8 Latar Belakang Lahirnya Orde Baru

Orde baru merupakan sebutan untuk pemerintahan pasca Ir. Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Presiden Soeharto sebagai Presiden kedua Republik Indonesia. Masa orde baru berlangsung selama 32 tahun dimana presiden Soeharto memimpin bangsa Indonesia. Orde baru sendiri merupakan masa pemerintahan yang penuh pro dan kontra. Berbagai insiden dan kejadian serta belenggu terhadap kebebasan berpendapat, pers dibungkam mewarnai sejarah kelam masa orde baru. Meskipun begitu, kita bisa mencapai beberapa keberhasilan salah satunya adalah swasembada pangan.

Orde baru merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia, yang muncul sebagai akibat dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya. Simak juga latar belakang perang tondano 2 dan dampak konfliki ambon 1999.  Orde baru lahir setelah kekisruhan dan kekacauan yang terjadi selama masa kepemimpinan presiden soekarno. Untuk mengupas lebih dalam mengenai masa orde baru. Maka mari sedikit menilik mengenai 8 latar belakang lahirnya orde baru. Simak selengkapnya.

1. Peristiwa G-30S PKI

Peristiwa G-30S PKI menjadi salah satu penyebab melemahnya kredibilitas presiden Soekarno. Peristiwa ini didalangi ole PKI (Paetai Komunis Indonesia) yang melakukan penculikan dan pembunuhan sadis terhadap tujuh jenderal. Ketujuh Jenderal tersebut merupakan para petinggi ditubuh militer Indonesia. Tujuan dari penculikan ini adalah untuk memgkudeta pemerintahan. Penculikan dilakukan pada tengan malah di tanggal 30 September sampai dengan awal 1 Oktober 1965. Ketujuh jenderal tersebut di culik, kemudian disiksa dan dibuang ke sumur lubang buaya. Setiap tahunnya pada tanggal 30 September diperingati sebagai hari berkabung.

Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh adanya isu Dewan Jenderal yang ingin menggulingkan pemerintahan presiden Soekarno. Oleh sebab itu, presiden Soekarno memerintahkan kepada pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa ketujuh jenderal tersebut untuk diadili dihadapan Soekarno. Namun, tanpa diduga sama sekali rencana yang telah disusun keluar dari jalurnya. Pasukam Cakrabirawa tersulut emosi dan berujung pada terbunuhnya jenderal Ahmad Yani, Pandjaitan dan Harjono.

Peristiwa ini menjadi boomerang bagi pemerintahan Presiden Soekarno yang memang telah berada di ujung tanduk. Kemarahan rakyat dan beberapa tuntutan dari rakyat untuk mengusut tuntas kasus ini gencar dilakukan. Banyak desas-desus yang menyebutkan bahwa Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad ikut terlibat dalam insiden ini. Namun hal tersebut sama sekali tidak dapat dibutikan. Meskipun begitu banyak yang meyakini bahwa Soeharto lah yang pada akhirnya mendapatka keuntungan paling besar dari insiden ini. [AdSense-B]

2. Konflik Di Tubuh Angkatan Darat

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan Soekarno memberikan kekuatan yang besar kepada Militer. Dalam hal ini militer menjadi lebih bebas dalam berpolitik. Sehingga di tubuh militer terutama angkatan darat terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok tersebut adalah kelompok yang pro Soekarnois dan kontra Soekarnois. Konflik ini kemudian menimbulkan ketidakharmonisan ditubuh angkatan darat. Sehingga tentu saja hal ini memgancam bagi stabilitas keamanan dalam negeri. Simak juga mengapa presiden soekarno mengeluarkan dekrit presiden .

Para aparat dan anggota militer yang harusnya memiliki fungsi melindungi rakyat, malah terlibat dalam perselisihan dengan sesamanya sendiri. Tentu saja komdisi ini membuat organisasi militer menjadi tidak sehat. Tanpa tau mana yang salah atau benar, ledua kelompok bersitegang. Kondisi ini dapat menyulut dan memicu perselisihan yang lebih besar dan pada akhirnya adu senjata menjadi tak terelakan.

3. Terjadinya Inflasi

Salah satu penyebab lahirnya orde baru ialah inflasi yang dialami oleh bangsa Indonesia sebagai bagian dari penyimpangan masa demokrasi terpimpin . Tingkat Inflasi pada masa itu bahkan mencapai diatas 100%. Sehingga perekonomian kita pada masa itu sangatlah lemah dan terpuruk. Terlebih lagi, kondisi inilah yang menyebabkan penderitaan bagi rakyat Indonesia. Krisis moneter, PHK dimana-mana memicu peningkatan angka kriminalitas. Bisa dibilang saat itu kondisi negara amat kacau. Inilah juga yang kemudian rakyak menuntut agar Soekarno mundur dari jabatannya.

4. Kecaman Terhadap PKI

Semejak terjadinya peristiwa G-30S PKI rakyat Indonesia merasa terpuku dan dikhianati. Kemarahan mereka kemudian dilimpahkam kepada Parta Komunis Indonesia (PKI) yang merupakan perwakilan dari PKI di Indonesia. Rakyat menuntut agar PKI diadili dan dibubarkan. Karena telah secara jelas mendalangi aksi penculikan juga pembunuhan kejam kepada tujuh jenderal. Rakyat juga menganggap bahwa keberadaan PKI merupakan ancama serius bagi keutuhan NKRI. Sehingga kemudian rakyat mengecam keras tindakan PKI ini dan menuntuk agar partai politik ini dibubarkan.

5. Adanya Tritura

Bukan hanya itu, kekisruhan dalam negeri serta dampak peristiwa G30S PKI membuat Kesatuan aksi (KAMI, KAPI, KASI, KAPPI, dll) membentuk front pancasila atau disebut juga angkatan 66. Dengan tujuan untuk membasmi tokoh- tokoh yang terlibat Gerakan 30 Sepetember. Pada 10 Januari 1966 di depan gedung DPR-GR mereka mengajukan TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat) yang berisi:

  • Pembubaran PKI beserta Organisasi masanya
  • Pembersihan kabinet Dwikora
  • Penurunan harga barang-barang [AdSense-C]

6. Reshuffle Kabinet Dwikora yang Masih Belum Memuaskan Rakyat

Berdasarkan isi Tritura rakyat menuntut agar kabinet Dwikora yang dipimpin oleh Soerakno di reshuflle. Namun, pada kenyataannya meskipun reshuffle telah dilaksanakan. Tetap saja tidak dapat menyelesaikan masalah strategis yang sedang dihadapi bangsa ini. Ketidakpuasan rakyat terhadap reshufflle kabinet kemudian membuat rakyat menuntut agar Soekarno menyerahkan jabatannya dan mundur dari jabatan sebagai presiden bangsa Indonesia.

7. Supersemar Oleh Presiden Soekarno

Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret merupakan surat perintah Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto yang berisi perintah untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga dan mengembalikan wibawa pemerintahan ketika itu sebagai bentuk dampak positif dan negatif pemilu . Dalam surat tersebut tidak menyiratkan isis mengenai penyerahan jabatan dari Soekarno kepada Soeharto. Namun, Supersemar dijadikan sebagai landasan oleh Soeharto untuk menasbihkan diri sebagai pemangku dan pemegang kekuasaan tertinggi yakni Presiden Indonesia kedua. Simak juga sistem pemilu distrik .

8. TAP MPRS No XXXIII/1964 MPRS

Berdasarkan Supersemar yang di perintahkan oleh Presiden Soekarno kepada Letjend Soeharto. Maka lembaga tertinggi negara yang saat itu adalah MPRS kemudian mengeluarkan TAP MPRS No XXXIII/1964 MPRS yang berisi tentang pencabutan jabatan Presiden Soekarno dan mengangkat Letjen Soeharto sebagai Presiden berikutnya pada tanggal 12 Maret 1967. Berdasarkan TAP MPRS No XXXIII/1964 MPRS maka secara resmi Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia. Semenjak 12 Maret 1967 sampai dengan 32 tahun lamanya Indonesia memasuki masa baru yang dikenal sebagai Orde baru. Simak juga metode pemenangan pilkada .

Itulah 8 latar belakang lahirnya orde baru. Tentunya akan semaki membuka kembali sejarah mengenai perjalanan bangsa Indonesia. Meskipun kita berhasil dan cukup digdaya pada masa orde baru. Namun, tentunya kita juga tidak bisa menghapys bagaimana masa orba dikenang buruk oleh beberapa kelompok. Semoga semakin menambah pengetahuan mengenai sejarah dan semoga artikel ini dapat bermanfaat.