Sponsors Link

7 Penyebab Konflik Ambon

Sponsors Link

Indonesia negara kepulauan yang terdapat beragam suku, etnik, adat, ras, agama dan bahasa. Ada 300 lebih suku bangsa yang memiliki lebih dari 200 bahasa daerah yang menjadi identitas suatu suku bangsa yang satu dengan yang lainnya. Bahasa dan logat menjadikan ciri khas suatu individu di Indonesia untuk mengetahui latar belakang daerahnya.

ads

Bukan hanya itu, di Indonesia jugaterdapat beragam agama yaitu Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Oleh karena itu Indonesia memiliki sebutan negara pluralisme atau negara majemuk dengan keragaman budaya, agama dan bahasa. Meskipun memiliki banyak kemajemukan namun masyarakat Indonesia disatukan dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang dapat menyatukan seluruh perbedaan yang ada.

Baca juga:

Tetap saja negara ini rentan oleh konflik, karena latar belakang dan cara pandang yang berbeda, maka kesalapahaman sering muncul menjadi sumbu dari sebuah konflik yang ada. Salah satu konflik yang muncul di Indonesia adalah konflik Ambon, konflik yang dikenal sebagai konflik berdarah karena menewaskan hampir 5.000 nyawa dari tahun 1999 sampai 2002 dan mengungsikan sepertiga dari penduduk Maluku dan Maluku Utara.

Inilah 8 penyebab munculnya konflik Ambon!

Baca juga:

1. Premanisme

Awal  konflik Ambon bermula pada saat salah satu pemuda yang beragama Islam dengan keturunan bugis, meminta uang kepada pemuda yang beragama kristen berasal dari mardika, saat itu pemuda yang berasal dari mardika merupakan supir angkot. Ini terjadi di Terminal Batu Merah, pemuda keturunan Bugis itu memang sudah di kenal sebagai preman di kawasan tersebut. Karena sudah berkali-kali dimintai uang namun pemuda asal mardika tersebut tetap enggan memberi. Hingga ketiga kalinya tetap tidak memberi uang, keduanya tersulut amarah dan berakhirlah saling berkelahi dan adu pukul. Sampai pemuda asal mardika membawa parang untuk membunuh. Lalu berujung kejar-kejaran antara dua pemuda tersebut.

2. Perang Antar Desa

Preman beragamakan Islam itu lalu berkata pada warga jika akan dibunuh oleh orang kristen, tanpa berpikir panjang lantas warga geram dan menyerang desa mardika. Dengan membawa parang,tombak dan senjata tajam lainnya. Bukan hanya itu, warga juga sempat membakar ratusan rumah. Karena ada Gereja Silale yang ikut terbakar. Maka kampung-kampung disekitar kawasan merdika ikut kembali menyerang warga muslim. Akibat konflik yang dikarenakan isu SARA inilah warga terluka, ratusan rumah hancur dan terbakar, fasilitas-fasilitas umum hingga gereja. Merambat ke beberapa daerah hingga memporak-porandakan kota Ambon. Menyebabkan perpecahan antara daerah dengan kawasan Muslim dan daerah dengan kawasan Kristen.

3. Pemilu

Masuk juli 1999, suasana Ambon sudah mulai tenang hingga ketegangan pemilu memuncak di daerah Poka dan kemudian meluas di bagian lain di Ambon. Masyarakat semakin was-was dan akhirnya mensenjatai diri mereka dengan senjata senjata tajam seperti parang. Tragisnya, di Ambon hanya tersisa satu desa yang masyarakatnya masih tetap berbaur yaitu Wayame.

4. Kerusuhan Setelah Kunjungan Presiden.

Konflik bermula di Pulau Seram dan Pulau Buru. Saat itu warga yang telah sigap dan siap siaga. Setelah kunjungan Presiden dan Wakil Presiden ke Ambon. Kerusuhan memuncak dan memanas di berbagai wilayah di Ambon. Berakhir dengan hilangnya banyak nyawa warga dan ratusan warga yang terluka, kerugian akan kerusuhan di pertengahan awal Januari tahun 2000 ini bahkan tak terhingga. (Baca juga: penyebab konflik Qatar)

Sponsors Link

5. Adanya Gerakan Jihad

Sesaat setelah kondisi kota Ambon mereda, sedangkan upaya rekonsiliasi dilakukan di berbagai tempat.Namun kendati mereda, adanya gerakan Jihad yang berpusat di Yogyakarta, Jakarta, Bogor mulai meresahkan masyarakat Ambon terutama masyarakat non-muslim. Isu-isu tentang ancaman Jihad mulai muncul dan penolakan kedatangan Jihad muncul juga dari masyarakat Muslim di Ambon.Penolakan itu membuat keadaan Ambon yang mereda kembali memanas.

Setelah wakil presiden berkunjung di Ambon dalam acara SBJ, yang juga dihadiri oleh kelompok Milisia Batumerah yang beragama muslim dengan Kudamati yang beragama kristen, meyebabkan kerusuhan mulai merebak dan menjadi berkepanjangan.

6. Front Kedaulatan Maluku

Saat krisis di Ambon yang membuat pemerintah akhirnnya lepas tangan karena tidak sanggup lagi menangani konflik tersebut yang terus berkelanjutan. Hal ini membuat bangkitnya Front kedaulatan maluku yang merupakan pewaris dari RMS ( Republik Maluku Selatan ). Pemerintah menganggap bahwa Republik Rakyat Maluku makin memperkeruh suasana yang ada di Ambon saat itu.

RMS dibentuk 1950 dan mengadvokasi kaum separatis dari negara yang didominasi Muslim. RMS kemudian dianggap sebagai gerakan Kristen yang memperburuk dinamika konflik antar agama.

Keadaan makin memanas dan perpecahan antar umat beragama makin terlihat jelas. Kebencian kian memuncak membuat warga masyarakat harus siaga jika terjadi kerusuhan yang dapat mengakibatkan korban jiwa

7. Adanya Unsur Lain.

Konflik yang terjadi sebenarnya adalah kesalapahaman yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum oknnum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan kelompok tertentu. Konflik ini jika terus di analisa maka bukan hanya semata-mata karena konflik antar agama, yaitu islam dan kristen.

Faktor lain seperti ekonomi, sosial, dan politk juga menjadi penyebab konflik ini. Dilansir bahwa Ambon dulunya merupakan daerah dengan identitas kristen, yang menjadi agama mayoritas. Isu SARA yang mendasari konflik ini terjadi hingga berulang kali tak hanya meledak satu kali, namun terjadi sampai empat babak dan berhasil memporak porandakan Ambon, hingga berdampak pada kemiskinan dan kesengsaraan bagi warga Ambon.

Sponsors Link

Isu SARA ini bagai pemicu untuk mengadu domba dua kelompok besar dan menciptakan kerusuhan yang berkelanjutan. Jika ditinjau ke masalah atau akar dari konflik berdarah ini, sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan Agama. Hanya preman dan supir angkot yang bertikai sampai akhirnya perpecahan antara dua kubu yang merenggang banyak korban jiwa.

Dengan kerusuhan yang tak kunjung usai, sangat terlihat jika ada semacam provakator dalam konflik ini. Dibuktikan dengan beberapa fakta jika terdapat organisasi rapi yang menggerakkan masa untuk membuat kerusuhan. Apapun faktor dibalik konflik berdarah yang ada di Ambon, tetap saja konflik yang menyengsarakan warga ini dibalut dengan atas nama agama. Pertikaian antara kaum muslim dan kristiani. Berbagai cara telah dilakukan untuk negosiasi perdamaian antara dua kelompok namun kerusuhan mulai mereda kemudian memanas kembali.

Baca juga:

, ,
Post Date: Saturday 12th, August 2017 / 08:36 Oleh :
Kategori : SARA