Sponsors Link

7 Tokoh Perang Banjar yang Paling Berpengaruh

Sponsors Link

Perang Banjar merupakan salah satu pertempuran yang berlangsung sangat lama. Perang ini dimulai sejak tahun 1859 dan baru berakhir pada tahun 1905. Perang ini sendiri merupakan bentuk perjuangan dari penduduk Pribumi yang berada di wilayah Kalimantan Selatan melawan Belanda sebagaimana dijelaskan dalam latar belakang perang banjar. Perang yang berlangsung hampir setengah abad atau tepatnya 49 tahun tentu membawa banyak penderitaan dan juga jatuhnya korban jiwa dan tentunya membawa banyak akibat perang banjar .

ads

Perang yang berlangsung cukup lama ini tentu juga melibatkan banyak tokoh sebagaimana penyebab konflik papua . Mereka merupakan tokoh utama yang secara langsung terkibat dalam perang dan berhuang bersama rakyat Banjar lainnya. Nah, untuk itu, marilah kita mengupas mengenai beberapa tokoh perang banjar. Berikut ini 7 tokoh perang banjar yang paling berpengaruh. Simak selengkapnya.

1. Pangeran Antasari

Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar 1797 atau 1809– meninggal di Bayan Begok, Hindia Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia merupakan  Sultan Banjar yang dinobatkan pada 14 Maret 1962 sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dikomandoi Pangeran Antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Perjuangan Pangeran Antasari dan pasukannya membuat Belanda kewalahan. Bahkan Belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini. Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun.

Sponsors Link

2. Pangeran Hidayatullah

Sultan Hidayatullah Halil illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman, atau lebih dikenal sebagai Pangeran Hidayatullah atau Hidayatullah II (lahir di Martapura,1822 dan meninggal di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 pada umur 82 tahun). Ia adalah salah seorang pemimpin Perang Banjar dan berkat jasa-jasa kepada bangsa dan negara, pada tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama.

Pangeran Hidayatullah adalah Sultan Banjar yang dengan tipu muslihat Penjajah Belanda ditangkap dan kemudian diasingkan bersama dengan anggota keluarga dan pengiringnya ke Cianjur. Di sana dia tinggal dalam suatu pemukiman yang sekarang dinamakan Kampung Banjar/Gang Banjar.Sultan Hidayatullah wafat dan dimakamkan di Cianjur. Sultan Hidayatullah pada tahun 1999 mendapat Bintang kenegaraan dari pemerintah RI. Simak juga latar belakang perang tondano 2 , dan dampak positif politik etis ,

3. Demang Lehman (Kiai Adipati Mangku Negara)

Demang Lehman, kemudian bergelar Kiai Adipati Mangku Negara (lahir di Barabai tahun 1832 – meninggal di Martapura tanggal 27 Februari 1864 pada umur 32 tahun) adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Terlahir dengan nama Idies. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar. Demang Lehman semula merupakan seorang panakawan (ajudan) dari Pangeran Hidayatullah II sejak tahun 1857. Oleh karena kesetiaan dan kecakapannya dan besarnya jasa sebagai panakawan dari Pangeran Hidayatullah II, dia diangkat menjadi Kiai sebagai lalawangan /kepala Distrik Riam Kanan (tanah lungguh Pg. Hidayatullah II).

4. Tumenggung Surapati

Tommengoeng Soera Pattie (EYD: Tumenggung Surapati) atau Tomongong Suro-patty/Soero Patti (ejaan Jawa) atau Kiai Dipati Jaya Raja, kemudian bergelar Pangeran Dipati (lahir : Kalimantan Tengah, wafat : 1875, Kalimantan Tengah) adalah hoofd van de Doesson Oeloe, Moerong en Siang (Afdeeling Becompaij en Doesson dalam susunan pemerintahan Hindia Belanda tahun 1848). Ia merupakan kepala suku Dayak Bakumpai-Siang yang memihak kepada Pangeran Antasari. Ia menjadi panglima perang dalam Perang Barito yang merupakan bagian dari Perang Banjar sebagaimana latar belakang perang tondano .

5. Penghulu Rasyid

Penghulu Rasyid (lahir di desa Telaga Itar tahun 1815 – meninggal di desa Banua Lawas, 15 Desember 1861 pada umur 46 tahun) adalah salah seorang di antara sejumlah ulama Islam yang bangkit bergerak berjuang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dalam Perang Banjar. Ayah dari Penghulu Rasyid bernama Ma’ali adalah penduduk kampung Telaga Itar. Rasyid diperkirakan lahir sekitar tahun 1815. Pada waktu terjadi Perang Banjar dan perjuangan yang menghangat di seluruh wilayah Banua Lima tahun 1860 sampai tahun 1865, Rasyid berumur 45 tahun. Sejak kecil ia memiliki ciri-ciri kepemimpinan dan mempunyai kepribadian yang tinggi.

Dengan pengetahuan agama Islam yang dimilikinya disertai dengan amaliah yang kuat, Rasyid pun dijadikan sebagai pemimpin agama dengan sebutan Penghulu. Selanjutnya ia lantas dikenal sebagai Penghulu Rasyid. Sebagai seorang pimpinan agama, Penghulu Rasyid tergerak jiwa patriotismenya untuk membela negara Kesultanan Banjar yang dijajah Belanda. Penghulu Rasyid dan para ulama lainnya mengorbankan semangat juang, sebagai gerakan Baratib Baamal. Gerakan Baratib Baamal ini meliputi hampir seluruh Banua Lima dengan pusat kegiatan di masjid dan langgar (surau).

6. Panglima Wangkang

Penglima Wangkang atau Demang Wangkang gelar Mas Demang adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar dari kalangan suku Bakumpai yang mempertahankan Distrik Bakumpai (sekarang Barito Kuala). Panglima Wangkang merupakan panglima Dayak yang berdarah Banjar. Bapaknya bernama Kendet (Pambakal Kendet), juga seorang pejuang dan pemimpin suku Bakumpai. Ibunya bernama Ulan berasal dari Amuntai seorang suku Banjar.

Dalam membicarakan perlawanan di daerah Bakumpai perlu disebut tokoh Demang Wangkang yang juga berpengaruh. Di Marahaban ia sepakat dengan Tumenggung Surapati untuk menyerang ibu kota Banjarmasin. Pada tanggal 25 November 1870 ia bersama pengikutnya sebanyak 500 orang meninggalkan Marahaban menuju Banjarmasin. Pertempuran terjadi di dalam kota, tetapi karena kekuatana Belanda cukup besar, Demang Wangkang menarik kembali pasukaannya keluar kota.

7. Ratu Zaleha

Ratu Zaleha/Djaleha (lahir: Muara Lawung, 1880; wafat:Banjarmasin 24 September 1953)adalah puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Ratu Zaleha berjuang bersama wanita-wanita suku Dayak yang sudah memeluk Islam seperti Bulan Jihad atau Wulan Djihad, Illen Masidah dan lain-lain. Ratu Zaleha (nama lahir Gusti Zaleha) merupakan tokoh emansipasi wanita di Kalimantan.

7 tokoh perang banjar yang paling berpengaruh. Tentunya akan semakin menambah pengetahuan anda mengenai deretan para pahlawan Nasional yang telah berusaha dengan gigih dalam melawan para penjajah. Semoga nilai perjuangannya dapat kita tiru dan terapkan dalam kehidupan keseharian. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Post Date: Tuesday 17th, April 2018 / 04:24 Oleh :
Kategori : Hukum