Sponsors Link

6 Latar Belakang Konflik Kamboja yang Penting Diketahui

Sponsors Link

Negara Kamboja pernah menghadapi masa kelam, dimana terjadi konflik yang cukup besar dan lama di antara pemerintahan dan pemberontak hingga mengorbankan banyak nyawa dari masyarakat sipil. Kamboja sendiri mengalami konflik besar sebanyak dua kali, pertama saat perubahan bentuk pemerintahan dari kerajaan menjadi republik, dan kedua saat Vietnam menginvasi Kamboja dan ingin menguasainya. Kamboja sebenarnya termasuk salah satu negara dengan angkatan darat terkuat di ASEAN, namun konflik internal di negara tersebut membuat pertahanan negara melemah sehingga negara lain lebih mudah untuk menyerang.

ads

Bagi yang ingin mengulang kembali sejarah, hal yang paling penting adalah mengetahui latar belakang terjadinya konflik di suatu negara, dalam hal ini yang berkaitan dengan konflik di Kamboja. Konflik di negara tersebut sebenarnya bukan murni terjadi karena kepentingan pemerintahan atau rakyat semata, melainkan ada campur tangan negara lain yang lebih besar seperti RRC atau Tiongkok dan juga Amerika Serikat. Amerika Serikat yang termasuk negara dengan militer terkuat dan negara dengan kekuatan militer terbesar tentu memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap konflik di Kamboja. Lalu apa yang melatarbelakangi terjadi konflik yang cukup panjang di Kamboja hingga dunia merasa cemas dan ikut bertindak untuk mendamaikan kondisi di negara tersebut? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Perubahan Bentuk Pemerintahan

Pada tahun 1970 Kamboja mengalami perubahan bentuk pemerintahan, yang sebelumnya berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh pangeran Norodom Sihanouk. Namun pada saat itu pangeran yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Paris tidak tahu kalau kekuasaannya telah digulingkan dan diambil alih oleh kelompok militer di bawah kepemimpinan Letjen Lon Nol. Ia pun mengubah bentuk pemerintahan Kamboja menjadi Republik, dan secara otomatis mengumumkan dirinya sebagai presiden yang baru. Tindakannya ini ternyata dibantu oleh Amerika Serikat sehingga perubahan yang terjadi begitu cepat.

2. Pemberontakan Komunis Khmer Merah

Dalam perubahan bentuk pemerintahan tersebut, sebenarnya pemerintah Kamboja sendiri tengah menghadapi tindakan pemberontakan gerilyawan komunis yang juga merupakan tentara militer bernama Khmer Merah. Gerakan ini dipimpin oleh Kieu Samphan, dan keberadaan mereka membuat posisi pemerintahan menjadi terancam. Karena alasan lambatnya gerakan Sihanouk dalam membasmi pemberontak tersebut lah Amerika mendorong Lon Nol untuk menggulingkan Sihanouk dan bergerak cepat untuk menghentikan pergerakan Khmer Merah. Sementara itu, Sihanouk yang merasa kecewa karena digulingkan mengasingkan diri dan membentuk pemerintahan sendiri di Peking.

3. Khmer Merah Semakin Kuat

Naiknya Letjen Lon Nol tidak membuat pasukan Khmer Merah menjadi takut, justru mereka semakin gencar mengerahkan serangan untuk menggulingkan rezim Lon Nol yang didukung Amerika Serikat. Khmer Merah pun semakin kuat dengan dukungan dari Vietnam, RRC dan Rusia. Posisinya yang semakin strategis terus mendesak pemerintahan Lol Nol yang kejam dan terlibat korupsi hingga pemerintah semakin terdesak dan akhirnya menyerah kepada Khmer Merah. Pemerintahan pun jatuh ke tangan komunis selama beberapa waktu dan saat itu diangkat Pol Pot sebagai perdana menteri Kamboja.

4. Ajakan Perundingan yang Diabaikan

Sebelum Lon Nol digulingkan, ia sempat mengajak pimpinan Khmer Merah dan juga Sihanouk untuk berunding demi mencapai perdamaian di Kamboja. Namun ajakannya yan tanpa syarat itu diabaikan dan tidak digubris sama sekali oleh kedua belah pihak. Mereka menganggap Kamboja tidak akan bisa berdamai selama masih ada campur tangan pihak asing dalam penyelesaian konflik, sehingga Lon Nol yang dianggap kaki tangan imperialis akan berbuat kecurangan jika mereka melakukan perundingan.

5. Konflik yang Dicampuri Pihak Asing

Adanya campur tangan pihak asing dalam konflik di Kamboja menunjukkan bahwa negara lain sebenarnya ingin mendapatkan keuntungan tertentu dari Kamboja. Kenyataan ini membuat para pemimpin di Kamboja sepakat untuk bekerja sama dalam menghalau pihak asing keluar dari negara Kamboja terutama Vietnam yang menginvasi secara besar-besaran, dan atas tindakan tersebut ASEAN pun turut membantu untuk menciptakan perdamaian di Kamboja. Salah satu negara yang turut membantu proses perdamaian adalah Indonesia, yang memiliki pasukan militer paling ditakuti di Asia Tenggara.

Sponsors Link

6. Konflik Perbatasan

Konflik yang terjadi di Kamboja belum berakhir saat Pergantian kekuasaan telah usai. Perbatasan antara Vietnam dan Kamboja menjadi permasalahan baru kala itu, karena kedua negara memang telah bermusuhan sejak lama. Invasi Vietnam tentu ada tujuannya, yaitu ingin menguasai Kamboja. Namun saat keinginan mereka tidak dapat terwujud dan pemerintah Kamboja sendiri menyadari maksud tersebut, maka Vietnam dipaksa untuk keluar dari Vietnam. Kondisi ini juga melibatkan pertikaian hingga menjatuhkan banyak korban.

Pengendalian konflik sosial memang cukup sulit dilakukan, meski telah melibatkan berbagai negara untuk menciptakan perdamaian. Latar belakang konflik Kamboja ini dinilai dapat menyebabkan permusuhan yang tiada akhir antara pemerintah maupun kelompok pemberontak atau negara lainnya yang pernah terlibat dengan kepemerintahan Kamboja.

, , ,
Post Date: Wednesday 27th, December 2017 / 08:49 Oleh :
Kategori : SARA