Sponsors Link

4 Golongan Pembagian Warisan Menurut Hukum Perdata

Sponsors Link

Harta dan aset milik pribadi sering menjadikan seseorang berebut, apalagi sesama saudara yang memiliki orang tua baru saja meninggal. Warisan atau harta yang ditinggalkan tentu harus dimiliki oleh keturunannya, tapi banyak sengketa dari pembagian warisan sendiri, tidak peduli apakah itu saudara, atau bukan. Jika berbicara mengenai warisan seakan – akan semua tali persaudaraan itu sudah tidak lagi ada, semua hanya berpusat kembali pada harta dan harta.

ads

Apalagi untuk beberapa keadaan seperti orang tua meninggal mendadak, dan tidak sempat menulis surat wasiat untuk anak anaknya, tidak sempat menulis surat warisan untuk pemegang asetnya ketika dirinya sudah tidak ada. Karena sengketa itu dan karena warisan tersebut, Indonesia telah membuat dan bahkan memiliki beberapa hukum dan peraturan yang menuliskan mengenai pembagian warisan.

Pada artikel kali ini kita akan banyak membahas mengenai pembagian warisan menurut hukum perdata. Hukum pembagian warisan yang ada di Indonesia sebenarnya tidak hanya hukum perdata saja, tapi ada juga hukum Wasiat adat, Hukum Warisan Islam, dan yang terakhir yang akan kita bahas hari ini, Hukum Waris Perdata. Sebelum itu, kita akan mengenal sedikit dari Hukum Waris Perdata ini.

Hukum Waris Perdata

Hukum waris jenis ini sering di gunakan di Indonesia, hukum ini memiliki beberapa aturan yang ada kemiripan dengan kebudayaan barat. Warisan dapat di berikan kepada yang telah di pilih di surat wasiat dan keluarga dari keturunannya yang memiliki hubungan, misalnya seorang anak, orang tua, saudara, dan handai taulan lainnya. Di hukum waris yang satu ini, mungkin terlihat sangat individual dan tidak adil ya, karena warisan ini sesuai dengan pembagian yang tertulis di surat wasiat. Dan hanya orang orang tertentu yang tercantum di surat itu lah yang bisa mendapatkan warisan tersebut.

Jika menggunakan surat warisan ya hanya dari tulisan itu. Tapi ada beberapa kejadian yang mungkin orang tidak sempat menulis surat wasiat, maka dari itu, tidak bisa secara langsung di tentukan warisan tersebut milik siapa, pasti ada orang orang yang merasa bahwa dirinya pantas mendapatkan warisan itu.

Tetapi jika seorang pewaris tersebut yang meninggal dunia seorang islam, maka yang di gunakan adalah hukum waris islam, tapi jika non- muslim, maka baru menggunakan hukum waris perdata ini. Lalu, apa saja yang termasuk dalam warisan menurut hukum perdata? Simak yuk!

Hukum waris perdata sendiri sudah tertulis di KUHP (Kitab Undang Undang hukum Perdata). Menurut KUHPerdata kita bisa melihat prinsip dari pewarisan adalah:

  1. Pasal 380 : Harta akan baru terbuka kepada pihak lain ketika sudah ada terjadi kematian. (Jika tidak ada kematian, maka hukum warisan masih belum berlaku ya!
  2. Pasal 832 : adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau isteri dari pewaris, dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia. Artinya, kalau mereka sudah bercerai pada saat pewaris meninggal dunia, maka suami/ isteri tersebut bukan merupakan ahli waris dari pewaris.

Dari kedua prinsip itu kita sudah bisa lihat, hanya orang orang yang memiliki hubungan darah dengan orang yang mewariskan adalah orang orang yang dapat menerima warisan itu. Bisa jadi itu keturunan langsung dibawahnya, bisa juga orang tua, saudara, dan lainnya. Kita bisa kategorikan orang orang itu masuk dalam kategori besar, antara lain:

  • Golongan I : Pasal 852 KUHPerdata, suami/ isteri yang hidup terlama dan anak/ keturunannya.
  • Golongan II : Orang tua, dan saudara kandung dari pewaris
  • Golongan III : Keluarga yang masih punya hubungan garis lurus ke atas sesudah dari ibu dan ayah dari pewaris.
  • Golongan IV : Saudara jauh seperti paman, bibi dari pewaris dari ibu dan bapak dan bisa juga keturunan dari paman dan bibi hingga keturunan keenam dari pewaris sendiri. Bisa juga saudara dari nenek dan kakek yang masih ada dan juga keturunannya. Yang bisa dihitung hingga 6 tahapan dengan sang pewaris.

Pemerintah juga memikirkan keempat golongan ini. Sebenarnya memiliki alasan tersendiri kenapa sih harus orang orang itu saja yang mendapatkan warisan. Alasannya adalah ada golongan diatas dapat menentukan mana yang lebih di dahulukan. Semua prioritas sesuai dengan golongan terawal. Sebagai contohnya adalah pewaris yang termasuk dalam golongan 2 tidak dapat menerima warisan, apabila pewaris golongan 1 masih ada, tidak dapat melangkahinya.

Sponsors Link

Tapi, masih ada banyak kasus seperti memiliki anggota keluarga meninggal, jadi kakak yang sama sama sudah menikah semua dan ternyata meninggal. Walaupun anda adalah adik kandungnya, anda tidak bisa langsung turun atas itu. Jika kakak anda memiliki isteri/ suami dan anak, maka isteri dan suaminyalah yang akan mendapatkan warisan tersebut, bukan lagi anda.

Perlu di ketahui, warisan tidak selalu mengenai hal baik seperti harta, aset, dan lain lainnya, warisan juga bisa tanggung jawab yang harus di selesaikan, misalnya saja memimpin sebuah perusahaan, atau harus membiayai keluarga, menjadi tulang punggung, menjadi pengengah bahkan menjadi kepala keluarga untuk keluarga anda juga merupakan salah satu hal yang bisa anda dapatkan dalam warisan.

Hukum yang ada merupakan setiap hukum yang adil, hukum itu ada untuk tidak menimbulkan dampak perang dingin di antara satu manusia dan saudara-saudaranya. Maka dari itu banyak sekali yang masih mempermasalahkan soal kematian, karena banyak hal yang dapat di dapatkan. Kita banyak temui di Indonesia juga banyak karena warisan saja akhirnya keluarga, saudara tidak lagi harmonis, hal ini terjadi sama seperti penyebab perang padri bukan?

Perbedaan pendapat mengenai pembagian ini juga menjadi masalah yang besar, apalagi yang berkaitan langsung dengan harta tanah rumah yang tidak adil untuk di berikan, termasuk di dalamnya adalah tanggung jawab yang di lepaskan. Tidak semua hukum mengenai warisan menggunakan hukum waris perdata, tapi juga bisa menggunakan hukum waris lainnya karena memiliki keragaman agama dan budaya yang berbeda beda. Sementara, memiliki hukum lain seperti Hukum Waris Adat dan Hukum Waris Islam. Tapi apapun yang terjadi, jangan lupa untuk bangun persaudaraan anda.

, , , ,
Post Date: Tuesday 23rd, July 2019 / 07:28 Oleh :
Kategori : Hukum