Sponsors Link

6 Penyebab Konflik Sara Yang Wajib Diketahui dan Diwaspadai

Sponsors Link

Konflik sara menjadi sebuah senjata jitu untuk memecah belah paham dan keyakinan yang selama ini diyakini. Tindakan sara merupakan sebuah upaya untuk melecehkan satu keyakinan lain yang berbeda dengan keyakinan yang dianut. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengklaim bahwa kepercayaan yang dianut merupakan kepercayaan yang paling benar. Isu sara menjadi senjata utama untuk dapat menciptakan konflik horizontal antar umat beragama. Sudah banyak konflik yang timbul akibat dari isu isu sara yang beredar dimasyarakat. Tentu saja paham ini akan mengancam kesatuan dan persatuan dalam kehidupan bernegara seperti juga contoh konflik antar agama . Paham politik sara menciptakan kebencian antar umat beragama sehingga memicu timbulnya tindakan kekerasan.

ads

Agama merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang di anut oleh umat manusia. Semua agama menganjurkan jalan kebaikan dan menjauhkan dari tindak kejahatan. Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang menghalalkan untuk menyakiti penganut agama lain. Banyak alasan yang dipakai para penganut kepercayaan yang melenceng seperti membunuh atas nama agama, menyiksa, melakukam pelecehan dan masih banyak tindakan tidak manusiawi yang mengatasnamakan agama. Padahal jika diperlajari tidak ada satu agamapun yang menganjarkan hal demikian. Agama diciptakan agar manusia dapat membedakan hal yang baik dan yang benar seperti contoh konflik antar ras . Banyak konflik yang timbul akibat isu sara yang terus berkembang. Biasanya isu tersebut diciptakan oleh pihak yang memiliki kepentingan. Lalu sebenarnya apa sajakah yang menyebabkan hal ini terjadi. Berikut 6 penyebab konflik sara yang wajib diketahui dan diwaspadai. Simak selengkapnya.

1. Pemahaman  Sempit Para Penganut Paham yang Menganggap Paham yang Dianut Paling Benar

Penyebab konflik sara yang pertama adalah karena adanya pandangan bahwa kepercayaan yang di anut merupakan yang paling benar. Padahal paham yang demikian merupakan paham yang harus dihindari. Memiliki paham yang demikian akan memunculkan pemikiran yang berbahaya. Dengan menganggap keyakinan yang dianut yang paling benar dan keyakinan lain salah hal ini dapat menyebabkan dominasi dari penganut kepercayaan tententu. Dominasi ini dapat memicu timbulnya diskriminasi pada kelompok penganut kepercayaan minoritas seperti latar belakang konflik kamboja .  Serta tentu saja hal ini akan menyebabkan konflik antara kelompok mayoritas dan minoritas.  Untuk itu, diperlukan pengubahan dari paham yang sempit tersebut menjadi paham yang terbuka. Dimana setiap penganut keyakinan yang berbeda harus mampu mengedepankan logika dan nalar yang sehat. Bahwa setiap keyakinan yang dipilih bukan didasarkan atas mana yang benar dan salah. Namum keyakinan yang dipilih adalah sesuatu yang diyakini mampu merubah arah kehidupan menjadi lebih baik.

2. Kurangnya Pemahaman Atas Kebebasan Dalam Bergama dan Beribadah

Kebebasan dalam beragama dan beribadah merupakan hak yang melekat sebagai hak dasar manusia. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memaksakan kehendak atas apa yang akan diyakini dan dipercaya sebagai agama yang akan dianut. Kurangnya pemahaman atas kebebasan tersebut membuat isu sara dapat berkembang menjadi konflik yang meluas. Kadangkala satu kelompok dengan keyakinan tertentu memaksa pihak lain untuk mengikuti mereka seperti latar belakang tragedi aleppo . Tidak jarang juga digunakan tindakan kekerasan hingga berujung pada pengusiran satu kelompok dari wilayah tertentu. Padahal hal tersebut tentu merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Seseorang harus dengan sukarela untuk bisa menganut satu keyakinan yang ia yakini.

3. Mengedepankan Paham Radikalisme 

Kelompok yang memaksakan kehendak mereka dan merendahkan agama lain merupakan kelompok yang selayaknya harus segera di adili. Tidak jarang mereka menggunakan jalan kekerasan agar tujuannya diakui dan diaetujui oleh mayoritas masyarakat. Dan yang paling aneh adalah ternyata banyak orang yang bergabung dengan ideologi primitif ini. Kelompok radikal banyak muncul di daerah dengan paham dan pandangan sempit akan perbedaan. Bahkan beberapa petinggi negara tergabung, dan mengikuti paham ini seperti penyebab konflik sosial paling umum. Tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh pada hubungan antar agama, ras, dan suku bangsa. Jika paham ini tidak segera di atasi maka akan sangat berbahaya. Mereka melakukan tindakan membunuh, menyiksa dan tindakan tidak berprikemanusian lain atas dasar kepercayaan yang mereka yakini. Biasanya kelompok radikal ini memiliki tujuan untuk mendirikan sebuah negara dengan paham yang mereka anut.

4. Perebutan Lahan Untuk Lokasi Tempat Ibadah

Tempat ibadah merupakan tempat yang digunakan oleh para penganut kepercayaan untuk melakukan peribadatan. Ibadah merupakan sebuah aktifitas untuk bisa lebih dekat dengan sang pencipta. Ibadah juga menjadi sarana untuk bisa memanjatkan doa. Tempat ibadah merupakan hal pokok yang harus dimiliki para penganut kepercayaan seperti juga pengendalian konflik sosial . Selain sebagai tempat beribadah tempat ini juga berfungsi untuk aktifitas keagamaan lainnya. Kadangkala ada pihak yang mengklaim lokasi tanah tempat ibadah menjadi tanah untuk lokasi ibadah lain. Dengan megatasnamakan agama ini lah maka hal ini dapat memicu timbutnya konflik. Sengketa perebutan tanah untuk lokasi ibadah banyak terjadi dan membutuhkan tindakan pecengahan sesegera mungkin. Karena jika isu agama telah telibat maka bisa menimbulkan konflik yang lebih besar.

5. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Akan Toleransi dan Keharmonisan 

Toleransi merupakan salah satu upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Apalagi menghadapi segala perbedaan yang ada tentu toleransi harus diutamakan. Jika toleransi tidak dipegang sepenuhnya maka dunia tidak akan mampu berjalan dengan harmonis. Setiap pemeluk agama akan merasa was was dan tidak tenang. Tentunya kondisi itu dapat memicu konflik jika ada orang yang tidak bertanggung jawab, melemparkan isu yang memicu timbulnya permusuhan. Kesadaran bahwa kita hidup dengan segala perbedaan tentu akan membuat kita lebih bijak menyiasati setiap perbedaan yang ada seperti dampak konflik agama . Dengan mengedepankan toleransi maka keamanan dan perdamaian dunia akan dapat terwujud.

6. Perbedaan Penafsiran Terhadap Isi Kitab Suci yang Diyakini

Setiap penganut agama pasti memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup. Tentu saja isi setiap kitab suci umat beragama berbeda-beda. Sehingga ketika kita menafsirkan isi kitab suci tentu ada hal yang bisa jadi bersinggungan. Perbedaan penafsiran ini tentu bukan merupakan hal yang harus dibesar besarkan seperti latar belakang konflik suriah. Karena setiap pemeluk akan meyakini isi kitab yang diyakininya sehingga anda tidak bisa menyamakan antara satu kitab suci dan kitab suci lainnya. Memilili pandangan yang luas dan terbuka merupakan hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi hal ini .

6 penyebab konflik sara yang wajib diketahui dan diwaspadai tentu bisa menjadi alarm, dan pengingat untuk menghindarkan penyebab yang bisa memicu konflik. Karena bagaimanapun konflik selalu menghandirkan dampak negatif. Yang akan merugikan seluruh aspek kehidupan manusia. Dan bisa menyebabkan runtuhnya peradaban. Di era milenial seperti saat ini, maka sangat wajib bagi kita untuk menyikapi semua perbedaan dengan bijaksana. Agar kehidupan dapat berjalan dengan damai dan harmonis. Semoga artikel ini dapat membantu.

 

, ,
Post Date: Thursday 28th, December 2017 / 10:47 Oleh :
Kategori : SARA