Sponsors Link

5 Tahap Penyelesaian Konflik Yugoslavia yang Perlu Diketahui

Sponsors Link

Yugoslavia yang merupakan negara federasi tidaklah berdiri dengan mulus. Negara bagian yang berada di bawah pemerintahan Yugoslavia terdiri dari berbagai bangsa dan etnis, dimana mereka memiliki agama, bahasa dan penggunaan huruf yang berbeda satu sama lain. Bahkan ide politik mereka juga berbeda dan saling bertentangan. Karena itulah setiap negara bagian berusaha untuk membebaskan diri dari Yugoslavia. Tentu saja upaya pembebasan tersebut tidak dapat berlangsung begitu saja. Ada pihak yang tidak menginginkan negara bagian memisahkan diri dan merdeka, terutama Serbia yang memiliki kedudukan paling besar di Yugoslavia.

ads

Serbia yang menolak berdirinya negara bagian menjadi negara sendiri dan merdeka, melakukan penyerangan ke berbagai pelosok negara bagian agar mereka menghentikan tindakan untuk membebaskan diri. Penyerangan terjadi sangat brutal di Bosnia, karena mayoritas penduduk Bosnia yang beragama Islam. Penyebab konflik antar suku atau penyebab konflik antar ras ini pun berubah menjadi penyebab konflik antar agama. Tentu saja dampak konflik agama dapat menimbulkan reaksi dari negara Islam lainnya. Latar belakang Yugoslavia termasuk contoh konflik antar ras yang cukup besar sepanjang sejarah, dan menjadi penyebab konflik sosial yang terjadi berkepanjangan.

Penyelesaian Konflik Yugoslavia

Terjadinya konflik berkepanjangan di Yugoslavia tentu membuat dunia merasa harus bertindak agar pertikaian yang terjadi segera berakhir. Pengendalian konflik sosial pun dilakukan oleh banyak negara dengan membuat beberapa perundingan agar ditemukan kesepakatan di antara negara bagian di Yugoslavia untuk berdamai. Beberapa tindakan yang dilakukan berbagai negara di dunia untuk membantu menyelesaikan konflik Yugoslavia antara lain sebagai berikut.

1. Seruan PBB

PBB sebagai penengah atas segala konflik yang terjadi di dunia ikut bertindak untuk mengatasi dan meredam pertikaian yang terjadi di Yugoslavia. Agar konflik dapat dihentikan, PBB menyerukan kepada Serbia agar mau menarik tentaranya dari Bosnia. PBB juga menjatuhkan sanksi kepada Serbia yang bertindak sangat brutal dalam membantai warga Bosnia. PBB mengirim utusan bernama Yasuki Akasi yang bertugas sebagai mediator untuk mencari jalan keluar agar konflik di Yugoslavia segera berakhir.

2. Aksi Negara-negara G-7

Bukan hanya PBB yang bertindak agar Serbia mau melakukan gencatan senjata dan berhenti menyerang Kroasia. Negara-negara G-7 pun ikut turun tangan melakukan perundingan yang diadakan di Texas, Amerika Serikat. Mereka menyerukan dan berusaha menekan Serbia agar menghentikan serangan militernya terhadap Kroasia dan menyelesaikan konflik tersebut secara damai. Mereka juga mengecam keras dan mengutuk tindakan Serbia yang menyerang dengan sadis dan brutal, dan tindakan kejamnya dianggap sebagai tindakan biadab yang harus segera dihentikan.

3. NATO Ikut Berperan

Tidak ketinggalan, NATO pun juga ikut bergerak untuk membantu menyelesaikan konflik Yugoslavia, dengan cara mengirim pasukan tentaranya ke wilayah Bosnia. Mereka bertugas untuk menciptakan wilayah yang damai dan melindungi warga Bosnia yang diserang secara keji oleh Serbia. Mereka berusaha membentuk wilayah yang bebas dari peperangan, juga melakukan serangan udara ke wilayah Serbia karena tidak mengikuti aturan NATO.

4. Peran Indonesia

Pada masa itu Indonesia yang berstatus sebagai ketua Gerakan Nonblok merasa ikut bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan konflik di Yugoslavia. Kala itu presiden Sueharto yang tengah memimpin Indonesia sekaligus Gerakan Nonblok mengusulkan agar negara yang bertikai mau melakukan perundingan agar konflik bisa diselesaikan. Beliau juga mengirimkan pasukan militer ke Yugoslavia yang terdiri dari 25 orang perwira ABRI dengan nama kontingen Garuda XIV yang dipimpin Letkol. Infantri Edi Budianto.

5. Perundingan Dayton di Amerika Serikat

Beberapa perundingan internasional telah berlangsung selama dilakukannya upaya penyelesaian konflik Yugoslavia, dan perundingan terakhir yang dilangsungkan di Amerika Serikat bernama perundingan Dayton memberikan titik terang terhadap berakhirnya konflik tersebut. Perundingan di Dayton dilaksanakan pada tanggal 1 Nopember 1995, yang diikuti oleh pihak-pihak yang bertikai dan tentunya di bawah pengawasan Amerika Serikat dan NATO. Perwakilan yang hadir untuk mewakili Bosnia adalah Alisa Izet Begovic, Franko Tujman mewakili Kroasia dan Slobodan Milosevic mewakili Serbia.

Dalam perundingan Dayton akhirnya diperoleh kesepakatan yang ditandatangani oleh semua pihak di Paris pada tanggal 14 Nopember 1995. Adapun isi dari kesepakatan atau perjanjian tersebut adalah sebagai berikut.

  • Bosnia-Herzegovina tetap sebagai negara tunggal secara internasional.
  • Ibu kota Sarajevo tetap bersatu di bawah Federasi Muslim Bosnia-Kroasia dan beberapa wilayah administrasi otonom kontrol Serbia-Bosnia.
  • Radovan Karadzic dan Jenderal Miadic dianggap sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Internasional dan tidak boleh memegang jabatan.
  • Pengungsi berhak kembali ke tempatnya semula.
  • Pemilu akan diselenggarakan antara 6–9 bulan sesudah penandatanganan Perjanjian Paris.

Dengan adanya perjanjian tersebut penyelesaian konflik Yugoslavia akhirnya dapat tercapai. Setelah bertahun-tahun dilakukan upaya yang melibatkan berbagai negara di belahan dunia dan telah melalui berbagai perjanjian yang sangat panjang, pada akhirnya Yugoslavia bisa didamaikan dan mampu menjalankan pemerintahan negaranya dengan stabil.

, , , , ,
Post Date: Friday 29th, December 2017 / 09:33 Oleh :
Kategori : SARA