Sponsors Link

4 Penyebab Perang Sampit Yang Terjadi Pada Tahun 2001

Sponsors Link

ads

Perang sampit menjadi salah satu bentuk pecahnya konflik antar etnis Di Indonesia. Ini juga merupakan salah satu sejarah kelam dalam menuntaskan konflik konflik yang sama. Konflik ini terjadi di kota Sampit Provinsi Kalimantan Tengah. Dimana pertikaian berdarah ini melibatkan kelompok suku asli Dayak dan juga suku madura sebagai pendatang dari pulau madura. Konflik berdarah ini benar-benar menjafi salah satu peristiwa paling tragis. Karena korban jiwa dri peristiwa ini mencapai angka 500 kematian serta 100.000 warga madura akhirnya kehilangan tempat tinggal.

Yang paling membuat kita semua tercebgabg dan geleng-geleng kepala ialah, banyak sekali pembataian dilakukan suku dayak dengan cara memenggal kepala dari masyarakat suku madura. Perang Sampit pada dasarnya merupakan perang etnis murni. Artinya, perang Sampit ini memang terjadi dikarenakan oleh tradisi yang dipegang teguh oleh dua suku besar yang saling berbenturan. Masyarakat suku Dayak yang berada di Pulau Kalimantan merasa terdesak oleh kehadiran suku-suku lain, termasuk suku Madura.
Namun, suku Madura yang dikenal sebagai etnis pulau garam itu seringkali melanggar dan melakukan beberapa hal yang dianggap oleh suku Dayak tidak memberikan sikap toleransi terhadap kebudayaan dan tradisi yang ada di Kalimantan, termasuk tradisi suku Dayak.

Sehingga, akhirnya pecahlah perang Sampit ini. Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas. Konflik yang terjadi cukup lama ini juga sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan bangsa ini. Lalu apakah sebenarnya yang melatar belakangi peristiwa ini. Berikut 5 penyebab perang sampit yang terjadi pada tahun 2001. Simak selengkapnya.

1. Polemik Transmigrasi

Penduduk Madura tiba di Kalimantan melalui program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Polemik dampak transmigrasi ini menimbulkan persaingan antara warga Dayak dan Madura. Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan. Sebaliknya ini merupakan kebalikan dari dampak positif poltik etis Belanda dan sistem pemilu proporsional .

Sponsors Link

2. Pembakaran Rumah Seorang Suku Dayak

Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001. Satu versi mengklaim bahwa ini disebabkan oleh serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di permukiman Madura. Namun insiden ini belum dapat dibuktikan adanya. Pastinya bahwa konflik yang terjadi antara dua suku ini menimbulkan situasi yang mencekam terutama  di tanah Kalimantan. Simak juga dampak positif reformasi , dampak positif golput , dampak positif dan nehatif demokrasi , serta sistem pemilu distrik .

3. Upaya Saling Membela Diri

Profesor Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan diri setelah beberapa anggota mereka diserang. Selain itu, juga dikatakan bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000. Entah mengapa suku Dayak cenderung tidak akur dengan suku Madura. Padahal selain suku Madura di Kalimantan sendiri telah berdatangan suku lain. Pada faktanya suku dayak tidak memiliki sengketa dan konflik lain selain dengan suku Madura. Simak juga mengapa presiden soekarno mengeluarkan dekrit presiden , metode pemenangan pilkada , pengertian analisa politik , dampak positif dan negatif pemilu serta kekuatan politik indonesia yang perlu diketahui masyarakat .

4. Rangkaian Insiden Sebelum Tahun 2001 

Terdapar banyak versi mengenai penyebab perang sampit yang meletus di tahun 2001, namun berdasarkan sebuah sumber beeikit akan diurutkan beberapa insiden yang bisa menjadi pemicu konflik antar kedua suku tersebut .

  • Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat (Entah benar entah tidak pelakunya orang Madura)
  • Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.
  • Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.
  • Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.
  • Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap orang
    Dayak adalah dihukum berat.
  • Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang jualan sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari 30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur. Si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian saja.
  • Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum.
  • Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan. Ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum.
    Sponsors Link

  • Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.
  • Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama Iba oleh tiga orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Namun para pembacok tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah keluarga Iba dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka
    membacoknya, saat istri Iba mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat.
  • Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum.
  • Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi katanya sudah lari ke Pulau Madura. Proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya belum mampu menyelesaikannya (tidak tuntas).
  • Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.
  • Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Kelanjutan peristiwa kerusuhan tersebut (25 Februari 2001) adalah terjadinya peristiwa Sampit yang mencekam.

Itulah, 4 penyebab perang sampit yang terjadi pada tahun 2001. Peristiwa ini menjadi konflik paling mencekam dan tragis. Serta merupakan konflik berdarah yang tidak dapat dihapus dari sejarah bangsa Indonesia. Semoga dengan peristiwa tersebut kita dapat belajar untuk lebih menaruh rasa hormat dan menghargai antara satu dengan yang lainnya. Serta tidak mudah terprovokasi oleh isu baik isu sara, maupun isu yang mencoba memecah belah persatuan bangsa. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

, , , , ,
Post Date: Saturday 24th, March 2018 / 10:15 Oleh :
Kategori : Daerah