Sponsors Link

Latar Belakang Perang Banjar Terhadap Belanda Secara Singkat

Sponsors Link

Perang Banjar terjadi di ibu kota Kalimantan Selatan, yaitu Banjarmasin, yang disingkat menjadi Banjar. Perang Banjar terjadi pada tahun 1859 – 1905. Kerajaan Banjar sendiri berdiri sesuai dengan ajaran agama hindu.

ads

Secara garis besar, perang ini didasari oleh keinginan Belanda untuk ikut camput dan andil dalam Kesultanan Kalimantan Selatan dan ingin memporak porandakan jabatan dalam Kerajaan itu sendiri. Hal lain yang memicu terjadinya perang ini adalah, adanya aset-aset penting di Kalimantan Selatan yang ingin Belanda kuasai, seperti perkebunan dan pertambangan batubara.

Perang ini dipimpin oleh dua pahlawan yang sudah mahsyur dan sering kita dengar namanya, yaitu Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari. Namun demikian, masih sangat banyak pahlawan yang berperan besar dalam perang ini namun namanya tidak kita sebutkan satu-persatu. Akibat Perang Banjar ini sendiri juga dapat kita pelajari dengan seksama.

Strategi Perang Banjar Melawan Belanda

Strategi yang selalu berhasil melawan Belanda dinamakan strategi Gerilya. Strategi ini adalah siasat yang selalu digunakan di masa paska Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1950-an. Taktik perang ini membutuhkan ketrampilan dan siasat yang sangat matang dan kerjasama kelompok yang sangat tinggi. Siasat ini digunakan untuk melumpuhkan musuh dalam jumlah yang besar, dengan cara menipu, mengepung, mengelabuhi dan melakukan serangan ketika musuh sedang lengah dalam keadaan secepat kilat.

Siasat ini sangat terkenal dan banyak dipakai oleh tokoh besar pahlawan Indonesia, seperti A.H Nasution yang dengan khusus menulis buku mengenai “Pokok-Pokok Gerilya” , dan Jendral Soedirman yang berhasil membuat Belanda diujung tombak pada saat yang bersangkutan.

 Sebab Terjadinya Perang Banjar

  1. Belanda yang mulai menguasai berbagai macam perkebunan dan pertambangan di wilayah Kalimantan Selatan

Banyaknya kekayaan alam yang berada di wilayah daerah Kalimantan Selatan nampaknya membuat Belanda gelap mata dan menginginkan andil yang begitu besar pada hasil-hasil perkebunan dan pertambangan yang berlimpah itu. Beberapa hasil pertambangan dan perkebunan termasuk batubara, intan, emas, lada, rotan, damar serta rempah-rempah lain yang sangat berarti bagi kemajuan dan keberlangsungan Kerajaan Kesultanan Banjar.

Tidak hanya Belanda, banyak negara Eropa yang ingin menguasai Kerajaan Bandar. Selain ingin mendapatkan banyak andil dari hasil perkebunan dan pertambangan, Belanda pada dasarnya ingin menjadi penguasa di Kalimantan Selatan itu sendiri. Kekayaan alam yang dicuri juga menjadi salah satu penyebab Konflik Papua.

  1. Turut campur Belanda dalam Kerajaan Banjar dan posisi jabatan kesultanan

Jika kita perhatikan, Belanda selalu melakukan hal yang sama apabila ingin menguasai dan menduduki satu wilayah. Belanda akan masuk ke dalam lingkaran politik Kesultanan Kerajaan, memberikan janji-janji palsu berupa wilayah dan jabatan, kemudian siasat yang selalu berhasil adalah siasat adu domba diantara para pejabat-pejabat Kesultanan.

Raja yang dekat dengan Belanda pada jaman tersebut adalah Raja Sulaiman, dengan janji manis yang Belanda janjikan Raja Sulaiman memberikan banyak daerah Kalimantas Selatan ke tangan Belanda yang membuat pihak Belanda semakin mejadi-jadi.

Sponsors Link

Beberapa wilayah tersebut adalah Dayak, Sintang, Bakumpai, Tanah Laut, Mundawai, Kotawaringin, Lawai, Jalai, Pigatan, Pasir Kutai dan Beran. Dengan berkuasanya Belanda di banyak wilayah di Kalimantan Selatan, membuat resah para warga sekitar baik dari psikologis dan juga dari banyaknya masalah sosial dan ekonomi yang terpengaruh.

Taktik Belanda dalam memasuki jabatan kesultanan Keraton dimulai dengan wafatnya Putra Mahkota Abdul Rakhman pada tahun 1952 M. Putra Mahkota Abdul Rakhman sendiri memiliki 3 orang putra, dan Belanda mulai mengadu domba ketiga putra ini. Ketiga putra dari Putra Mahkota Abdul Rahman adalah :

  • Pangeran Hidayatullah – Mendapat dukungan karena menjadi pewaris sesuai dengan surat wasiat Putra Mahkota Abdul Rakhman
  • Pangeran Tamdjidillah – Mendapat dukungan dari Belanda
  • Pangeran Prabu Anom – Mendapat dukungan menjadi Mangkubumi Kalimantan Selatan, sesuai dengan isi wasiat sang Ayahanda.

Campur Tangan Belanda dalam Jabatan Kesultanan

Setelah kita pahami, apa wasiat jabatan Kesultanan Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan oleh Putra Mahkota Abdul Rakhman, kita tentu akan mengira semua akan berjalan sesuai dengan apa yang diamanahkah. Namun karena Belanda memiliki agenda tersediri, perwakilan Belanda yang bernama E.F Graaf Von melantik Pangeran Tamdjidillah menjadi Sultan di Kerajaan Banjar.

ads

Ada hal-hal yang telah dipertimbangkan oleh Putra Mahkota Abdul Rakhman untuk tidak mengangkat Pangeran Tamdjidillah menjadi Sultan, misalkan karena karakter dan kebiasaan sang pangeran yang dirasa kurang pantas menjabat menjadi seorang Sultan. Pangeran Tamdjidillah terkenal sangat suka dengan minuman keras, judi dan kebiasaan buruk lain yang saling berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Pengangkatan sepihak Pangeran Tamdjidillah oleh Belanda membuat rakyat risau, belum lagi Belanda membuang Prabu Anom yang tadinya diwasiatkan menjadi Mangkubumi ke Bandung, Jawa Barat. Pangeran Hidayatullah akhirnya menjadi Mangkubumi di Kesultanan Banjar, dengan syarat pemberian konsesi tambang batu bara kepada pihak Hindia Belanda.

Banyaknya konflik yang sengaja dihembuskan oleh Belanda untuk mendapatkan keinginannya membuat keadaan Kesultanan Porak Poranda. Belanda memberikan bukti-bukti dengan cara menghasut dan memutar balikkan fakta untuk seolah-olah membantu pihak Kerajaan, namun malah yang terjadi adalah sebaliknya.

Siasat Belanda ini membuat geram baik di kalangan kerabat Istana maupun di rakyat jelata, khususnya pada kasus terdesaknya posisi Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi. Singkat cerita, kedua pangeran, Pangeran Hidayatullah dan sepupunya yang bernama Pangeran Antasari akhirnya memimpin pemberontakan terhadap Belanda dengan menyerang tambang batu bara Belanda yang terletak di Pengaron.

Meskipun Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan hak-haknya sampai akhir hayat, pada tahun 1860, jabatan Mangkubumi Pangeran Hidayatullah telah resmi dihapuskan dan adanya pengumuman penghapusan kesultanan Banjar

 Tokoh dan Perannya dalam Perang Banjar

  • Tokoh Indonesia
    • Pangeran Hidayatullah
    • Pangeran Antasari
    • Tumenggung Surapati
    • Aling
    • Demang Lehman
    • Panglima Bukhari
    • Tumenggung Jalil
    • Aling
    • Panembahan Muhammad Said
    • Panglima Batur
  • Tokoh Belanda
    • Augustus Johannes Andresen
    • George Frederik Willem Borek
    • Karel Cornelis Bunnik
    • P Cavalje
    • P.H van Ham
    • Karel van der Heijden
    • Christian Antoon Jeekel
    • L Killian
    • Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel
    • Evert Willem Pfeifer

Tujuan Belanda untuk menghancurkan Kerajaan Banjar terlaksana dengan membuat Sultan Tamjidillah menjadi kambing hitam, dengan mengatasnamakan kericuhan dan porak porandac yang terjadi di Kerajaan terebut. Pada tanggal 11 Juni 1860, Belanda akhirnya dapat menduduki Kalimantan Selatan secara sepenuhnya dan memasukkan segala aset yang ada ke dalam kekuasaannya. Latar belakang Perang Banjar sangat berbeda dengan penyebab konflik Ambon yang lebih kepada konflik internal.

,
Post Date: Friday 29th, December 2017 / 06:01 Oleh :
Kategori : Daerah