5 Penyebab Konflik Papua Paling Berbahaya

Wilayah besar bagian timur Indonesia ini selalu menjalani serangkaian peristiwa menegangkan dengan negara sendiri. Mulai dari aspirasi panas dari masyarakat untuk memisahkan diri dari Indonesia karena merasa tidak dihargai. Beragam kontroversi muncul dari sini, membahas kinerja pemerintah yang dianggap tidak becus untuk membuat pembangunan tidak tersebar secara merata, lalu mengkritik pihak Papua yang dinilai rakus.

Disinilah ada dua sisi masyarakat, pembela Pemerinah dan Rakyat Papua, yang tentunya didominasi oleh rakyat Papua sendiri. Kita bingung, apa yang sebenarnya terjadi di sini. Apakah kebijakan pemerintah memang masih kurang efektif? Ataukah ada faktor-faktor lain yang menyebabkan tersendatnya pembangunan di Papua? Seluruh pertanyaan hanya bisa dijawab dengan asumsi, sayangnya sulit untuk menelusuri fakta-fakta yang ada.

Baca juga :

Tapi ada sebagian hal yang akan kita telusuri kali ini. Lewat berbagai media kita ambil sebagian informasi penting yang kami tuangkan ke dalam artikel kali ini yang bertajuk penyebab konflik Papua :

1. Masyarakat Papua Merasa Kurang Dihargai

Dalam hal ini mereka merasa “tidak dianggap” secara ekonomi, yang mana berarti pertumbuhan faktor ekonomi di sini cenderung lebih lambat dari wilayah lainnya. Tentunya hal ini bukan karena kesengajaan pemerintah, namun kendala yang dihadapi cukup berat, mengingat infrastruktur di sana masih belum memadai, sehingga transportasi untuk menuju ke sana mengalami hambatan-hambatan yang tidak pernah disengaja.

Rasa kurang memaklumi juga mendukung semua ini, terutama hanya menilai pemerintah dari output saja, bukan dari proses berat yang harus dilalui. Hal ini menimbulkan ketegangan bagi kedua pihak, yang mana sebenarnya kebingungan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Pemerintah merasa sudah mengirimkan “bantuan”, sementara pihak Papua masih belum merasa menerima satupun bantuan dari pemerintah. Apakah ada dalang ditengahnya? Kita semua tidak tahu. Yang jelas, ras kurang dihargai tadi membuat masyarakat Papua agak kecewa dengan Pemerintah Indonesia. Meskipun itu, pemerintah negaranya sendiri.

Baca juga :

2. Adanya Diskriminasi Terhadap Rakyat Papua

Perbedaan warna kulit dan ras sepertinya masih menjadi hal yang digosipkan di masyarakat, padahal bukanlah hal yang bijak bila menilai seseorang dari tampilan. Adanya bullying yang dilakukan oleh masyarakat lain terhadap rakyat Papua, menimbulkan luka tersendiri di hati mereka. Terutama hinaan seperti menghina warna kulit yang mana sebenarnya adalah sebuah ciri khas, melahirkan sakit hati yang berujung pada suatu kebencian.

[AdSense-B]

Padahal satu bangsa sendiri, kenapa masih saja saling menghina satu sama lain? Hal itulah kira-kira yang ada di benak mereka, mereka seperti merasa dikhianati bangsa sendiri. Bangsa yang seharusnya bersatu padu membentuk negara yang berbahagia malah menimbulkan sakit hati. Kekecewaan itulah yang menjadi sayatan tersendiri di hati mereka. Terlebih lagi, hinaan terhadap mereka seperti menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Akhirnya, mereka malu jika menjadi suatu kaum minoritas di wilayah tertentu. Mereka akan cenderung pendiam dan menutup diri dari masyarakat.

3. Pelanggaran HAM

Kejadian buruk di masa lampau, seperti kejamnya aparat militer dan kepolisian terhadap mereka membuat mereka membenci Pemerintah sebagai penanggung jawab yang utama di sini. Padahal tentu saja, tanggung jawab dipegang oleh anggota militer itu sendiri, Pemerintah tentunya tidak pernah memerintahkan untuk menyiksa dan menghukum rakyat Papua dengan kejam.

[AdSense-A]

Tapi sayangnya, kebencian terhadap pemerintah semakin terprovokasi oleh pihak-pihak yang dendam terhadap pemerintah. Mereka menganggap pemerintah sebagai musuh abadi karena amat merugikan mereka di masa lalu. Rasa benci tadi selalu tertanam dan sayangnya ditularkan ke generasi-generasi berikutnya. Sehingga, kebencian akan terus berlanjut tanpa henti. Tanpa ada langkah pencegahan, pikiran jelek seperti itu akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Baca juga :

4. Trauma

Tindakan-tindakan keji tentara Indonesia di masa lampu melahirkan rasa trauma dari mereka. Trauma akan ditindas, trauma akan dijahati dengan perilaku keji tanpa melawan. Hal itulah yang melahirkan identitas untuk melawan, melawan, dan melawan. Mereka tidak akan menyerah lagi, mereka tidak akan hanya tunduk lesu menghadapi “kekalahan”, tapi akan melawan balik dengan segala upaya untuk menggapai apa yang mereka inginkan. Paling tidak untuk mempertahankan harga diri.

Dengan dasar itulah, mereka akan melawan dan melawan apa yang menurut mereka kurang pantas untuk disetujui, meskipun dari Pemerintah sekalipun. Rasa berani seperti ini memang dibutuhkan, tapi bisa menjadi pemicu utama terjadinya konflik, karena apapun yang disampaikan mereka akan berusaha untuk melawan. Jalan damai sepertinya masih sulit untuk dicapai. Terlebih lagi karena kebanyakan masyarakat memiliki sifat ini karena masa lalu mereka yang buruk. Jadi mereka tidak ingin mengalami hal yang sama untuk kedua atau ketiga kalinya dalam hidup.

Kejadian buruk di masa lampau dijadikan sebuah pelajaran. Baik memang, perasaan bangkit dari kejatuhan adalah hal yang positif. Namun, semua itu menjadi salah bisa segala pendapat ditentang hanya karena benci, yang mana terlahir di masa lalu. Untuk bisa sepenuhnya bangkit, lupakan masa lalu dan belajar dari situ. Pemerintahan dulu bisa saja memang pemerintahan yang buruk, tapi Pemerintahan yang baru bukanlah hal buruk yang harus dilawan juga. Pemerintahan yang melahirkan ide-ide baru untuk menyejahterakan rakyat, bagaimanapun itu bentuknya.

5. Kekayaan Alam Yang “ Dicuri”

Menyedihkan bukan, padahal harta di tanah sendiri, namun bukan kita yang memilikinya. Kejadian ironis ini terjadi di Papua, tepatnya pada kasus Freeport yang telah berada di negeri ini berpuluh tahun lamanya. Pengambil alihan kekayaan alam oleh Freeport menyebabkan rakyat Papua merasa tertipu. Harta mereka diambil tanpa sepengathuan mereka. Menurut mereka, Pemerintah seperti menjual harta mereka begitu saja, dengan alasan ekonomi tentunya. [AdSense-C]

Tindakan pemerintah yang gegabah tersebut tentunya memiliki suatu tujuan, entah apa yang benar-benar menjadi dasarnya. Yang jelas, kekecewaan masyarakatlah yang membuat mereka sedih akan Pemerintah, sedih akan negeri mereka sendiri. Tempat yang indah, tempat yang seharusnya menjadi rumah mereka kemudian diambil begitu saja.

Baca Juga : Militer yang Paling Ditakuti di Asia Tenggara

Itulah sebab yang bisa kami berikan untuk anda yang menjadi faktor pendukung kenapa konflik Papua bisa terus terjadi. Kebanyakan, faktornya diakibatkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap Pemerintah Indonesia. Hal ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pihak yang berwenang, agar bisa selalu bersikap adil kepada semua masyarakat di Indonesia. Tanpa memandang satupun perbedaan yang ada.

Simak Artikel Hukamnas.com lainnya: