Yang wajib Anda Tahu Mengenai Apa Itu Pemilu Legislatif?

Apa itu pemilu legislatif ?, Di tahun 2019 ini akan ada apa? Pemilihan presiden, atau pilpres. Semua orang sadar soal itu. Sebaliknya, sedikit yang sadar bahwa 17 April nanti kita juga akan melakukan pemilihan anggota legislatif, yaitu DPR RI, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Dibandingkan dengan pemilihan presiden, pemilihan legislatif terasa sangat kurang greget. Pemberitaan media, perbincangan di media sosial, berbagai acara deklarasi dan kumpul-kumpul, semua didominasi oleh kegiatan untuk pemilihan presiden. Kampanye partai-partai untuk pemilihan anggota legislatif nyaris tak terdengar.

Jabatan presiden memang sangat sentral. Tidak heran fokus orang pada pemilihan presiden. Pemilihan presiden dilaksanakan bersama pemilihan anggota legislatif itu seperti menggabungkan pertandingan sepak bola Piala Dunia dengan pertandingan Liga Indonesia. Wajar saja kalau perhatian orang lebih besar pada pemilihan presiden. Pemilihan presiden hanya menyediakan 2 calon. Fokus perhatian orang terarah hanya pada 2 pasang itu. Pendukung terbagi hanya pada 2 kelompok itu. Bandingkan dengan pemilihan legislatif. Partainya saja ada banyak, apalagi calonnya. Konsentrasi massa pendukung untuk pemilihan presiden jelas sangat jauh lebih tinggi daripada pemilihan legislatif.

Pada dasarnya, Pemilu Legislatif Merupakan Pemilihan (Pemilu) Anggota Legislatif (DPR,DPD,DPRD) Se – Indonesia Dalam Jumlah Tertentu. Berkaca dari penyelenggaraan pemilihan anggota legislatif tahun 2014, banyak masyarakat yang bingung mau pilih calon yang mana. Sangat sedikit dari calon-calon yang namanya tertulis di surat suara yang di kenal namanya. Dari yang di kenal itu tidak ada yang memenuhi kriteria untuk di pilih. Banyak masyarakat tidak melihat kiprah positif mereka, baik sebagai anggota dewan (bagi yang sedang menjabat), maupun sebagai anggota masyarakat yang ingin menjadi anggota dewan.

keadaan itu berujung pada suatu kenyataan soal kinerja DPR. Adalah fakta bahwa kinerja DPR sangat rendah. Apalagi DPRD. Masyarakat tidak melihat bukti-bukti kerja DPR, juga tidak mengenal kiprah para anggotanya. Para anggota DPR yang sering menjadi bahan berita adalah orang-orang yang sibuk terlibat dalam pusaran pemilihan presiden saja. Eksistensi mereka sangat tergantung pada calon presiden yang mereka usung. Alih-alih mempromosikan partai, mereka lebih suka mempromosikan calon presiden, dengan harapan akan mendapat cipratan popularitas dari calon presiden.

Sebelum digabungkan dengan pemilihan presiden pun pemilihan anggota legislatif sudah sangat kurang greget. Partai-partai umumnya hanya berpusat pada figur, bukan program, apalagi ideologi. Begitu sang figur surut pamornya, surut pula pamor partai itu. Ada banyak partai yang sudah tidak lagi punya figur yang diandalkan, lalu perolehan suaranya terus merosot. Kini mereka terancam tidak lolos electoral threshold. Dalam situasi itu, ditambah lagi dengan kedua pemilu yang digabung, partai-partai menjadi semakin tak bergaung. Kemudian masyarakat akan memilih asal-asalan. Atau, memilih atas dorongan kepentingan lain, yaitu imbalan.

Secara umum, berikut gambaran apa itu pemilu legislatif 2019, yang dikutip dari wikipedia.

Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2019 (biasa disingkat Pemilu Legislatif 2019) diselenggarakan pada 17 April 2019, untuk memilih 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2019–2024. Pemilu Legislatif tahun tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Pemilihan umum Presiden Indonesia 2019.

[AdSense-B]

Peserta pemilihan umum anggota DPR terdiri dari 27 partai yang mendaftar, hanya terdapat 14 partai yang memenuhi syarat administrasi dan verifikasi faktual secara nasional. Verifikasi ini mencakup keberadaan pengurus inti parpol di tingkat pusat, keterwakilan perempuan minimal 30% dan domisili kantor tetap di tingkat DPP. Kemudian, di tingkat Provinsi, ada tambahan syarat, yakni memenuhi keanggotaan di 75% Kabupaten/Kota di 34 provinsi. Syarat terakhir, yakni status sebaran pengurus minimal 50% kecamatan pada 75% Kabupaten/Kota di 34 provinsi.

Daerah pemilihan Pemilihan Umum Anggota DPR adalah provinsi atau gabungan kabupaten/kota dalam 1 provinsi, dengan total 80 daerah pemilihan. Jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan berkisar antara 3-10 kursi. Penentuan besarnya daerah pemilihan disesuaikan dengan jumlah penduduk di daerah tersebut. Sedangkan Daerah pemilihan Pemilihan Umum Anggota DPD adalah provinsi sehingga terdapat 34 daerah pemilihan untuk 34 provinsi. Jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan atau provinsi adalah empat orang.

Dari uraian dan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa para Pemilih akan cenderung menentukan pilihan kepada orang-orang yang hadir di depan mereka, membawakan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek bagi mereka, memberikan pelayanan selama masa kampanye. Sebenarnya itu hanya bentuk halus dari politik uang. Bahkan tidak sedikit pula yang terang-terangan menyodorkan uang sebagai imbalan.

Besar kemungkinan kita akan mendapatkan anggota legislatif yang secara keseluruhan lebih buruk dari sekarang, sebagai akibat bersandingnya kedua pemilihan umum ini. Orang-orang yang terpilih melalui tebaran uang akan kalap mencari uang untuk mengembalikan modal yang sudah mereka keluarkan. DPR dan DPRD yang selama ini sudah korup, akan makin korup lagi. Pemilihan legislatif akhirnya hanya kegiatan mubazir yang menghabiskan dana triliunan rupiah.

Itulah tadi, Hal yang wajib anda tahu mengenai apa itu pemilu lagislatif?. Semoga dapat bermanfaat.