Ancaman Hukuman Penggelapan yang Berat dan Mengikat

Di Indonesia, kita dapat dengan mudah menemukan banyak sekali jenis perusahaan. Ada perusahaan yang bergerak dalam bidang industri, ada perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, dan lain sebagainya. Jenis perusahaan sendiri juga dibedakan menurut kepemilikiannya, ada perusahaan yang dimiliki oleh swasta, dan juga ada perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah. Kedua jenis perusahaan tersebut tentunya memiliki pedoman untuk menjalankan segala aktifitas dalam perusahaan mereka. Dan mereka harus memastikan bahwa segala aktifitas yang mereka lakukan di dalam perusahaan tersebut tidak melanggar hukum perusahaan yang berlaku di negara Indonesia yang tentunya bersumber dari contoh hukum Undang Undang.

Hukum Perusahaan sendiri merupakan salah satu dari banyak jenis hukum seperti contoh hukum doktrin dan contoh hukum yurisprudensi. Di dalamnya tidak hanya mengatur tentang bagaimana sebuah perusahaan melakukan kegiatan mencari keuntungan di negara Indonesia ini tanpa merugikan orang lain, namun di dalamnya juga menyinggung mengenai hukum penggelapan. Hukum penggelapan merupakan suatu aturan yang membahas mengenai perilaku penggelapan yang dilalukan oleh seorang pejabat yang bekerja dalam sebuah perusahaan, perusahaan manapun jenisnya.

Hukum penggelapan juga diatur kedalam KUHP yang juga mengatur hukum-hukum lainnya selain penggelapan seperti hukuman bagi penuduh zina dan hukuman seumur hidup menurut Pasal 10 KUHP yang mempunyai berat hukuman dan pelaksanaan hukum yang tentunya berbeda-beda. Banyak sekali perusahaan yang ternodai akibat dari perilaku curang pejabatnya sehingga menyebabkan kerugian material. Tidak hanya rugi harta yang diambil langsung oleh pejabat tersebut, namun perusahaan juga memiliki kerugian jangka panjang akibat dari image perusahaannya yang sempat hancur akibat dari adanya perilaku penggelapan.

Harga saham akan menurun drastis, dan apabila perusahaan tidak mampu untuk survive, maka kebangkrutan merupakan opsi terbaik yang dimilikinya. Tentunya tidak ada perusahaan yang menginginkan kebangkrutan bukan? Oleh karena itu perhatian khusus posibilitas penggelapan ini harus ditingkatkan.  Cara termudah adalah dengan mengingatkan pegawai dengan beberapa hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereak apabila berbuat demikian, yang mana bisa anda lihat pada ancaman hukuman penggelapan di bawah ini :

Pengertian Tindak Pidana Penggelapan

Sebelum kita menelusuri lebih jauh mengenai apa saja ancaman hukuman penggelapan yang dapat dikenakan, mari kita ketahui terlebih dahulu mengenai hukuman penggelapan itu sendiri yang mana beberapa unsurnya sudah diatur di dalam bentuk hukum perusahaan.

Soesilo mengatakan bahwa penggelapan merupakan kejahatan yang tingkatannya dapat disamakan dengan pencurian yang mana dapat ditemukan pada Pasal 362. Perbedaan yang mendasar antara pencurian dengan penggelapan adalah, pada saat pencurian, harta benda atau barang yang diinginkan tentu saja masih belum berada di tangan pencuri. Ia masih harus melakukan usaha dengan mengambilnya dari pemiliki barang tersebut. Lain halnya dengan proses penggelapan yang mana kepemilikan barang tersebut sudah berada pada tangan pembuat, jadi tidak perlu langkah kejahatan seperti mencuri untuk bisa mendapatkannya.

[AdSense-B]

Pendapat lain diperoleh dari Lamintang yang menyatakan bahwa penggelapan merupakan hak atau kewenangan yang disalahgunakan oleh pelaku untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan yang tidak semestinya, namun kewenangan tersebut diperolehnya bukan melalui tindakan yang melawan hukum. Dengan adanya kewenangan atau kepercayaan tersebut, seseorang akan lebih mudah untuk mendapatkan akses untuk mengambil harta yang jelas-jelas merupakan perbuatan yang melawan hukum.

Unsur Objektif Tindak Pidana Penggelapan

Selain membahas mengenai pengertian dari hukum penggelapan itu sendiri, kita akan menuju kepada apa saja unsur yang dapat mempengaruhinya. Di sini ada dua unsur utama yakni unsur objektif dan subjektif. Dengan mengambil nilai dari contoh hukum objektif dan juga unsur-unsur hukum perusahaan, ada beberapa unsur objektif yang perlu diperhatikan. Tongat membaginya menjadi lima unsur yang berbeda, yaitu :

  1. Pengakuan barang, barang penggelapan akan diakui menjadi harta miliki pelaku penggelapan itu sendiri, sehingga harta curian tersebut seolah terlihat milik ia sendiri. Untuk tujuan penggunaan harta tersebut tergantung dari para pelaku sendiri, ada yang memutuskan untuk mengkonversi harta tersebut menjadi uang untuk kemudian dijadikan modal usaha, untuk meningkatkan kekayaannya, dan alasan lainnya.
  2. Suatu barang, yang menjadi benda yang akan digelapkan oleh pelaku penggelapan. Barang ini bisa berupa apa saja, namun penggelapan secara umum seringkali melibatkan uang.
  3. Harta tersebut sebagian atau seluruhnya merupakan milik orang lain. Hampir sama dengan kasus korupsi, penggelapan ini juga merupakan perbuatan mencuri harta yang seharusnya bukan menjadi hak milik, dengan kata lain mencuri. Seringkali harta yang digelapkan merupakan kepemilikanorang banyak, seperti deposit nasabah misalnya.
  4. Menggunakan kekuasaan untuk melakukan kejahatan, namun dalam hal ini kekuasaan yang berhasil diperoleh bukanlah berasal dari kecurangan atau kejahatan. Kewenangan atau kekuasaan tersebut diperoleh dengan cara yang tidak melanggar hukum dengan melalui kompetensi dan juga prestasi. Sayangnya, kekuasaan tadi digunakan untuk melakukan hal yang tidak benar, seperti perbuatan penggelapan contohnya.

Unsur Subjektif Tindak Pidana Penggelapan

Sebagian besar unsur objektif ini sebenarnya sudah berada pada unsur obektif di atas. Hanya ada dua tambahan unsur pada bagian unsur subjektif ini. Dua unsur tersebut adalah perbuatan melawan hukum dan tujuan (atau maksud). Pertama kita akan membahas perbuatan melawan hukum. Tentunya kita semua tahu bahwa penyerahan barang tentunya harus ada persetujuan dari kedua pihak, pemberi dan penerima. Kegiatan seperti jual beli, sewa, atau meminjam bukanlah suatu hal yang melanggar hukum. Namun, apabila seseorang berusaha untuk mengambil harta seseorang untuk kemudian digunakan untuk diri sendiri dan orang lain, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai penggelapan dan tentunya termasuk dalam perbuatan melawan hukum.

Untuk unsur yang kedua yaitu maksud, adalah tujuan untuk apa harta tersebut diperoleh. Apabila seseorang dengan sengaja mengambil harta orang lain untuk keuntungan pribadi dan orang lain, maka tindakan atau perbuatan tersebut bisa dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum yang tentunya akan mendapatkan sanksi yang berat.

[AdSense-C]

Ancaman Hukuman Penggelapan

Tentunya para pelaku kejahatan tidak bisa lepas begitu saja dengan bebas. Perlu ada perilaku untuk membuat mereka jera dan juga sebagai langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang lagi pada masa yang akan datang, yang tentunya akan membawa dampak yang sangat buruk bagi perusahaan. Dengan mangambil beberapa sifat sifat hukum beserta fungsi hukum perusahaan, kita dapat mengambil dua pasal yang menjelaskan mengenai pelaksanaan hukuman bagi para pelaku penggelapan.

Pasal 372 KUHP

Pada Pasal 372 KUHP ini diterangkan bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan memiliki barang sesuatu atau seluruhnya atau sebagian merupakan milik orang lain yang masih pada kekuasaannya didapat bukan karena kejahatan akan terancam dikenakan hukum penggelapan dengan hukuman pidana penjara paling lama empat tahun dan atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah

Pasal 374 KUHP

Menjelaskan tentang penggelapan yang dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan terhadap barang yang disebabkan karena adanya hubungan kerja atau pencarian atau karena mendapat upah untuk hal tersebut akan diancam dengan hukuman pidana paling lama lima tahun.

Itulah pembahasan singkat mengenai ancaman hukuman penggelapan. Semoga kita bisa terhindar dari kegiatan busuk ini, karena keuntungan yang didapat hanya di awal saja, selebihnya kita akan dihantui rasa bersalah dan sanksi yang cukup berat. Mencari harta dengan cara yang halal merupakan perjuangan yang sehat dan menenangkan. Kita tidak perlu taku melanggar hukum, dan masih bisa memberikan senyuman di keluarga kita.