Tokoh-tokoh dalam Perang Aceh yang Perlu Diketahui

Perang Aceh mungkin tidak asing bagi pelajar yang sedang mempelajari pelajaran sejarah, atau para orang tua yang masih mengalami peperangan dan penjajahan di masa kolonial belanda dulu. Ya, Aceh memang merupakan bagian negara Indonesia yang sangat kental agamanya, dan masyarakatnya memiliki keberanian yang cukup tinggi untuk melindungi wilayahnya dari para penjajah. Penyebab perang Aceh dimulai pada tahun 1871 saat ditandatanganinya Taktrat Sumatera. Isi perjanjian tersebut menyatakan bahwa Belanda diberikan kebebasan oleh Inggris untuk memperluas wilayah kekuasaannya di Aceh, sementara Inggris bebas berdagang di Siak.

Keputusan tersebut membuat masyarakat Aceh marah sehingga mulai muncul perlawanan terhadap Belanda. Mereka menolak untuk berada di bawah pemerintahan atau kekuasaan Belanda, dan sejak itulah Belanda menyatakan perang kepada rakyat Aceh. Perang Aceh pun berlangsung sangat lama, dengan jumlah korban yang berjatuhan yang sudah tidak terhitung, termasuk di antaranya para pahlawan Aceh yang terkenal dengan semangat juangnya yang tinggi. Adapun tokoh-tokoh dalam perang Aceh yang perannya cukup penting pada masa itu adalah sebagai berikut.

1. Teuku Umar

Teuku Umar merupakan pahlawan Aceh yang mencetuskan perlawanan terhadap invasi kolonial Belanda ke wilayah Aceh. Beliar lahir di Meulaboh pada tahun 1854, dan meninggal tanggal 11 Februari 1899 karena tertembak pada pertempuran yang terjadi dinihari. Beliau merupakan suami dari Cut Nyak Dhien dan pada saat peperangan tersebut berlangsung beliau beradah dibawah kepemimpinan panglima Teuku Cik Ditiro.

2. Teuku Cik Ditiro

Beliau lahir pada tahun 1836 yang memiliki nama kecil yaitu Muhammad Saman. Teuku Cik Ditiro merupakan pahlawan Aceh yang sangat tangguh dan angkatan perang Sabilya yang dipimpinnya telah berhasil merebut beberapa wilayah dari tangan musuh. Teuku Cik Ditiro meninggal di tahun 1891 karena memakan makanan yang yang telah diberi racun oleh seorang wanita.

3. Cut Nyak Dhien

Pahlawan wanita satu ini merupakan sosok yang memberikan inspirasi bagi kaum wanita hingga sekarang ini. Meski seorang wanita, beliau tetap mampu berjuang untuk membela tanah airnya dari penjajahan Belanda. Wanita yang lahir di Aceh tahun 1848 ini meneruskan perjuangan suaminya Teuku Umar yang meninggal dalam pertempuran. Beliau aktif melakukan perlawanan di pedalaman Meulaboh, namun pada akhirnya beliau tertangkap pihak belanda. Beliau diasingkan ke Sumedang hingga akhir hayatnya.

4. Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh utara pada tahun 1870. Sama seperti Cut Nyak Dhien, beliau juga sangat aktif dalam gerakan perlawanan terhadap serbuan kolonial Belanda yang serakah akan wilayah kekuasaan. Cut Meutia wafat pada tanggal 24 Oktober 1910 di Aceh.

5. Teuku Nyak Arief

Teuku Nyak Arief lahir pada tanggal 17 Juli 1899 di Banda Aceh. Beliau merupakan orator ulung yang gencar melakukan gerakan bawah tanah sejak usia muda. Teuku Nyak Arief juga rela mengorbankan harta bendanya untuk membiayai kebutuhan selama terjadi peperangan. Dengan semangat juang yang tinggi beliau banyak melakukan gerakan di bidang politik dan pendidikan hingga membantu anak tidak mampu yang cerdas untuk mengenyam pendidikan. Pada 3 Oktober 1945 pemerintah mengangkat Teuku Nyak Arief sebagai residen Aceh (sekarang setara dengan Gubernur), dan beliau wafat pada tanggal 4 Mei 1946.

6. Teuku Muhammad Hasan

Tokoh Aceh lainnya yang juga memberikan kontribusi saat perang Aceh adalah Teuku Muhammad Hasan. Beliau lahir di Pidie, Aceh pada 4 April 1906. Beliau merupakan pejuang kemerdekaan indonesia dan menjadi gubernur Sumatera utara yang pertama setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan. Teuku Muhammad Hasan menempuh pendidikan di Belanda, dan saat pulang ke tanah air beliau aktif bergerak di berbagai bidang terutama bidang pendidikan. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 21 September 1997.

7. Sultan Iskandar Muda

Meski tidak berhubungan dengan konflik atau perang Aceh yang pecah setelah Taktrat Sumatera ditandatangani, Sultan Iskandar Muda juga termasuk tokoh Aceh yang jasanya cukup banyak untuk tanah kelahirannya tersebut. Sultan Iskandar Muda lahir tahun 1593 di Banda Aceh, dan beliau merupakan sultan yang paling besar dalam masa kesultanan Aceh. Masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda berlangsung sejak 1607 hingga 1636, dimana pada masa itu Aceh mencapai puncak kejayaannya.

[AdSense-B]

Kesultanan yang dipimpin olehnya terkenal hingga dunia internasional, sebagai pusat perdagangan dan pembelajaran agama Islam. Perjuangannya dalam melindungi rakyatnya pun tidak main-main hingga beliau begitu disegani. Nama beliau pun dijadikan sebagai nama bandara yaitu bandar udara internasional Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh.

Perang Aceh memang telah menjadi penyebab konflik sosial yang cukup besar sepanjang sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan pihak penjajah. Sama halnya dengan penyebab konflik Poso, penyebab konflik Papua dan penyebab Konflik Maluku, perang Aceh pun menelan banyak korban yang tidak berdosa. Namun perjuangan para tokoh Aceh tersebut tidak sia-sia karena perlawanan mereka pada akhirnya mendapatkan hasil seperti yang diharapkan dan pihak penjajah bisa mundur dari Indonesia dan kemerdekaan diraih dengan pengorbanan darah dan nyawa.