Tujuan Utama Politik Etis dan Tokoh Pencetusnya

Tujuan Utama Politik EtisPolitik etis ialah jenis perjuangan politik dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, efisiensi daerah jajahan dan desentralisasi. Politik ini dicetuskan Pada tahun 1890, dasarnya adalah politik balas budi hal ini merupakan desakan dari golongan liberal dalam pemerintahan Belanda. Golongan parlemen yang berpikiran progresif memberikan usul kepada pihak Belanda agar sedikit mencurahkan perhatian kepada masyarakat Indonesia karena telah membantu mengisi keuangan Belanda dengan susah payah melalui tanam paksa. Desakan yang diberikan tersebut didasarkan pemikiran bahwa Belanda memiliki hutang yang cukup banyak kepada Indonesia karena telah menikmati kekayaan yang bukan miliknya.

Maka dari itu terciptalah pemikiran tersebut yang mencakup isi politik etis, tujuan politik etis, dan pelaksanaan politik etis yang telah dibentuk oleh tokoh tokoh pencetus politik etis. Politik etis dilaksanakan pada tahun 1901 yang mencakup tiga tindakan, yakni irigasi (pengairan), transigrasi (perpindahan penduduk), dan eduksi (pendidikan). Tokoh pencetus politik etis atau politik balas budi tersebut ialah Van Deventer. Beliau mengungkapkan isi politik etis dalam karangannya yang berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi). Karangan ini diterbitkan dalam majalah De Grids dengan maksud memperjuangkan nasib bangsa Indonesia.

Tujuan politik etis ini untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat Indonesia dengan cara mencerdaskan, memakmurkan dan memperbaiki nasib dari rakyat Indonesia. Dalam karangannya juga tertulis bahwa pihak Belanda berhutang budi kepada pihak Indonesia.Tujuan politik utama etis ialah memajukan beberapa hal bidang kehidupan seperti edukasi yang menyelenggarakan pendidikan, transmigrasi atau migrasi yang melakukan perpindahan penduduk, dan irigasi yang membangun jaringan dan sarana pengairan.

Pemerintahan Belanda melakukan perbaikan dalam bidang pertanian, pendidikan, irigasi dan transmigrasi ini memang terlihat mulia. Namun sebenarnya program program yang dilakukan tersebut bertujuan untuk kepentingan Belanda sendiri sebagaimana  contoh pelanggaran kewajiban warga negara. Berdasarkan pendapat Van Deventer terdapat tiga isi politik etis yang dinamakan Trilogi Van Deventer. Trilogi Van Deventer ini bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah nasib rakyat Indonesia. Berikut isi politik etis:

1. Edukasi / Pendidikan

edukasi atau pendidikan. Pendidikan sekolah kelas satu diberikan kepada anak anak yang berkedudukan atau yang berharta dan anak dari pegawai negeri. Pada tahun 1903 terdapat 29 sekolah kelas satu di Afdeling dan 14 di ibukota karesidenan. Dalam hal ini anak anak di ajarkan mengenai ilmu bumi, sejarah, ilmu alam, menggambar, membaca, berhitung dan menulis. Kemudian untuk pendidikan kelas dua ditujukan untuk anak pribumi dari golongan bawah.

Pada tahun 1903, sekolah pendidikan kelas dua di Jawa dan Madura terdapat 245 sekolah bertaraf negeri serta di Fartikelir terdapat 326 sekolah yang diantaranya 63 sekolah dari Zending. Jumlah murid yang diterima pada tahun 1892 terdapat 50.000 siswa. Lalu pada tahun 1902 terdapat 1.623 siswa dari pribumi yang belajar di sekolah Eropa seperti pada  macam macam hukum di Indonesia

Isi politik etis dalam hal edukasi ini juga membedakan sekolah sekolah antara anak pribumi golongan bawah dengan anak anak yang berharta yang merupakan  contoh pelanggaran norma sosial. Untuk sekolah yang bertujuan menjadi pamong praja terdapat tiga sekolah Osvia yang berada di Magelang, Probolinggo dan Bandung.

His atau Hollandsch Indlandsche School yaitu setingkat SD.
MULO atau Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs yaitu setingkat SMP.
AMS atau Algemeene Middlebare School yaitu setingkat SMU.
Kweek School atau Sekolah Guru bagi kaum bumi putra.
Technical Hoges School atau Sekolah Tinggi Teknik yang terdapat di Bandung. Namun pada tahun 1902, didirikan sekolah pertanian yang terdapat di Bogor (sekarang namanya menjadi IPB).

[AdSense-B]

2. Irigasi atau Pengairan

Pada tahun 1885 dibangunlah pengairan oleh pihak pemerintah untuk sarana irigasi pertanian. Untuk bangunan irigasi yang terdapat di Demak dan Beratas luasnya mencapai 96.000 bau. Tetapi pada tahun 1902 luasnya menjadi 173.000 bau. Dengan irigasi tersebut akan membuat tanah menjadi lebih subur dan produksinya juga dapat bertambah seperti pada  dampak positif dan negatif demokrasi.

Adapun Tokoh tokoh pencetus politik etis mencakup beberapa bidang pekerjaan seperti fasilitator seperti dalam  contoh kasus pelanggaran hak warga negara, kritikus kebijakan tersebut, inisiator dan eksekutor. Berikut beberapa tokoh pencetus politik etis:

  • Eduard Douwes Dekker (1820-1887)
  • Conrad Theodore van Deventer (1857-1915)
  • Dr. Douwes Dekker (1879-1950)
  • Pieter Brooshooft (1845-1921)
  • Jacques Henrij Abendanon (1852-1925)

Sebenarnya pencetus politik etis pertama ialah atas usulan dari Van Devender. Beliau didukung oleh beberapa tokoh lainnya yakni:

  • Mr. P. Brooshoof selaku redaktur surat kabar De Lokomotif, yang telah menerbitkan buku yang berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek atau Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial pada tahun 1901.
  • K.F. Holle yang telah banyak memberikan bantuan bagi kaum tani.
  • Van Vollen Hoven melakukan pendalaman hukum adat dari beberapa suku di Indonesia.
  • Abendanon yakni tokoh yang memikirkan penduduk pribumi dalam hal pendidikan.
  • Leivegoed yakni jurnalis yang banyak menulis karangan mengenai rakyat Indonesia.
  • Van Kol seorang penulis keadaan dari pemerintahan Hindia
  • Belanda.
    Douwes Dekker (Multatuli) yang menciptakan buku berjudul Max Havelaar, Saya dan Adinda.

Itulah tadi, tujuan utama politik etis dan pencetusnya. Semoga dapat bermanfaat.