3 Latar Belakang Perang Tondano 2 Antara Rakyat Minahasa Melawan Belanda

Perang Tondano 2 merupakan sebuah bukti betapa perjuangan bangsa Minahasa yang begitu gagah berani dalam melawan penjajahan. Usai perang tondano 1 yang akhirnya membuat rakyat Minahasa terpojok. Kemudian terpaksa mengikuti keinginan Belanda. Maskipun pada ahirnya Belanda berhasil membuat trakyat minahasa menjual hasil pertanian terutama beras pada Beland. Namun, sisa-sisa perjuangan perang tondano 1 tidak berhenti sampai disitu saja. Simak saja dampak konflik ambon 1999 dan mengapa presiden soekarno mengeluarkan dekrit presiden .

Perang tondano 2 meletus pada abad ke-19, bertepatan dengan saat itu bangsa Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda. Dalam masa penjajahan tersebut, pastinya sikap diskriminasi Belanda yang saat itu diwakili oleh VOC mekbuat hampir seluruh rakyat Indonesia mengalami penderitaan seperti pada penyimpangan pada masa demokrasi terpimpin . Hal serupa juga dialami oleh masyrakat Minahasa, yang dipaksa menjual beras ke VOC dan dibeli dengan harga yang sangat murah. Tentunya hal ini menimbulkan sikap dendam dan tidak terima yang dialami oleh masyarakat Minahasa.

Pada dasarnya penyebab perang Tomdano 2 tidak hanya dilatar belakangi hal tersebut. Penyebab meletusnya perang antara rakyat Minahasa dan Belanda bukan semata-mata disebabkan oleh sikap diskriminasi bangsa Belanda sebagai dampak demokrasi liberal . Beberapa hal dibawah ini akan menjelaskan secara garis besar mengapa masyarakat Tomdano kemudian melakukan perlawanan yang sengit terhadap Belanda. Berikut 3 latar belakang perang Tondano 2 antara Rakyat Minahasa melawan Belanda. Simak selengkapnya .

1. Mandat Daendels Untuk Memerangi Inggris

Herman willman Daendels, merupakan sosok gubernur Hindis Belanda yang amat disegani. Ia mendapat Julukan sebagai Jendral bertangan besi. Ia merupakan sosok yang kuat dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk dapat mewujudkan ambisisnya. Ia merupakan Gubernur jenderal Hindia-Belanda yang menjabat dari tahun 1808-1810. Ia datang ke Jakarta (Dahulu Batavia) pada tanggal 5 Juli 1808, untuk mengantikan gubernur terdahulu yaknu Jenderal Albertus Wiese.

Tugas berat yang menanti Deandels saat utu yakni, melindungi tanah jawa dari serangan tentara Inggris. Saat itu pulai jawa merupakan satu-sarunya wilayah Hindia-Prancis yang belum dapat dikuasai oleh Inggris. Namun, beberapa kali kerap terlihat tentara Inggris mulai memasuki perairan jawa bahkan mendekati Batavia. Menghadapi ancaman dari tentara Inggris, Daendels mulai berfikir untuk me erahkan kekuatan penuh agar dapat mengalahkan Inggris. [AdSense-B]

Langkah ini dianggap sebagai lankah oaling strategis, sebab jika sampai kehilangan tanah jawa maka secara otomatis Belanda akan terusir dari Indonesia. Oleh sebab itu, Daendels kemudian mengeluarkan mandat yang berisi perekrutan rakyat Indonesia atau bangsa pribumi sebagai tentara. Tujuannya tidak lain adalh untuk menambah kekuatan pada militer Belanda dalam menghadapi Belanda. Tentunya sebelun mengeluarkan mamdat ini daendels telah terlebih dahuku merancang strategi. Simak juga sistem pemilu distrik .

Ia membangun rumah sakit dan tangsi militer terbaru. Mengisi militer Belanda dengn orang-orang pribumi. Membangun pabrik senjata di Surabaya, pabrik meriam di Semarang. Ia juga membangun sekolah militer di Batavia. Membangun benteng-benteng pertahanan seperti benteng Lodewijk di Surabaya dan benteng Meester Cornelis di Jatinegara. Selain itu, ia juga membangun jalan raya pos sebagai proyek utamanya dengan tujuan lebih memudahkan pergerakan tentar dan militer Belanda dalam menghadapi Inggris.

2. Ketidaksetujuan Rakyat Minahasa Direkrut Sebagai Prajurit Kolonial

Mandat kontraversial Daendels yang menjadikan rakyat pribumi sebagai tentara Belanda mendapat penolakan keras. Terutama dari rakyat Minahasa. Sebab hampir 2.000 rakyat Minahasa hendak di rekrut dan dijadikan sebagai tentara Belanda yang nantinya akan dijadikan prajurit yang akan berperang menghadapi Inggris. Suku Minahasa dipilih , sebab rakyat Minahasa merupakan suku yang memiliki.keberanian yang tinggi. Hal tersebuy terlihat dalam perang Tondano 1, meskipun menggunakan peralatan sederhana, namun perlawanan rakyat Minahasa saat itu cukup merepotkan penjajah.

Daendels kemudian memerintahkan kepada Kapten Hartingh, Residen Manado Prediger segera mengumpulkan para ukung atau pemimpin dalam sebuah wilayah setingkat distrik. Dimana akan dipilih 2.000 pemuda dari suku Minahasa untuk bergabung bersama tentara Belanda dalam upaya menhadapi Belanda. Ternyata mandat Daendels ini lemudoan di tolak mentah-mentah oleh rakyat Minahasa. Mereka tidak mengijinkan anak-anaknya untuk ikut tergabung dalam tentara Kolonial. Simak juga metode pemenagana pilkada dan pengertian analisa politik.

Para ukung bersikeras menolak mandat Daendels. Mereka kemudian memutuskan untuk keluar rumah dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Kondisi ini mau tidak mau membuat Belanda menerahkan pasukannya untuk memukul mundur perlawanan rakyat Tondano. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal meletusnya oerang Tondano 2. Perang dipusatkan di wilayah Tondano , pemimpin perlawanan itu adalah Ukung Lonto. [AdSense-B]

3. Perlawanan Terhadap Belanda

Perlawanan terhadap Belnda kemudoan dimulai. Ukung Lonto mengatakan bahwa rakyat Minahasa harus melawan Belanda dan menolak terhadap program pengiriman 2.000 pemuda Minahasa ke Jawa serta menolak kebijakan kolonial yang memaksa agar rakyat menyerahkan beras secara cuma-cuma kepada Belanda. Setelah itu, api perjuangan rakyat Tondano mulai berkobar. Sikap inilah yang kemudian mau tidak mau memaksa Belanda untuk meredam perlawanan rakyat Tondano.

Gubernur Prediger kecuali mengirim pasukan untuk menyerang pertahanan orang-orang Minahasa di Tondano, Minawanua. Belanda kembali menerapkan strategi dengan membendung Sungai Temberan. Prediger juga membentuk dua pasukan tangguh. Pasukan yang satu dipersiapkan menyerang dari Danau Tondano dan pasukan yang lain menyerang Minawanua dari darat. Pertempuran mulai berkobar pada 23 Oktober 1808 dan menjadi awal perjuang rakyat Tondano dalam menghadapi Belanda.

Pasukan Belanda yang berpusat di Danau Tondano berhasil melakukan serangan dan merusak pagar bambu berduri yang membatasi danau dengan perkampungan Minawanua, sehingga menerobos pertahanan orang-orang Minahasa di Minawanua. Walaupun sudah malam para pejuang tetap dengan semangat yang tinggi terus bertahan dan melakukan perlawanan dari rumah ke rumah. Pasukan Belanda merasa kewalahan.

24 Oktober 1808 pasukan Belanda dari darat membombardir kampung pertahanan Minawanua. Serangan terus dilakukan Belanda sehingga kampung itu seperti tidak ada lagi kehidupan. Pasukan Prediger mulai mengendorkan serangannya. Tiba-tiba dari perkampungan itu orang-orang Tondano muncul dan menyerang dengan hebatnya sehingga beberapa korban berjatuhan dari pihak Belanda. Pasukan Belanda terpaksa ditarik mundur. Seiring dengan itu Sungai Temberan yang dibendung mulai meluap sehingga mempersulit pasukan Belanda sendiri. Simak juga dampak positif dan negatif pemilu .

Perang Tondano II berlangsung cukup lama, bahkan sampai agustus 1809. Dalam suasana kepenatan dan kekurangan makanan mulai ada kelompok pejuang yang memihak kepada Belanda. Namun dengan kekuatan yang ada para pejuang Tondano terus memberikan perlawanan. Akhirnya pada tanggal 4-5 Agustus 1809 Benteng pertahanan Moraya milik para pejuang hancur bersama rakyat yang berusaha mempertahankan. Para pejuang itu memilih mati dari pada menyerah.

3 latar belakang perang Tondano 2 antara Rakyat Minahasa melawan Belanda. Menjadi sebuah pembelajaran sekaligus membuka kembali sejarah akan perjuangan bangsa ini dalam menghadapi penjajah. Sikap pantang menerah dan gigih berjuang yang dimiliki susku Tondano tentunya wajib kita tiru. Sebab sebagai generasi muda maka kita wajib tetap menjaga dan memperjuangkan kemerdekaan yang telah dicapai oleh pendahulu kita. Semoga kita dapat memetik pelajaran dari perjuangan suku Tondano. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.