Sponsors Link

4 Penyebab Konflik Antar Ras Suku Bangsa Di Dunia

Sponsors Link

Seperti yang kita tahu, Indonesia kaya akan nilai budaya dan keberagamannya mulai dari bahasa, tarian, seni budaya, dan juga sukunya. Banyak sekali jumlah suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keistimewaan dari suatu suku itulah yang melahirkan ras-ras seperti ras madura atau ras-ras campuran yang ada di Indonesia. Nah, pada awalnya ras-ras ini terlahir di Indonesia dan hidup bermasyarakat dengan rukun dan damai.

ads

Baca Juga:

Entah di mana mulanya, akhirnya konflik antar ras pun muncul di berbagai wilayah. Korbannya, bisa dipastikan kebanyakan adalah yang berasal dari warga sipil. Padahal belum tentu warga sipil ikut serta dalam konflik tersebut. Bisa saja mereka diserang membabi buta oleh pihak yang berseteru. Kerusakan material sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah totalnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah mengapa konflik ini bisa terjadi hanya dikarenakan perbedaan ras? Apakah konflik ini benar-benar terjadi murni hanya karena itu saja? Apakah ada keterkaitan dengan faktor-faktor lainnya? Mari kita simak bersama Penyebab Konflik Antar Ras berikut:

1. “Kepanikan” Budaya

Panik di sini berarti ada suatu rasa terkejut dari ras tertentu apabila ras lainnya yang notabene dekat, memiliki kebudayaan yang berbeda. Budaya ini bisa berbentuk macam-macam mulai dari tingkah laku sampai dengan fashion yang digunakan sehari-hari. Nah, perbedaan-perbedaan tersebut merupakan suatu yang indah bukan? Menyaksikan keragaman budaya dalam suatu daerah merupakan kekayaan tersendiri yang patut disyukuri. Namun, bagi pihak yang “kaget” akan budaya baru yang dibawa oleh ras tertentu, akan merasa bahwa budayanya terinjak-injak oleh budaya lain yang menurut dia lebih jelek.

Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena belum tentu budaya lain seluruhnya negatif. Namun dengan prasangka buruk tadi, maka timbullah rasa tidak sesuai yang lahir dari dalam diri, dan berusaha untuk menghimbau ras lain untuk tidak melakukan budayanya lagi. Hal ini tentunya merupakan tekanan untuk ras tersebut, karena toh mereka melakukan hal yang turun temurun dilakukan, apa salahnya bila meneruskan budaya yang lahir sejak jaman dahulu. Lalu dari rasa saling tidak terima itu lah, usaha kompromi malah berujung menjadi konflik antar ras. Konflik di sini bukan hanya berbentuk perkelahian, namun juga bisa berbentuk hinaan kepada ras-ras tertentu yang banyak sekali kita jumpai di sosial media.

2. Tidak Suka Adanya Perbedaan

Kita sejak kecil lahir di keluarga dan masyarakat yang selalu dekat dengan kita. Tiap hari kita belajar bagaimana masyarakat kita bertingkah laku, bagaimana masyarakat bercengkrama dan melakukan aktifitasnya sehari-hari. Kita belajar untuk mengetahui identitas kita. Pada suatu hari, suatu ras datang untuk mengungsi di tempat kita tinggal. Lalu apa yang harus kita lakukan? Membenci atau menerima? Pertanyaan itulah yang akan menimbulkan dua jawaban, ya dan tidak. Ya, kita menerima dengan pengecualian sifat-sifat buruk mereka, yang seharusnya tidak mereka lakukan. Kita menerima perbedaan mereka.

Selain jawaban ya, adapula jawaban tidak. Tidak, kita tidak akan menerima perbedaan itu. Nah, jawaban inilah yang berpotensi menimbulkan konflik, walaupun kecil bentuknya. Tapi jangan salah, dari kebencian yang kecil itu, nantinya akan berkembang menjadi rasa tidak suka yang semakin besar. Lebih seram lagi, bila kita sudah terlanjur menjadi sangat tidak suka, yang ada di pikiran kita hanyalah cara untuk menyingkirkan mereka. Padahal belum tentu mereka tahu apa kesalahan mereka. Mereka hanya berbeda, ada perbedaan antara mereka dengan kita. Tapi kita sama-sama manusia, bukankah itulah hal yang penting?

Sponsors Link

Baca juga:

3. Tidak Adanya Rasa Memaklumi / Toleransi

Memaklumi di sini bukan berarti bahwa memaklumi bahwa kita membenci mereka karena mereka berbeda, namun adalah memaklumi perbedaan itu sendiri. Dengan pikiran terbuka, kita bisa mengetahui apakah perbedaan dari mereka itu yang membedakan dengan kita. Dengan mengetahui latar belakangnya, kita bisa belajar banyak mengapa mereka bisa berbeda dengan kita. Bagaimana mereka berjuang dengan perbedaannya. Lalu, dengan dibumbui rasa simpatik tadi, kita akan belajar cara memaklumi sebuat perbedaan. Kita bisa melihat sebuah perbedaan tadi adalah suatu keistimewaan.

Namun sayangnya, hal tersebut nampaknya belum bisa diaplikasikan ke masyarakat luas. Buktinya, masih saja banyak masyarakat yang “triggered” dengan hal yang menurut mereka berbeda. Hal serupa dapat kita jumpai di berbagai sosial media. Mereka sangat menjamur di sana.

4. Rasisme yang Masih Marak

Entah bagaimana mulanya, kebiasaan kita di waktu kecil untuk mengejek orang lain masih saja diaplikasikan sampai dewasa. Hal ini sungguh mengecewakan, mengingat tingkat rasisme yang tinggi dapat ditemukan pada rentan usia remaja sampai dewasa, yang notabene (kebanyakan) sudah matang pikirannya. Sebutan-sebutan merendahkan untuk suatu ras masih saja diomongkan. Walaupun memang tujuan awalnya untuk bercanda, namun tidak setiap orang memiliki tingkat kesabaran yang sama. Ada orang yang terluka hatinya saat anda panggil dengan sebutan yang kurang menyenangkan, walaupun kita tidak ada maksud sedikitpun untuk melukai.

Sponsors Link

Mungkin bagi orang yang sabar, dia bisa menerima “hinaan” itu dengan senyuman, menganggapnya hanya candaan saja. Namun bila bagi seseorang yang tidak terima akan panggilan tadi, bisa saja dia melakukan tindakan lain yang kurang bagus juga, “mengatai” balik dengan emosi misalnya. Lalu kedua ras tadi saling menghina satu sama lain. Awalnya bercanda, lama kelamaan makin serius. Akhirnya konflik merambat ke sosial media, dimana netizen bisa memilih siapa yang harus di bela, dan mengatai pihak yang tidak disukai. Semua sama saja. Dari candaan, berubah menjadi permusuhan.

Baca juga:

Nah, itulah 4 hal kenapa Penyebab Konflik Antar Ras masih dapat kita temukan. Agak mustahil memang untuk benar-benar menghentikan konflik antar ras, tapi apa salahnya jika kita sebagai salah satu pihak melakukan hal yang baik. Apa salahnya kita menghargai perbedaan orang lain. Apa salahnya kita berteman dengan orang-orang yang sedikit berbeda dengan kita. Tentu tidak ada yang salah dengan itu, sebaiknya malah membahagiakan. Kita bisa tahu cerita-cerita dari orang-orang yang berbeda. Pengalaman-pengalaman hidup mereka dapat kita jadikan pelajaran untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik kedepannya. Indahnya perbedaan.

Baca juga:

,
Post Date: Wednesday 30th, August 2017 / 09:15 Oleh :
Kategori : SARA