Sponsors Link

Fakta Tentang 5 Penyebab Perang Padri

Sponsors Link

Indonesia dulunya tidak lah sedamai dan semaju sekarang. Untuk mendapatkan kedaulatan negara saja, para pahlawan terus melakukan perlawanan yang tidak ada habisnya, berjuang untuk kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Berbagai peperangan dilakukan, segala pemberontakan dilakukan seperti yang bisa ditemukan dalam akibat perang Banjar dan juga penyebab konflik Papua yang  terjadi beberapa puluh tahun setelahnya. Namun pada kali ini kita akan membahas satu peristiwa menarik yang datang dari wilayah Minangkabau, yaitu Perang Padri. Ada juga Belanda yang mana seharusnya termasuk dalam diktator paling kejam di dunia.

ads

Konflik yang terjadi ini sangat kental dengan rasa cinta tanah air, sama halnya dengan berbagai penyebab Bandung lautan api. Dalam perang ini kita bisa mengenal tokoh pahlawan yang amat terkenal, bahkan namanya pernah dicetak pada lembar uang rupiah kita, yaitu Tuanku Imam Bonjol. Beliau adalah satu dari banyak ulama yang sangat berjasa pada perang yang awalnya dimulai karena banyak sekali penyebab konflik horizontal ini. Pada awalnya tujuan perlawanan memang masih bersifat agamis, dan hanya berlangsung di wilayah tertentu saja. Bahkan awalnya memang diawali dengan dua perselisihan saja. Namun Belanda yang kala itu termasuk negara yang memiliki angkatan bersenjata terbaik di dunia ikut masuk ke dalam perang ini. Menariknya, rakyat bisa tahu siapa musuh yang sebenarnya karena mereka sama-sama orang Indonesia, dengan ras dan kepribadian yang hampir sama pula. Oleh karena itu, Perang Padri ini sangat menarik untuk kita bahas. Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak dulu berbagai penyebab yang mengawali adanya Perang Padri.

1. Pertentangan Antara Kaum Adat dan Kaum Padri

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Perang Padri ini diawali dengan adanya pertentangan atau konflik kecil yang berasal dari Kaum Padri dan Kaum Adat. Gerakan organisasi sendiri diawali oleh kedatangan ketiga ulama yang baru saja datang dari berhaji. Ketiga ulama tersebut bernama Haji Sumanik, Haji Piabang, dan juga Haji miskin. Ara ulama tersebut berusaha untuk menegur warga yang dianggap memiliki sifat tercela. Konflik ini bukanlah konflik yang ada hubungannya dengan penyebab konflik antar agama, sebenarnya kaum adat yang ditegur oleh Kaum Padri tersebut memiliki agama yang sama, yaitu Islam. Walaupun mereka beragama Islam, kebiasaan mereka jauh dari agama tersebut.

Mereka selalu melakukan kebiasaan yang dianggap buruk untuk kehidupan bermasyarakat sepeti berjudi, berkata kasar, dan menggoda wanita-wanita yang  melintas. Kaum Padri yang berisikan ketiga ulama tersebut ingin mengubah sifat mereka agar bisa menjadi lebih baik lagi. Namun sayangnya hal ini ditanggapi negatif oleh Kaum adat yang mana melakukan tindakan yang sembrono sebelum berpikir lebih jauh lagi yaitu meminta bantuan pada Belanda. Mendengar kekacauan ini, Belanda berasumsi bahwa akan ada pemberontakan yang akan muncul dari aksi tersebut. Akhirnya Belanda pun ikut serta membantu mereka untuk melakukan penyerangan terhadap Kaum Padri yang juga termasuk kuat dalam negara Indonesia yang kala itu salah satu negara-negara dengan militer terlemah, walaupun akhirnya berhasil dikalahkan.

2. Adanya Campur Tangan Belanda

Salah satu penyebab berkembangnya konflik tadi adalah adanya campur tangan Belanda dalam peperangan ini. Belanda sendiri senang sekali dengan adanya konflik yang tengah terjadi di masyarakat. Berbagai penyebab konflik sosial terjadi pada masyarakat secara luas menyebabkan Belanda tidak perlu lagi mengadakan upaya untuk menjalankan praktek adu domba kepada masyarakat-masyarakat yang berselisih. Lalu dengan mendengar bahwa kaum adat yang notabene sudah bertindak tidak wajar dari awal membutuhkan bantuan, Belanda dengan siap membantu.

Adanya campur tangan Belanda juga diikuti karena alasan bahwa peperangan ini melawan para tokoh yang berada di bawah bendera Islam, yang mana Belanda kurang setuju akan kelompok-kelompok tersebut. Akhirnya dibantulah kaum data dengan berbagai personil yang bisa saja memasuki jajaran negara dengan kekuatan militer terbesar. Selain itu Belanda juga membantu kaum adat dengan berbagai persenjataan yang mumpuni untuk melawan Kaum Padri.

ads

3. Muncul Gerakan Pendukung dari Para Ulama

Puncak dari peperangan Padri sendiri berada pada tahun 1821 sampai dengan 1825 yang mana berlokasi pada wilayah Lawas. Pertempuran itu sendiri terdiri atas beberapa bagian, dan yang paling penting di sini adalah bergabungnya beberapa tokoh terkenal seperti Imam Bonjol, Tuanku Cerdik, Tuanku Nan Renceh, dan lain sebagainya. Mereka bergabung secara langsung dengan sukarela dan tanpa ada paksaan apapun, ikhlas untuk membantu gerakan Padri yang menurut mereka sejalan dengan mereka, apalagi sama-sama ikut membela agama Islam.

Peperangan pun berlangsung sengit antara Belanda dengan Kaum Padri. Teknik peperangan yang dilakukan oleh kaum Padri saat itu ialah menggunakan teknik gerilya atau yang biasa disebut sebagai serangan sembunyi-sembunyi. Mengingat jumlah tentara Kaum Padri yang jumlahnya juga terbatas, maka teknik tersebut sangatlah cocok untuk mengurangi anggota musuh secara perlahan namun sangat efektif. Akhirnya karena posisi yang amat terpojok, Belanda mengajukan langkah perdamaian dengan Kaum Padri dengan menandatangani surat perjanjian. Tapi kemudian Belanda melanggarnya.

4. Kaum Adat yang Berkhianat

Hal menarik yang perlu dimengerti dari peperangan ini adalah adanya rasa saling memiliki sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Belanda tidak pernah menduga hal ini sebelumnya. Melihat aksi Belanda yang juga melakukan tindakan buruk terhadap rakyat di Minangkabau, Kaum Adat yang awalnya memusuhi kaum Padri berputar balik menjadi turut memusuhi Belanda. Kaum Adat yang dulunya tidak setuju sama sekali dengan Kaum Padri bergabung dengan kelompok tersebut untuk meningkatkan kekuatan agar dapat mengalahkan Belanda dengan mudah.

Tidak hanya Kaum Adat saja, ada kelompok yang berkhianat lagi pada Belanda yaitu Pasukan Sentot Ali Basya. Pada awalnya Belanda melakukan pemanggilan bantuan kepada organisasi tersebut untuk turut ikut serta membantu Belanda mengalahkan kelompok Padri. Namun, yang namanya teman seperjuangan, Pasukan Sentot akhirnya ikut membantu Kelompok Padri untuk menumpas Belanda. Namun sayangnya aksi bisa kembali digagalkan. Akhirnya, Sentot Ali Basya ditangkap dan diasingkan oleh Belanda.

5. Pelanggaran Perundingan Damai Oleh Belanda

Tindakan Belanda yang awalnya kondusif berubah 180 derajat ketika mereka melanggar janji yang dari awal sudah dibentuk agar tidak kembali terjadi konflik. Beberapa lama setelah Belanda menandatangani perjanjian tersebut, Belanda melakukan serangan balik kepada masyarakat pada wilayah Minangkabau. Melihat perilaku keji itulah, Kaum Adat menjadikan itu alasan untuk bersatu dengan Padri dan mengalahkan Belanda. Pada akhirnya, mereka berjuang bersama-sama untuk mengalahkan penjajah dan musuh yang sebenarnya.

Sponsors Link

Kelima sebab tadi menutup perjumpaan kita kali ini untuk membahas lebih dalam mengenai salah satu penyebab pelanggaran HAM vertikal yang terjadi di Indonesia yaitu Perang Padri. Banyak sekali nilai yang dapat diambil dari perang ini, seperti rasa persaudaraan, kejujuran, dan persahabatan. Sungguh tidak masuk akal bukan bila sesama bangsa Indonesia malah melakukan penganiayaan kepada orang lain yang notabene memiliki kebangsaan yang sama, dan hidup dengan tata kelakuan dan norma yang sama juga di Indonesia. Jangan sampai semua hal yang terjadi seperti dalam penyebab konflik Maluku dan juga konflik lainnya yang terjadi karena penyebab konflik Poso kembali terulang.

Oleh karena itu, mari kita jadikan perbedaan di sekitar kita menjadi sebuah suplemen atau obat untuk membangun pertemanan kita dan rasa saling memiliki sesama bangsa Indonesia. Jangan sampai kita bisa mudah diadu domba satu sama lain, apalagi dengan bangsa sendiri. Dengan begitu, Indonesia berhasil mencapai tingkatan yang unggul dengan menggapai predikat militer yang paling ditakuti di Asia Tenggara dan juga negara yang memiliki angkatan darat terkuat di ASEAN. Sudah saatnya kita membuka mata dan pikiran agar suatu hari kita bisa sepenuhnya bebas dari peperangan yang amat merugikan. Sekian.

, ,
Post Date: Saturday 04th, November 2017 / 13:28 Oleh :
Kategori : Daerah