Sponsors Link

3 Penyebab Konflik Poso Sulawesi Tengah

Sponsors Link

Yang namanya konflik pasti tidak ada seorang pun yang menginginkannya, namun naas sebagai manusia kadang kita gampang terpacu pada hal-hal kecil yang ada di kehidupan. Maka dari itu, tidak jarang kita dapat jumpai konflik di sekitar kita, entah itu konflik pribadi atau kelompok. Juga, tidak jarang segala hal-hal dalam kehidupan dijadikan alasan, bahkan agama sekalipun. Padahal, sudah pasti tidak ada agama satu pun yang mengajarkan tentang cara bertentangan dan bermusuhan. Salah siapa? Sudah pasti diri kita sendiri.

ads

Baca juga:

Agama memang sepertinya menjadi faktor untuk memulai permusuhan, bagi pihak yang kurang toleransi. Banyak sekali kita dapat temukan berbagai konflik yang semestinya tidak perlu terjadi, di Indonesia kita tercinta ini. Salah satunya adalah konflik Poso, pertentangan antara masyarakat muslim dan kristen. Walaupun konflik tersebut sudah pecah sejak 1998 dulu, namun sampai sekarang masih belum ada solusi yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Buktinya, sampai sekarang masih banyak ditemukan konflik-konflik kecil di Poso, walaupun skalanya tidak lebih besar dari yang dulu.

Banyak dari kita bertanya-tanya, mengapa konflik di Poso ini harus terjadi? Berikut ini Penyebab Konflik Poso:

1. Agama

Tidak diragukan lagi, Poso dulunya memiliki mayoritas masyarakat yang menganut agama Islam. Namun sejak bersatunya beberapa daerah bergabung dalam rangka pemekaran poso, agam kristenlah yang menjadi dominan. Bukan hanya agama kristen saja, agama yang berada dalam suku-suku juga ada. Perbedaan agama yang signifikan inilah yang membuat ketidak cocokan antara masyarakat satu dengan lainnya. Didukung dengan rasa kurang toleransi, konflik pun dapat dengan mudah terjadi. Agama juga dijadikan alasan untuk menghancurkan masyarakat lain yang memiliki konflik pribadi dengan masyarakat tertentu, apalagi juga dengan perbedaan kepentingan yang membuat mereka dibutakan oleh amarah dan akhirnya berujung dengan tumpah darah.

Sebetulnya, konflik sudah ada jauh sebelum tahun 1998, yaitu pada saat 1992 dimana ada seorang pemuda kristen bernama Roy Rantu yang melakukan pembacokan kepada Ahmad Riwan, salah satu pemoda Islam di Poso. Aksi ini tentunya membuat orang Islam di Poso marah, dan mengajukan protes terhadap tindakan orang kristen yang dianggap meresahkan warga dan merugikan masyarakat luas. Hal itulah yang menyebabkan aksi balas dendam dari beberapa warga kristen yang akhirnya melakukan pengrusakan dengan melempari batu ke beberapa masjid di Poso. Mereka tidak terima lantaran agama mereka dianggap jelek dan tidak baik. Namun, ternyata konflik tidak berhenti di situ saja, pihak islam juga melakukan aksi balas dendam. Aksi terjadi pada 1995 dimana 3 rumah orang kristen dirusak oleh pemuda Islam, lantaran mereka juga tidak terima perlakuan keji masyarakat kristen dulu. Konflik ini terus berlanjut dan tidak berhenti dikarenakan rasa tidak terima berkepanjangan. Tidak ada pihak yang mengalah, tidak ada yang sabar menerima kenyataan. Semua pihak harus melakukan perlawanan, setidaknya itulah yang ada di pikiran mereka.

2. Politik

Bukan hanya agama, berbagai faktor kemanusiaan manusia seperti politik menjadi salah satu Penyebab Konflik Poso. Seperti yang kita tahu, politik tidakhanya dipenuhi oleh berbagai cara seseorang untuk menang dengan jalan kebijaksanaan dan faktor kepemimpinan saja, tapi ada beragam cara yang busuk di dalamnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab bernama Herman Parimo yang menjadi tersangka karena meletusnya kerusuhan Poso 1. Penyerangan ini dilakukan untuk membuat Poso “damai” kembali, melalui jalan yang tidak damai. Segala musuh disingkirkan demi memenangkan si calon agar tidak ada lagi calon lain yang berani untuk menyaingi. Cara yang dilakukan tadi berbuah menjadi konflik yang amat besar, dengan diprovokasi manusia yang tidak bertanggung jawab. Kemungkinan terjadi, dalang dari konflik ini berujung pada DPRD tingkat 1 Poso, mengapa? Karena adanya ancaman yang berada dalam surat kabar yang isinya apabila Damsyik Jaelani tidak diangkat, maka akan timbul kerusuhan Poso 2 yang lebih dahsyat dari kerusuhan Poso 1. Semua itu masih menjadi bayang-bayang,siapakah sebenarnya oknum di DPRD yang mengeluarkan ancaman itu. Apakah itu semua keinginan dari DPRD sendiri, atau memang ada oknum jelek yang sedang bersarang di DPRD itu sendiri? Kita tidak tahu.

Sponsors Link

Baca juga:

3. Penegak Hukum yang Tidak Adil

Selain dua faktor di atas, ada satu lagi sekaligus faktor yang terakhir adalah dari aparat hukumnya di sini. Bukan karena malas menegakkan hukum, tapi kepada hukuman yang diberikan kepada pelaku. Sikap Simpati nampaknya sudah lenyap, yang tinggal hanyalah kebencian terhadap masyarakat itu sendiri. Tindakan yang keji kerap dilakukan hanya untuk sekedar menghukum para pelaku supaya jera. Padahal tidak. Apalagi sewaktu penggeledahan, yang berhasil menemukan berbagai senjata milik masyarakat. Aparat yang berwajib, langsung menghukum mereka tanpa ampun. Semua pelaku kejahatan dihukum rata, tidak memandang pelanggaran itu berat atau ringan. Semua masyarakat yang entah bersalah atau tidak, mendapatkan hukuman berat yang sama. Satu sama dengan lainnya. Karena inilah, masyarakat menganggap bahwa penegak hukum tidak ada lagi. Yang ada cuman penghukum saja. Tidak ada hukum yang ditegakkan. Masyarakatpun menderita tanpa alasan yang jelas. Karena hal itulah, daripada bersusah-susah berurusan dengan penegak hukum yang dinggap  tidak benar itulah, bila ada konflik di daerah seperti Poso, mereka berusahan menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Mereka sendirilah yang turun tangan. Jadilah, mereka menggunakan apa yang mereka anggap “benar” dalam menyelesaikan masalah. Padahal, solusi mereka juga berujung konflik.

Sponsors Link

Baca juga:

Itulah, ketiga faktor penyebab pecahnya perang di Poso. Seperti yang kita lihat, konflik di Poso ini termasuk konflik yang kompleks, dan agak rumit untuk diketahui apa sebenarnya penyebab dari semua ini. Ada faktor dibelakang faktor, jadinya perlu diteliti kembali ke valid an faktor itu. Walaupun begitu, secara garis besar kita bisa menyimpulkan bahwa konflik ini terjadi karena adanya oknum yang jahat membuat masalah dengan memecah belah masyarakat. Enath siapapun itu, yang jelas konflik ini sampai saat ini terus berlanjut. Untuk itulah, masyarakat perlu sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu sia-sisa, dan hanya membuang tenaga saja. Di lain sisi, penegak hukum juga harus diperbaharui etika dan sistemnya agar menjadi pelayan masyarakat yang baik dan terhormat.

, ,
Post Date: Tuesday 15th, August 2017 / 10:23 Oleh :
Kategori : SARA