidupan yang Harmonis

Nah, di pikiran kita, kita bisa membayangkan bukan bahwa kehidupan harmonis itu sangat indah sekali untuk ditinggali. Untuk menciptakan keharmonisan dalam berkehidupan antar sesama, maka diperlukan juga yang namanya rasa memaklumi, tenggang rasa, dan menghormati yang harus dimiliki oleh setiap orang. Kadang kita lupa, bahwa kita yang sebenarnya telah merusak keharmonisan itu sendiri. Kita tuduh teman kita sendiri sembarangan, kita melakukan tindakan perusakan entah itu fisikal ataupun sosiologis. Semua memang seringkali kita lakukan tanpa sadar, namun imbasnya tetap saja berujung pada kehancuran harmonisasi tadi sehingga jurang perpecahan akan semakin lebar luasnya. Disitulah konflik merajalela, dan dilakukan oleh siapa saja di dunia. Kita memaksakan kehendak untuk kepentingan pribadi namun menyingkirkan kebutuhan golongan yang mendasar begitu saja.

Rasa kurang simpati inilah yang membuat kita akhirnya menjadi manusia yang individualis. Selama kita aman dengan apapun yang kita pegang (termasuk agama), orang terluka di depan mata pun nampaknya dibiarkan begitu saja. Sayangnya inilah yang seringkali dilakukan oleh masyarakat mayoritas, apalagi dengan masyarakat mayoritas agama tertentu. Jumlah suara yang begitu banyak akan menghancurkan suatu  individu begitu saja, terutama yang minoritas. Tentunya ini tidak dibenarkan, namun itu terjadi begitu saja.

2. Sengketa Lahan Untuk Tempat Ibadah

Tanah di Indonesia ini bisa digunakan untuk membangun segala unit bangunan, untuk segala kebutuhan manusia yang mendasar. Bisa saja digunakan untuk membangun bangunan pribadi seperti rumah, atau untuk bangunan publik seperti mall atau swalayan. Bangunan publik yang umumnya dibangun adalah tempat ibadah, rumah Tuhan. Walaupun progress untuk membangun suatu bangunan sudah jelas, namun ada saja pihak yang menyelewengkannya. Contohnya, pernah terjadi perebutan tanah entah oleh pihak mana, dan ujung-ujungnya ternyata tanah yang akan diperebutkan akan dibangun tempat ibadah. Hal ini tentunya tidak ada hubungan dengan agama sebenarnya.

Baca juga:

Sponsors Link

Yang jelas bersalah disini adalah pihak manusianya, yang senang memperebutkan sesuatu pada tempatnya. Tapi, ada saja yang menyangkut pautkan hal ini dengan agama, dengan cara mengutip beberapa ayat yang bisa saja mengandung makna yang berbeda. Perlukah hal ini dilakukan? Tentunya tidak. Menyangkutkan hal yang tidak ada kaitannya sebenarnya adalah suatu tindakan yang tercela, dosa. Bukankah hal itu sama saja dengan memfitnah?

3. Penyalah Artian Ayat Dalam Kitab Suci

Seperti yang kita tahu, Kitab Suci agam kita dibuat oleh Tuhan. Tidak ada campur tangan manusia di dalamnya, bukan? Nah, sebagai manusia kita dibekali dengan pemikiran yang diberikan untuk melihat, mengamati, dan berpikir tentang segala hal dengan cara yang berbeda-beda. Satu hal memiliki banyak arti, satu kalimat bisa diartikan berbeda antar satu manusia dengan manusia yang lain. Tentang pemahaman kitab suci inilah, kadang ada dari kita yang salah mengartikannya. Banyak manusia yang “terlalu cepat” berpikir tanpa melakukan ulasan lebih lanjut mengenasi suatu ayat.

Anehnya lagi, dia merasa dialah yang merasa paling benar mengartikannya. Kemudian menjalankan segala sesuatu sesuai apa yang dia tangkap di pikirannya. Nah, apabila kita masih belum mengetahui betul akan sesuatu, lebih baik kita mengkajinya terlebih dahulu, apa yang benar-benar terkandung di dalamnya agar kita bisa lebih mengerti. Jangan hanya melihatnya dari pemahaman kita saja, bisa saja memang kita sudah tidak paham dari awalnya. Lalu, bila kita melakukan suatu tindakan tertentu berdasarkan apa yang pertama kali kita tangkap di otak, maka kita melakukan kegiatan tadi bukan berdasarkan arti yang benar-benar sesuai dengan suatu ayat. Tapi kita hanya melakukannya berdasarkan asumsi belaka. Jangan sampai kita melukai seseorang hanya kita salah mengartikan tuntunan hidup yang terangkum di Kitab Suci oleh kita sendiri.

Sponsors Link

Baca juga:

4. Pemikiran Radikal

Pada suatu agam yang damai, ada suatu kelompok yang memaksakan kehendaknya dan berujung pada sikap merendahkan agama lain. Inilah kelompok yang radikal. Kelompok ini selalu menjalankan segala cara untuk semua pihak bisa “setuju” dengan apa yang ingin dia capai. Ya, dia memaksakan kehendak seenak hati saja tanpa memikirkan imbasnya pada orang lain. Anehnya, ada yang setuju dengan pemikiran primitif seperti ini dan ikut bergabung dengan kelompok itu. Tak ragu-ragu, mereka berani menjatuhkan siapapun yang ada di jalannya. Termasuk para petinggi negara bila perlu. Hal ini tentunya cukup disayangkan, terutama membayangkan imbasnya yang akan mempengaruhi hubungan antar sesama agama, ras, ataupun suku di suatu negara. Mereka yang dianggap “menyimpang” akan ketakutan, sementara badan yang berwenang berusaha menutup mata. Lengkap sudah, kehancuran sudah di depan mata bila hal tersebut akan berlanjut.

Baca juga:

Begitulah, 4 Penyebab Konflik Antar Agama yang bisa selalu terjadi. Tidak ada manusia yang sempurna, namun ada baiaknya jika dia berusaha menjadi orang yang baik. Bukan hanya dirinya, tapi untuk orang lain yang hidup bersamanya di dunia.

, ,
Post Date: Tuesday 29th, August 2017 / 08:56 Oleh :
Kategori : SARA