5 Akibat Perang Banjar yang Terjadi di Pulau Kalimantan

Pada jaman dahulu,banyak perang terjadi di Indonesia, yang diakibatkan oleh berbagai penyebab konflik Papua, dan yang menyangkut tentang penyebab konflik antar agama . Perang tersebut banyak disebabkan karena perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah yang saat itu memang melakukan tindakan sewenang-wenang pada pribumi. Berbeda dengan hal-hal yang menyangkut seperti penyebab konflik Rohingya, perang yang kita bahas adalah dikarenakan penjajahan. Salah satu bentuk kebangkitan adalah dengan adanya pemberontakan atau perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, meskipun masih bersifat kedaerahan. Salah satu bentuk peperangan nyata yang pernah terjadi adalah Perang Banjar yang mana pernah terjadi daerah Kalimantan yang melibatkan dua kubu besar yaitu Kesultanan Banjar dengan Kolonial Belanda. Banyak sekali penyebab yang bisa kita ambil dari kejadoan ini yang hampir mirip dengan penyebab Bandung lautan api.

Perang berawal karena Belanda yang ikut campur dalam pemerintahan Kerajaan Banjar, dengan melakukan berbagai monopoli. Hal ini menimbulkan kerisauan dan kemarahan dari Kerajaan Banjar, karena dianggap tidak mendapat hormat dari Belanda. Pertengkaran ini jauh lebih menyeramkan dari ciri ciri agresi militer. Pemerintahan Kerajaan Banjar juga cukup dirugikan dengan berbagai aturan-aturan yang menurut mereka tidak masuk akal dan hanya merugikan rakyat kecil. Oleh karena itu, sepertinya tidak ada cara lain selain melawan sendiri Belanda dan seluruh pasukannya yang ada pada wilayah Kerajaan Banjar. Berbeda dari keadaan Indonesia yang sekarang yang mana memegang peringkat terbaik dalam militer terkuat di Asia Tenggara, dahulu Indonesia masih dijajah dan perlawanan pun dilakukan masih dengan sifat kedaerahan. Namun pada akhirnya peperangan pecah pada tahun 1859 sampai dengan 1905. Perang Banjar berlangsung 6 tahun lamanya, berawal dari perbincangan yang cukup serius, hingga dengan peperangan yang sesungguhnya. Perang di Kerajaan Banjar ini menimbulkan beberapa dampak buruk pada Kerajaan Banjar sendiri, antara lain :

1. Kesultanan Banjar Dibubarkan

Hal yang pertama kali bisa kita lihat adalah pembubaran Kerajaan Banjar. Perlawanan yang dilakukan Kerajaan Banjar dan mendapat bantuan dari suku Dayak yang terkenal di wilayah Kalimantan ternyata belum cukup kuat untuk menandingi kekuatan Belanda yang kala itu juga adalah negara yang memiliki angkatan bersenjata terbaik di dunia. Perlawanan Kerajaan Banjar kala itu kebanyakan menggunakan senjata tradisional yang menggunakan senjata melee atau senjata tajam yang mana kalah bersaing dengan penggunaan teknologi seperti senapan dan meriam. Belanda juga terbilang sebuah negara yang memiliki personel militer terbaik di dunia, mak dari itu perlawanan kedaerahan yang dilakukan oleh Kerajaan Banjar dan sekitarnya bisa begitu mudah diredam oleh pasukan Belanda yang kala itu memang mendapat pendidikan dan memiliki berbagai sumber daya yang mencukupi untuk melakukan pertahanan. Berbeda dari Indonesia yang kala itu masih termasuk dalam negara-negara dengan militer terlemah.

Cukup disayangkan juga, pada akhirnya Kerajaan Banjar akhirnya dihapuskan untuk menghindari konflik lebih lanjut dan untuk menghindari resiko adanya perlawanan dari rakyat Kalimantan Selatan yang mana berpusat pada Kerajaan tersebut. Selain menghapus Kerajaan Banjar, Belanda juga ikut menghapuskan pemerintahan-pemerintahan bawahan dari kerajaan tersebut. Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa penerus dari kerajaan tersebut sudah tidak ada lagi. Pemerintahan dalam wilayah Kalimantan Selatan pun sempat mengalami kekosongan kekuasaan, karena pusat dari daerah itu sendiri telah musnah. Kekosongan kekuasaan tadi tidak berlangsung sangat lama, dalam waktu sekejap Belanda membuat aturan-aturan baru yang dibuat oleh pemerintahan Belanda bernama Residentie Zuider en Ooster Afdeelingvan Borneo untuk mengatur birokrasi dan segala sistem pemerintahan yang berada di wilayah Kalimantan Selatan.

2. Belanda Berhasil Menguasai Wilayah Kalimantan Selatan Seluruhnya

Dengan dikuasainya pemerintahan pusat dari wilayah Kalimantan Selatan, bisa dibilang bahwa seluruh wilayah yang awalnya berada pada kendali Kerajaan Banjar tenggelam ke dalam tangan Belanda setelah memenangkan peperangan atas perlawanan yang sempat dilakukan oleh Kerajaan Banjar sendiri yang dibantu oleh warga sekitar. Belanda sendiri akhirnya dapat dengan mudah mengurus segala sesuatu yang berada pada Kalimantan Selatan, termasuk di dalamnya pemanfaatan sumber daya alam dan juga monopoli perdagangan.

Rakyat juga sempat mengalami kebingungan dan penderitaan akibat dari pemerintahan Belanda kala itu. Banyak rakyat yang mengalami tindakan-tindakan sebagai penyebab pelanggaran HAM vertikal yang mana membuat mereka harus merasakan kesusahan tiap waktu karena pemerintahan Belanda kala itu dianggap mencari untung sendiri atas wilayah Kalimantan Selatan. Tentunya hal itu sangat wajar bagi penjajah, karena tujuan awal mereka datang ke Indonesia memang untuk menguasai seluruh sumber daya alam berupa rempah-rempah yang juga banyak tersebar pada wilayah Kalimantan Selatan. Jadi dengan mereka menguasai wilayah tersebut, bisa dipastikan mereka bisa mendapat keuntungan yang luar biasa bila mereka menjual rempah-rempah tadi ke pasar global.

[AdSense-A]

3. Dikuasainya Berbagai Sumber Daya di Kalimantan

Seperti yang telah disampaikan di atas, dengan berakhirnya Kerajaan Banjar ala itu, seluruh sistem termasuk pembagian sumber daya alam kepada rakyat telah dihapuskan. Rakyat kembali mengalami berbagai penderitaan akibat kekurangan segala faktor untuk hidup. Bahkan sering kali dapat ditemukan penyebab konflik horizontal yang hanya dikarenakan karena kekurangan sumber daya untuk hidup. Belanda bisa semakin bebas mengambil sumber daya karena tidak ada aturan mengikat lagi yang dikeluarkan oleh Kerajaan Banjar. Selain itu, musuh mereka yang terbesar di wilayah Kalimantan Selatan juga bisa berhasil ditumpas, seolah-olah tidak ada hal lain lagi yang bisa menghalangi mereka.

Eksploitasi besar-besaran terjadi pada pengambilan sumber daya alam secara paksa berupa rempah-rempah, perkebunan, dan tambang batu bara yang dilakukan langsung oleh pemerintahan Belanda sendiri. Rakyat pun menjadi miskin kembali karena kebijakan ini.

4. Tidak Adanya Penerus yang Ideal

Penyerangan Belanda yang dilakukan kepada kerajaan Banjar memang bisa dibilang sebagai penyebab konflik antar ras yang kejam. Kekalahan Kerajaan Banjar di tangan Belanda kala tu menimbulkan rasa putus asa dari rakyat Kalimantan  sendiri, mengingat tokoh yang berpotensial untuk mengembalikan keadaan menjadi baik kembali yaitu Pangeran Hidayat sudah tidak bisa ditemukan lagi. Pangeran Hidayat diduga hilang saat peperangan terjadi. Kehilangan penerus yang menurut rakyat Kalimantan Selatan sangat ideal untuk memimpin kembali mereka membuat banyak rakyat berduka atas hal itu.

Banyak dari mereka yang bahkan tidak tahu akan melakukan hal apa lagi, dan pasrah menalani hidup mereka di bawah genggaman Belanda. Banyak dari mereka yang bahkan memutuskan untuk lari dari kampung halaman mereka sendiri. Syukur bila mereka berhasil untuk kabur dari tempat itu, namun jika tidak, mereka bisa dibunuh di tempat bila tentara Belanda menyadari bahwa mereka kabur dari wilayah mereka.

5. Sistem Birokrasi Lama Dihapuskan

Sistem yang dijalankan oleh Kerajaan Banjar pun memang diilai sudah cukup baik, rakyat pun dibuat bahagia akan hal itu. Namun semuanya sirna ketika Belanda akhirnya bisa menghancurkan Kerajaan tersebut. Sistem birokrasi yang awalnya dibuat sendiri oleh pemerintahan Kerajaan Banjar diganti oleh sistem birokrasi dari pemerintahan Belanda sendiri, yang mana kebanyakan hanya menguntungkan pihak Belanda saja untuk mengakses dan mengeksploitasi wilayah tersebut dengan mudahnya.

5 sebab itulah yang bisa kita lihat dari kejadian Perang Banjar yang terjadi di masa lalu. Peperangan itulah yang bisa dijadikan contoh dari segelintir peristiwa yang seperti dikarenakan berbagai penyebab konflik Poso atapun penyebab konflik Maluku yang mana terjadi sepuluh tahun setelah peperangan ini. Bayak hal juga yang bisa kita perlajari di sini.Memang, banyak sekali kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat, walaupun perjuangan mereka sudah bisa dibilang adalah wujud perlawanan yang maksimal, walaupun kala itu Indonesia belum menjadi angkatan darat terkuat di ASEAN, mereka berjuang sekuat tenaga dengan api yang membara dalam hati. Sayangnya, kecanggihan teknologi dan persenjataan yang dimiliki oleh Belanda kala itu, sayang sekali mereka masih belum bisa mendapat kemenangan dari sana.

[AdSense-C]

Akhirnya mereka harus menelan pil pahit akan kekalahan perang dengan pihak Belanda. Kerajaan Banjar pun harus ikut menanggung beban yang amat berat, dengan dihapuskannya Kerajaan tersebut sepenuhnya, beserta pemerintahan-pemerintahan kecil yang ada di dalamnya. Walaupun kini kita hanya bisa melihat puing-puingnya saja, namun ada baiknya jika kita mempelajari sedikit sejarah yang ada pada negeri kita ini.