Sponsors Link

Dampak Politik Adu Domba di Indonesia

Sponsors Link

Politik adu domba atau dikenal juga sebagai devide et impera pernah diterapkan oleh Belanda ketika ingin menguasai wilayah Indonesia. Politik ini dinilai sebagai cara yang efektif oleh VOC dan pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai suatu wilayah tertentu.

ads

Pada awalnya, VOC datang ke wilayah Indonesia dengan tujuan berdagang. Namun kemudian VOC ingin menguasai wilayah tersebut sekaligus karena akan lebih menguntungkan perusahaan dagang mereka. Mereka pun menuntut penguasa wilayah setempat untuk memberikan hak monopoli dagang kepada VOC, tetapi keinginan tersebut ditolak. Akhirnya VOC berniat untuk mengganti penguasa wilayah setempat dengan orang yang bersedia diajak bekerjasama dan memberikan keuntungan untuk VOC.

Pengertian Politik Adu Domba

Politik adu domba atau devide et impera merupakan politik memecah belah. Politik adu domba mengkombinasikan strategi politik, militer dan ekonomi dengan tujuan untuk memperoleh kekuasaan dengan cara memecah belah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil sehingga lebih mudah untuk ditaklukkan. Tidak hanya itu, politik adu domba juga memiliki prinsip untuk mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu agar tidak menjadi kelompok besar yang lebih kuat dan sulit untuk dikalahkan.

Devide et impera umum diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonial mulai abad 15 sebagai strategi perang yang efektif. Bangsa-bangsa kolonial tersebut antara lain Inggris, Spanyol, Portugis, Belanda dan Prancis. Bangsa-bangsa tersebut dikenal sebagai bangsa yang kerap melakukan ekspansi dan mencari sumber daya alam yang dibutuhkan. Mereka umumnya melakukan ekspansi ke wilayah tropis yang memang kaya akan sumber daya alam. Ketika melakukan ekspansi ke suatu wilayah, devide et impera pun berkembang, tidak lagi hanya menjadi strategi perang tetapi juga menjadi strategi politik.

Di Indonesia sendiri, politik adu domba sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Strategi ini digunakan oleh pemerintah Belanda untuk kepentingan politik, militer dan ekonomi, serta bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan Belanda di wilayah Indonesia.

Praktek Politik Adu Domba di Indonesia

Politik adu domba atau devide et impera telah membuat Indonesia mengalami perjalanan sejarah yang begitu panjang. Pemerintah Belanda dulu menerapkan strategi politik ini di berbagai wilayah di nusantara. Politik yang bertujuan untuk memecah belah inilah yang akhirnya membuat kekuatan-kekuatan yang tersebar di wilayah nusantara menjadi sulit untuk bersatu.

Strategi politik adu domba di Indonesia bermula ketika perusahaan dagang asal Belanda atau VOC mulai berdagang di Batavia pada 1602 dan kemudian tujuan dagang tersebut berubah menjadi niat untuk menjajah. Mereka melakukannya dengan cara mengajak pribumi untuk menjadi pegawai VOC dengan penawaran menarik dan mengkhianati bangsa sendiri. Penguasa atau raja di suatu wilayah diadu domba dengan raja di wilayah lainnya untuk menciptakan perpecahan.

Di satu sisi ada kelompok yang tidak ingin begitu saja menerima tawaran kerjasama dari VOC dan berjuang untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Di sisi lain, ada kelompok yang justru nyaman menikmati rejeki dari hasil kerja sama dengan VOC. Begitulah devide et impera terus berjalan hingga ratusan tahun di nusantara.

Politik adu domba boleh jadi menjadi sebuah strategi politik yang sudah tua. Namun ternyata penerapan strategi politik tersebut tidak hanya dipraktekkan oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. Kenyataannya, di masa kini strategi politik ini masih diterapkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Misalnya saja para elit politik yang menjalankan strategi politik memecah belah untuk memuluskan jalan mereka dalam merengkuh kursi jabatan di DPR atau bahkan jabatan yang lebih tinggi.

Hal yang paling sering kita jumpai mengenai praktek adu domba di Indonesia adalah suguhan berita-berita tentang perseteruan antar kelompok. Berita-berita yang isinya saling tuding dan penuh dengan intrik politik muncul di berbagai platform tidak hanya di televisi tetapi juga di media sosial yang sangat mudah diakses oleh masyarakat.

Apalagi pada saat menjelang pemilihan presiden, masyarakat digiring untuk menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Masing-masing membela calon presiden jagoannya dan mati-matian mempertahankan pendapat. Perselisihan di media sosial pun tidak dapat dihindari, dua kubu saling melempar isu untuk menjatuhkan kubu lawan.

Dampak Politik Adu Domba di Indonesia

Pada masa penjajahan Belanda, politik adu domba memberi dampak yang sangat besar terhadap keutuhan wilayah-wilayah di nusantara. Ketidaktahuan rakyat pada masa itu membuat Belanda dengan mudah memecah belah persatuan dan muncul kelompok-kelompok kecil dengan kedudukan yang lemah. Permusuhan antar kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi bentrok antar wilayah yang sering terjadi. Tujuan untuk mencapai persatuan pun makin sulit dicapai.

Di masa sekarang, politik adu domba menyebabkan perselisihan di masyarakat seolah masyarakat kita masih suka diadu-adu dan mudah terpancing isu. Budaya baca yang rendah membuat masyarakat lebih sering melahap mentah-mentah berita yang beredar. Akibatnya masalah kecil bisa berkembang menjadi masalah yang besar. Misalnya saja elit politik yang memanfaatkan isu-isu bertema SARA dan sengaja dilempar ke media untuk memunculkan ketegangan di masyarakat.

Hal ini tentunya mengancam kerukunan dan toleransi antar umat beragama, suku dan ras. Tersebarnya berita-berita yang belum tentu kebenarannya juga dapat membuat resah masyarakat, misalnya saat menjelang Pilpres. Hubungan pertemanan pun menjadi renggang hanya gara-gara memiliki pandangan politik yang berbeda.

Unsur-unsur yang digunakan dalam strategi politik adu domba sebetulnya adalah untuk menciptakan perpecahan dan mencegah terbentuknya kelompok yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar. Akibatnya muncul tokoh-tokoh ‘boneka’ yang saling melemahkan satu sama lain dan mendorong rasa tidak percaya antar masyarakat.

Harapan kita sebagai bangsa Indonesia tentu tidak ingin negara menjadi terpecah belah. Maka dari itu kita jangan lagi mau diadu domba. Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk selalu menguatkan tali persatuan tanpa memandang suku, agama dan ras.

, , , , , , , ,
Post Date: Friday 27th, September 2019 / 09:18 Oleh :
Kategori : Politik