4 Latar Belakang Perang Tondano yang Bersejarah

Perang Tondano merupakan sebuah kisah Heroik yang dilakukan oleh warga Minahasa. Minahasa sendiri memiliki julukan “Tanah Nyiur Melambai” yang merupakan wilayah paling ujung dari NKRI. Dikutip dari laman media sosial Albert WS Kusen, seorang pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi Manado, puncak perang Tondano terjadi pada 5 Agustus 1809. Kusen mendeskripsikan situasi saat itu, dipenuhi asap mesiu, bau anyir darah dan daging bakar, bahkan seluruh kawasan danau dan sungai bagaikan permadani diselimuti darah (Moraya) simak juga kronologi perang vietnam .

Meskipun dalam posisi kalah, namun pasukan Minahasa sempat melakukan pelarian ke Pegunungan Lambean, dan terus melakukan perlawanan secara gerilya sebagaimana kekejaman perang virtnam paling mengerikan . Tidak ada kamus menyerah dalam diri mereka. Ini merupakan sebuah kebanggan tentunya dalam sejarah perang ini sendiri. Perang Tondano adalah perang patriotik besar dari rakyat Maesa (Minahasa pada umumnya) melawan penjajahan Belanda yang berlangsung secara berulang-ulang dalam kurun waktu satu setengah abad.

Perang perlawanan yang pertama telah dimulai pada 1 Juni 1661, dan berakhir dengan perang perlawanan terbesar pada 14 Januari 1807 sampai 5 Agustus 1809. Perang yang berkecamuk ini tentu memiliki penyebab yang melatar belakanginya. Sebagaimana sebuah pepatah yang menyatakan bahwa “Tidak akan ada asap jika tak ada api “. jika tidak ada penyebabnya maka perang inipun tidak akan mungkin terjadi simak juga fakta perang vietnam yang tak diketahui publik . Untuk kembali mengingat sejarah, maka berikut akan diuraikan mengenai 4 latar belakang perang tondano yang bersejarah.

1. Sikap Antipati Kaum Minahasa Terhadap Kedatangan Belanda

Sebelum dijajah Belanda, Indonesia lebih dahulu sudah dijajah oleh Portugis. Trauma yang dialami selama masa penjajahan Belanda membuat masyarakat Minahasa melakukan perlawanan terhadap kedatangan Belanda ini juga pernah dialami masyarakat vietnam dalam kekejaman perang vietnam . Sikap antipati seluruh Walak (Wilayah) di Minahasa terutama Walak Tondano atas kedatangan Belanda inilah yang kemudian memicu perang. Masyarakat Tondano menganggap bahwa Belanda memiliki sifat yang sama dengan penjajah terdahulu seperti Portugis dan Spanyol. Dimana para bule-bule ini sebelumnya telah membunuh pata Tona’as (Pemimpin) antara lain Mononimbar dan Rakian dari Tondano dan Tona’as Umboh dari Tomohon.

Masyarakat Tondano kemudian menyimpulkan bahwa semua bangsa berkulit putih memiliki perangai yang kejam dan bengis. Oleh karena itu, kemudian meletuslah perang antara masyarakat Tondano dan tentara Belanda. Meskipun pada awal kedatangannya masyarakat Minahasa menyambut baik kedatangan Belanda sebagai bentuk bantuan dalam melawan tentara Spanyol. Namun, ternyata kedatangan mereka justru memiliki tujuan terselubung yakni untuk memonopoli perdangangan dan menguasai pemerintahan atau penjajahan. [AdSense-B]

2. Pemerkosaan Terhadap Wanita Minahasa

Selain pembunuhan terhadap para Walak Minahasa yang dilakukan oleh penjajah terdahulu, terdapat juga tindak kekerasan asusila yang kemudian membuat masyarakat Minahasa begitu membenci kaum kulit putih. Tindakan tersebut ialah tindakan pemerkosaan yang sering dilakukan oleh para penjajah kepada beberapa wewene (Perempuan). Tindakan inilah yang kemudian melatar belakangi perang terjadi. Kedatangan Belanda dianggap akan mengulang sejarah kelam yang menimpa sebagian wanita Minahasa.  Untuk menghindari insiden yang sama terulag, maka kedatangan Belanda di tanah Minahasa disambut dengan perang dari Walah Tandano. Simak juga penyebab perang baratayuda .

3. Pelanggaran Kolonial Belanda terhadap Ikatan Persahabatan Minahasa – Belanda Verbond 10 Januari 1679

Sejak zaman dahulu masyarakat Minahasa telah konsisten mempertahankan nilai-nilai budaya yang yang berlandaskan atas kebenaran dan keadilan, serta tidak memberi kompromi atas siapapun pihak yang melakukan pelanggaran atas adat tersebut. Masyarakat Tondano sangat menjunjung tinggi verbond yang telah menjadi bagian dan menjamin kelangsungan hidup masyarakat Minahasa.  Bagi masyarakat Minahasa pelanggaran terhadap Verbond merupakan sebuah pelanggaran dan pengingkaran fantastis atas keadilan dan kebenaran. Simak juga latar belakang perang bosnia serbia .

Menurut masyarakan Minahasa, Pemerintah kolonial Belanda telah melanggar Verbond. Dengan mengubah mengubah nilai-nilai kepemimpinan sosial orang Minahasa di mana posisi kepala walak dikondisikan sedemikian rupa dalam perubahan perjanjian Verdrag 10 September 1699 atau amandemen pasal 9. Dalam Berdrag tersebut kepala Walak adalah bagian yang harus tunduk terhadap segala kebijakan brlanda. Dengan kata lain bahwa kepala Walak merupakan bawahan dari Belanda.

Nilai inilah lah bertentangan dengan adat Masyarakat Minahasa. Dalam tatanan struktur masyarakat, Kepala Walak memiliki posisi paling tinggi ditatanan krpemimpinan. dalam konteks statusperanan, menjadi kepala walak, bukanlah jabatan yang diberikan atas dasar turunan (ascribed) tetapi menjadi kepala walak diperoleh secara demokratis melalui pemilihan secara adat atas dasar kinerja (achieved). Pelanggaran inilah yang membuat Masyarakat Minahasa melakikan perlawanan dan terjadilah perang. [AdSense-C]

4. Tertangkapnya Kepala Walak todano dan Kepala Walak Tompaso

Perang Tondano merupakan perang yang terjadi sebanyak 4 Tahap. Dimana perang ketiga sendiri disebabkan oleh perang ketiga, dipicu oleh tertangkapnya Ukung Pangalila kepala Walak Tondano, dan Ukung Sumondak kepala Walak Tompaso. Penangkapan ini menyebabkan masyarakat Tondano benar-benar marah besar dan murka terhadap belanda. Setelah penindasan dan penyiksaan serta kekejaman yang dilakukan para pemerintahan Belanda kepada Masyarakat Minahasa termasuk melanggar jenis-jenis hak azasi manusia . Seolah Pemerintah Kolonial belum puas terhadap apa yang telah dirasakan oleh masyarakat Minahasa.

Perang Tondano merupakan perang yang telah terjadi dalam durasi waktu yang cukup lama dan panjang. Perang ini terjadi dalam empat tahap, artinya bahwa perjuangan masyarakat Tondano terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang merupakan ciri-ciri negara otoriter  seperti tidak ada habisanya. Secara garis besar penyebab perang yang berlangsung selama 4 tahap tersebut di latarbelakangi oleh hal-hal diatas. Namun, secara singkatnya berikut akan diperjelas satu-persatu. Kapan terjadinya perang dan latar belakang khususnya.

Perang Tondano pertama ini terjadi pada tanggal 1 Juni 1661 hingga 1664. Perang ini merupakan kisah heroik yang dilakukan oleh rakyat yang bermukim di sekitar danau Tondano. Meskipun tergolong masyarakat primitif dan tradisional, namun perlawanan masyarakat Tondano terhadap pihak Belanda cukup sengit. Perang Tondano kedua terjadi pada tahun 1681 hingga 1682. Latar belakang terjadinya perang kedua ini ada hubungannya dengan perlakuan semena-mena Belanda demi kepentingannya sendiri atas makna Perjanjian 10 Januari 1679. Simak juga dampak positif reformasi .

Sementara, Perang Tondano ketiga pada 1707 hingga 1711 terjadi dengan latar belakang seperti perang pertama yakni perlakuan semena-mena penjajah Belanda terhadap seluruh Walak di Minahasa pada umumnya, dan khususnya Walak Tondano yang tidak tahan atas penderitaan yang berat akibat kekejaman bangsa Belanda tersebut. Sedangkan, perang Tondano keempat pada tahun 1807 hingga 1809 berawal dari aksi melarang utusan Hindia Belanda masuk ke wilayah Tondano. Hal ini membuat para kepala Walak geram karena Belanda juga kerap mengumbar janji palsu.

Nah itulah, 4 latar belakang perang tondano yang bersejarah. Tentunya akan semakin menambah pengatahuan sejarah, mengenai bagaimana perjuanagan bangsa kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajah. Oleh karena itu, sebagai generasi muda selayaknya kita tidak menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah di capai. Lakukan kegiatan positif demi kemajuan bangsa ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.