Tokoh-tokoh Dalam Perang Aceh yang Amat Berjasa

Terlepas dari peperangan yang terjadi di Indonesia pada era modern ini, seperti konflik akibat dari penyebab konflik Poso, penyebab konflik Ambon, dan juga perlawanan Aceh terhadap Portugis, bangsa kita juga pernah memiliki kesempatan untuk bisa melawan bangsa lain, yakni bangsa yang pernah menjajah kita, salah satunya Portugis. Kita bisa menemukan berbagai pertarungan sengit yang juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia, yang mana sudah banyak kita ketahui di pelajaran sejarah di sekolah. Akibat dari pembelajaran tersebut, setidaknya para generasi muda sudah mendapat bekal ilmu bahwa pada jaman dahulu perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah sebuah pemberian yang seharusnya kita syukuri.

Ada berbagai contoh perlawan daerah di Indonesia, seperti pada penyebab perang Padri pecah dan juga latar belakang perang Banjar. Ada juga peperangan yang pernah terjadi di Bandung, penyebab Pertempuran Bandung Lautan Api. Perang-perang tersebut juga ikut menyertakan berbagai nama-nama penting di dalamnya, seperti pada topik yang akan kita bahsa kali ini. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai segala akibat yang timbul dari perang Aceh melawan Portugis. Namun kali ini, kita akan kembali menuju topik tersebut, namun membahas mengenai siapa saja yang terkait dalam perlawanan tersebut. Tentunya anda sudah tidak asing dengan nama-nama berikut ini :

1. Tengku Cik Ditiro

Kita telah membahas mengenai tokoh-tokoh dalam Perang Aceh, yang sudah ditelusuri sebelumnya. Sekarang, kita akan melakukan pembaruan dari artikel tersebut ke dalam versi kali ini, 7 tokoh-tokoh yang sangat memiliki peran penting dalam perang Aceh. Yang pertama adalah tengku Cik Ditiro. Beliau lahir dengan nama Muhammad Saman pada 1836 di bulan Mei. Cik Ditiro merupakan salah satu panglima besar dalam peperangan di Aceh, yang berjuang melawan Belanda pada saat ia datang ke Aceh. Bertolak dari Lamlo, ia berangkat menuju Aceh Besar ke desa Meureu utnuk menjadikan base terbesar untuk para gerilyawan.

Beliau merupakanseorang yang cerdik dan susah untuk dikalahkan. Belanda sempat dibuat bingng dengan segala teknik yang digunakan, sehingga gubernur Belanda saat kitu sempat mengalami pergantian sebanyak 4 kali, untu mengganti seseorang yang lebih cerdas untuk bisa mengalahkan Tengku Cik Ditiro. Dengan perjuanganya yang khas, yakni perang sabililah, yakni perang melawan penjajah di jalan Allah. Meskipun Tengku Cik Ditiro, merupakans eorang yang bijak dan cerdas, namun akhirnya perjuangan beliau berakhir akibat dari strategi Belanda yang terakhir, yakni dengan menggunakan pihak Aceh sendiri, yakni seorang perempuan untuk membawakan makanan yang sudah dicampuri racun untuk beliau. Alhasil, beliau akhirnya jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1891.

2. Cut Nyak Dien

Salah satu pejuang bangsa, seorang wanita yang bisa dibilang memiliki personel militer terbaik di dunia pada jaman dahulu yaitu Cut Nyak Dien. Tentunya banyak dari kita yang sudah tidak asing dengan nama itu. Waita pemberani ini merupakan istri dari salah satu pejuang Aceh yang juga kita sematkan dalam daftar ini, yani Teuku Umar. Sepeninggalnya Teuku Umar, Cut Nyak Dien tidak begitu saja menyerah, namun justru melanjutkan perjuangan suaminya untuk memberikan bantuan dan semangat pada para gerilyawan.

[AdSense-B]

Melihat kehadira Cut Nyak Dien cukup berbahaya bagi pemerintahan Belanda, akhirnya ia diasingkan ke daerah Sumedang, Jawa Barat. Padahal beliau saat itu sudah berumur tua renta dan menderta rabut. Tak berapa lama kemudian, beliau akhirnya meninggal di tanah Sumedang dan dimakamkan di sana pada tahun 1908. 50 Tahun kemudian, beliau diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Indonesia atas jasa-jasa dan semangat perjuangannya yang luar biasa.

[AdSense-A] 3. Teuku Umar

Selanjutnya adalah Teukur Umar. Tokoh ini merupakan salah satu tokoh yang berjasa sama seperti tokoh konflik Yugoslavia. Beliau adalah suami dari Cut Nyak Dien. Teuku Umar merpakan salah atu pemimpin di bawah perintah dari Teuku Cik Ditiro,panglima besar perlawanan Aceh. Pada awalanya, beliau meyusup ke Belanda, entah itu untuk mengetahui strategi nya, padaha; sebelumnya Teuku Umar bisa dibilang dekat dengan Belanda. Dari situlah beberapa prasangkan muncul.termasuk desakan istrinya yang memaksa Teuku Umar untuk kembali melawan Belanda. Beliau lah yang juga merupakan salah satu pencetus perang Aceh ini.

Namun, sebagaibagian dari strategi, Teuku Umar kembali menyerahkan dirinya kepada Belanda pada 1893, bersama dengan perngikutnya. K lama setelah itu, Teuku Umar melarikan diri dari sana dengan membawberbagai senjata beserta amunisinya, dibantu oleh para pengikutnya tentunya. Hal itu akhirnya dapat difunakan oleh rakyat Aceh kembali untuk bsia melakukan perlawanan dengan optimal, dengan dibantuoleh berbagai persenjataan. Namun sayangnya, beliau tewas tertembak pada tahun 1899 dalam salah satu pertempuran. Kemudian beliau beserta Teuku Cik Ditiro dinobatkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 1973.

4. Cut Nyak Meutia

Pahlawan wanita selanjutnya adalah Cut ak Meutia, yang lahir pada 1870 di Keuerutoe, Aceh Utara. Cut Nyak Meutia juga ikut serta melanjutkan perjuangan suami-suaminya yang telah gugur. Beliau pernah menikah sebanyak dua kali, yang pertama dengan salah satu pemimpn pasukan gerilyawan, yakni Tengku Cik Tunong, lalu menikah kedua kalinya setelah suaminya meninggal, dan kali ini dengan Pang Naggroe.

Sayangnya pernikahan mereka harus berakhir ketika Pang Naggroe meninggal dunia pada 1910. Setelah itu, Cut Nyak Meutia yang kemudian melanjutkan perjuangan suaminya untuk memperoleh kemenangan agi rajyat Aceh. Pada tahun yang sama, sebulan kemudain paskan Cut Nyak Meutia sempat berkonflik dengan Marsose. Pertikaian tersebut akhirnya menewaskan Cut Nyak Meutia.  Akhirnya, pad 1964,Cu Nyak Meutia beserta Cut Nyak Dien diber gelar pahlawan nasional hampir bersamaan.

5. Teuku Nyak Arif

Kemudian ada salah satu pahlawan nasional dna juga merupakan seorang orator yang amat handal, yakni Teuku Nyak Arif. Beliau juga merupakan gubernur Aceh yang pertama, yang menjabat sekitar tahun 1945 sampai dengan 1946. Beliau merupakan seseorang yang membenci adanya perpecahan seperti penyebab konflik Aceh, apalagi perpecahan tersebut terjadi karena berbagai sebab di bangsa sendiri. Satu contoh pad perang antara para ulama dengan kaum Ulebalang, yang manaperang ini terkenal dengan nama Perang Cumbok.

Teuku Nyak Arif yang sangat tidak menginginka peperangan ini terjadi, dan juga sudah berhasil mendeteksi berbagai ciri ciri agresi militer dilanda kebingungan, padahal yang ia hanya inginkan adalah perdamaian. Namun, langkah tidak mendukung tersebut diaggap sebagai langkah awal penghianatan oleh kamu muda di PUSA. Akhirnya, pada 1946 beliau ditangkap oleh Tentara Perlawana Rakyat yang ana juga mendukung ulama dan akhirnya ditawan di Takengon. Tak lama kemudian, beliau pun meninggal di sana. Beliau memberikan pesan terakhir pada keluarga, yang mana juga bisa kita jadikan pelajaran, yakni jangan sampai menaruh dendam, karena kepentingan rakyat adalah ha penting yang harus berada di atas segala-galanya.

[AdSense-C]

Tokoh-tokoh tadi menutup perjumpaan kita kali ini. Kita dapat memetik pelajaran-pelajaran yang amat berharga dari sana. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bisa mengelak dari segala bentuk penyebab konflik Sara yang memecah belah bangsa. Sudah cukup sepertinya konflik akibat dari penyebab konflik antar suku dan juga penyebab konflik antar agama. Sudah saatnya kita berubah lebih laik lagi. Mari kita lakukan pengendalian konflik sosial yang lebih baik.