Sponsors Link

10 Penyebab Perang Padri Pecah Berdasarkan Fakta Sejarah

Sponsors Link

Perang padri merupakan salah satu perang yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari tahun 1803-1838 perang berkecamuk di dataran tanah Sumatera barat. Sejarah mencatat ratusan ribu bahkan jutaan nyawa manusia melayang akibat konflik berdarah ini. Belum lagi korban harta dan benda yang diakibatkan perang. Perang padri juga merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda Kala itu seperti juga penyebab bandung lautan api . Padahal pada awalnya konflik ini dipicu karena adanya pertentangan agama antara dua kelompok. Kelompok yang di sebut dengan Kaum Padri (tokoh agama/ulama) dengan kaum adat. Siapa yang menyangka jika perbedaan pendapat ini, dapat memicu perang dan menorehkan sejarah kelam di tanah sumatera barat. Dalam durasi waktu tersebut, perang padri telah pecah dalam dua tahap.

ads

Awalnya perang ini hanyalah sebuah perang saudara, namun kemudian pecah dan melibatkan pihak Belanda yang memiliki kepentingan yang lebih luas. Ini lah yang kemudian mengubah arah perang. Tidak ada lagi konflik agamis dari perang ini saperti penyebab konflik horizontal  , karena pada akhirnya Kaum Padri dan kaum adat bersatu melawan Belanda. Sehingga perang ini merupakan bukti jiwa patriotisme dan nasionalisme bangsa ini dalam menghadapi penjajah. Dalam perang ini juga, anda akan mengenal tokoh patriotik yang telah dinobatkan sebagainpahlawan nasional yaitu Tuanku Imam Bonjol. Namun, pada akhir perang kita harus mengakui keunggulan Belanda yang pada akhirnya dapat memenangkan perang. Meskipun begitu, sejarah tetap mencatat bahwa bukti persatuan dan kesatuan memang nyata adanya. Seperti pepatah tidak ada asap jika tidak ada api. Maka begitulah juga dengan perang padei ini. Beberapa hal dibawah ani akan menjelaskan penyebab perang padri pecah berdasarkan fakta sejarah. Simak selengkapnya.

1. Tahun 1803, Kepulangan 3 Orang Haji Dari Mekah

Sekitar tahun 1803, 3 orang haji kembali ke tanah Minang setelah dari mekah. Mereka adalah haji Miskin, haji Siomik dan haji Piobang. Ketiganya kembali dengan niat untuk meluruskan ajaran islam yang sempurna bagi masyarakt Minangkabau tentu berbeda dengan penyebab perang aceh . Tuanku Nan Ranceh yang kemudian tertarik pada ajaran ajaran tersebut  bergabung dengan ulama dan tokoh agama lain dalam Harimau Nan Salapan. Kemudian Harimau Nan Salapan meminta kepada Tuanku Lintau untuk mengajak Sultan Arifin Munigsyah beserta kaum adat untuk meninggalkan kebiasaan kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran islam. Tentu saja hal ini mendapat penolakan keras dari kaum adat. Meskipun berbagai perundingan telah dilakukan namun, tidak ada kata sepakat antara kaum padri dan kaum adat.

2. Tahun 1815, Penyerangan Kaum Padri Ke Kerajaan Pagaruyung 

Perbedaan pendapat ini terus berlangsung dan menimbulkan konflik horizontal antara kaum padri dan kaum adat seperti juga latar belakang perang banjar . Sekitar tahun 1815, kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung. Serangan ini kemudian memicu perang di koto tangah. Kaum adat terdesak, hingga membuat Sultan Arifin Muningsyah melarikan diri dan meninggalkan ibu kota  kerajaannya.

3. Tahun 1821, Sultan Tangkal Alam Bagagal Meminta Bantuan Ke Belanda

Kaburnya Sultan Arifin membuat pasukan kaum adat yang dipimpin Sultan Tangkal alam Bagagal Tersesak dan terpaksa harus mundur seperti juga dampak perang banjar . Tepatnya 21 Februari 1821 akhirnya Sultan tangkal Alam Bagagal meminta bantuan kepada pihak Belanda. Setelah sebelumnya ia meminta bantuan kepda Inggris namun ditolak, karena saat itu Inggris tidak lagi berkuasa. Perjanjian ini membuat Belanda menjadikannya bukti bahwa kerajaan Pagaruyung telah menyerah pada pemerintahan hindia- Belanda. Karena hal itu kemudian Belanda mengangkat Sultan Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar. Bukti keikutsertaan belanda ditunjukkan dengan penyerangan Simawang dan Suli Air pada Maret 1921. Serangan ini kemudian dibalas oleh kaum padro dengan menyerang pos pos Belanda di Simawang, Suli Air dan Lintau. Dengan mendapatkan  kekutan tambahan pada akhirnya Belanda Berhasil menguasai wilayah tersebut.

4. Tahun 1822, Pasukan Belanda Berhasil Memukul Kaum Padri Dari Wilayah Kerajaan Pagaruyung

Tepatnya 4 Maret 1822 pasukan Belanda dibawah Komando kolonel Raff, berhasil memukul mundur pasukan Padri keluar dari pagaruyung. Kemudian Belanda membangun pertahanannya di Batu Sangkar. Sedangkan kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau. September 1822, pasukan kaum Padri terus menyerang dengan kekuatan gigih sehingga menyebabkan pasukan Belanda terpukul mundur dan harus kembali ke Batu Sangkar simak juga penyebab bandung lautan api .

Sponsors Link

5. Tahun 1823, Belanda Kembali Menyerang Lintau

13 April 1823, Kolonel Raff kembali mencoba melakukan penyerangan ke Lintau. Namun, Kaum Padri yang saat itu berjuang dengan sangat gigih akibat dampak perang padri berhasil memukul mundur pasukan Belanda kembali ke Batu Sangkar. Pada tahun 1824 Sultan Arifin Muningsyah kembali ke  Pagaruyung. Bersamaan dengan itu Kolonel Raff kemudian dinyatakan meninggal di Padang akibat demam tinggi. Sedangkan, pada tahun 1825 Sultan Arifin Muningsyah sebagai raja terakhir Minangkabau akhirnya wafat.

6. Tahun, 1825 Gencatan Senjata Antara Kaum Padri dan Belanda

Bersamaan dengan berkecamuknya perang Diponegoro di pulau Jawa dan kegigihan kaum Padri dalam melawan Belanda, membuat Belanda sulit menundukkannya. Pada tangga 15 November 1825 Belanda mengajak Kaum Padri yang saat itu dipimpin Residen Tuanku Iman Bonjol, untuk berunding di Padang. Hasil perundingan itu, dikenal dengan “Perjanjian Masang”. Selama masa gencatan senjata tersebut, Belanda Memfokuskan pasukannya ke perang diponegoro. Dan Tuanku Imam Bonjol sendiri mencoba merangkul kembali kaum adat dimana perbedaan pendapat ya g memicu penyebab perang padri . Yang kemudian memunculkan “Plakat Puncak Pato”. Dimana akan diwujudkan konsensus adat minangkabau berdasarkan ajaran islam dan ajaran islam berdasarkan al-quran.

7. Tahun 1831-1832 Perang Jilid II Pecah

Setelah perang Diponegoro berakhir dan kekuatan Hindia-Belanda kembali pulih dan juga menjadi penyebab perang banjar . Maka Belanda kembali menundukkan kaum Padri. Hal yang mendasari hal ini adalah Belanda ingin menguasai penanaman Kopi di Minangkabau. Saat itu, kopi memang menjadi salah satu komoditas unggulan utama pemerintah Belanda. Kemudian Belanda melanggar perjanjian dengan menyerang Nagari Pandai Sikek. Dan membangun benteng di Bukittinggi untuk memperkuat kedudukanya. Pada Agustus 1831 Lintau berhasil ditaklukan dan membuat Luhak dan Tanah Datar dalam kendali Belanda. Berbagai serangan yang dipimpin oleh letnan kolonel Ellot dilakukan untuk melumpuhkan Kaum Padri. Ia juga mendapatkan bantuan dari Sentot Prawirodirdjo yang merupakan mantan pemimpin pasukan Diponegoro yang berkhianat dan membantu Belanda. Namun, kemudian Sentot berkhinat pada Belanda dan membantu Kaum Padri. Atas dasar itu, kemudian ia dan legiunnya di asingkan hingga meninggal di tempat pengasingan. Juli 1832 Belanda mengirimkan pasukan tambahan untuk segera mengakhiri perang. Dengan wafatnya Sultan Tuanku Lintau maka Luhak limau Puluah berhasil dikuasai Belanda. Bahkan Belanda berhasil memukul mundur Kaum Padri dengan dikuasainya Kamang dn Lubuk Agam maka Pasukan Padri tersudut dan mundur dari Luhak untuk bertahan di Bonjol.

Sponsors Link

8. Tahun 1833, Perlawananan Bersama

Tahun ini menjadi titik balik, dimana Kaum Adat akhirnya bergabung dengan Kaum Padri dalam menghadapi Belanda simak juga penyebab konflik papua . Menyadari hal itu, maka perang ini berubah haluan menjadi perang antara belanda dan seluruh masyarakat Minangkabau. Pada 11 Januari 1833 serangan tiba tiba terjadi pada kubu Belanda di Garinsum. Menanggapi hal itu pemerintah Belanda kemudian menerbitkan “Plakat Panjang” yang menyatakan bahwa kedatangan mereka bukanlah untuk menguasai Minangkabau, namun hanya tujuan untuk berdagang. Belanda berdalih akan membangun sekolah, membangun jalan dan kemanan. Dimana hal tersebut tentu membutuhkan biaya dan karenanya pemerintah belanda mewajibkan penduduk untuk menanam kopi dan menjualnya kepada belanda.

9. Tahun 1835-1937, Serangan Ke Benteng Bonjol

Lamanya waktu penyelesaian perang dan penyebab konflik horizontal membuat Gubernur Hindia Belanda saat itu, Johaness Van Den Bosch harus datang langsung ke Padang untuk meninjau perang. Setelah melakukan perundingan dengan beberapa pimpinan pasukan  maka diputuskan bahwa Belanda harus segera menaklukan Benteng Bonjol  untuk mengakhiri perlawanan Kaum Padri. Namun, tentu saja kegigihan Kaum Padri dalam mempertahankan benteng Bonjol tidak bisa dianggap sepele. Bahkan Belanda membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun lamanya untuk bisa menaklukan Benteng Bonjol. Tepatnya setelah diserang dan dikepung pasukan Belanda selama 6 bulan, 16 Agustus 1837 benteng Bonjol akhirnya dapat ditaklukan.

10. Tahun 1837, Perang Berakhir 

Dalam kondisi yang telah tercerai berai Tuanku Imam Bonjol mengerahkan pasukan yang masih siap bertempur, namun jumlahnya hanya sedikit saja. Bersamaan dengan itu, datanglah surat yang menyatakan ajakan perundingan. Selama 14 hari berlangsunglah gencatan senjata dan Tuanku Imam Bonjol datang ke Palupuh, dimana lokasi perundingan diadakan. Tuanku Imam Bonjol.tidak membawa senjata karena merupakan persyaratan dari pihak Belanda. Namun, sebenarnya hal itu hanyalah taktik Belanda untuk menangkap Imam Bonjol tanpa perlawanan. Tuanku Imam Bonjol yang saat itu dalam kondisi sakit akhirnya berhasil ditangkap dan kemudian diasingkan. Setelah 27 tahum di tempat pengasingan, pada 1964 akhirnya Tuanku Imam Bonjol wafat. Meskipun demikian perlawanan Kaum Padri masih tetap berlanjut di bawah pimpinan Tuanku Tambusai. Namun, pada akhirnya benteng terakhir kaum Padri di Dalu Dalu berhasil direbut Belanda. Dengan jatuhnya benteng tersebut maka Tuan Tambusai dan pengikutnya terpaksa pindah ke Negeri Sembilan, Semenanjung Malaya. Dan akhirnya peperangan yang berwal dari dampak konflik antar agama ini selesai, kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi wilayah dibawah pengawasan Belanda.

Itulah tadi, 10 penyebab perang padri pecah berdasarkan fakta sejarah. Pada awalnya perang ini hanya didasarkan pada masalah perbedaan pendapat. Namun, ternyata harus terjadi hingga 35 tahun lamanya. Tentu bisa dibayangkan betapa beratnya kondisi saat itu. Hal yang dapat kita petik adalah tentunya jika terdapat perbedaan pendapat maka sebisa mungkin diselesaikan dengan jalan damai. Sehingga tidak menjadi penyebab konflik sosial yang bisa pecah. Dengan demikian maka kedamaian, persatuan dan kesatuan akan tetap terjaga. Semoga artikel ini dapat membantu.

, ,
Post Date: Sunday 31st, December 2017 / 11:03 Oleh :
Kategori : Daerah