Sejarah Terbentuknya PKI ( Partai Komunis Indonesia )

Partai Komunis Indonesia merupakan partai dengan sejarahnya yang memiliki pengaruh besar dalam perpolitikan di Indonesia. Pada masanya, PKI adalah partai komunis terbesar setelah Rusia dan Cina. Partai ini telah dibubarkan dan dilarang keberadaan karena dianggap tidak sesuai dengan pancasila dan melawan negara melalui beberapa pemberontakan yang dilakukan. Peristiwa 30 September 1965 menjadi hal kelabu bagi sejarah negara Indonesia, tujuh jendral terbunuh dan setelahnya PKI dibubarkan. Segala atribut partai dan simbol-simbolnya dilarang dan dianggap melawan negara.

Dalam catatan sejarah, Partai Komunis Indonesia telah tiga kali dianggap melaukan pemberontakan terhadap pemerintah. Yang pertama saat rezin pemerintahan Hindia Belanda, dan yang kedua dan ketiga pada saat pemerintahan Soekarno. Meskipun telah beberapa kali memberontak dan dilarang, namun simpatisan partai ini dapat terus tumbuh cepat karena banyaknya kaum proletar yang merasa terwakili dengan visi partai ini. Kaum proletar Indonesia berbeda dengan proletar di Rusia yang merupakan kaum buruh. Basis proletar Indonesia adalah para petani, yang kerap mendapatkan ketidakadilan dari para pemilik modal.

Bagaimanakah sejarah terbentuknya partai komunis terbesar ketiga di dunia ini?

Kelahiran PKI tidak lepas dari peran Henk Sneevliet, seorang sosialis Hindia Belanda yang bersama kelompoknya membentuk serikaat kerja di pelabuhan pada 1914 dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereeniging atau yang disingkat dengan ISDV. Serikat kerja ini dibentuk oleh 85 orang dan dua partai sosialis belanda, SDAP dan Partai Sosialis Belanda yang kemudian berubah nama menjadi SDP Komunis. Para anggota Belanda yang berada di ISDV mengedukasi warga-warga pribumi untuk menentang kekuasaan kolonialisme.

Satu tahun kemudian, pada Oktober 1915 ISDV menerbitkan koran berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang berarti Kata Yang Merdeka yang dijadikan sebagai alat propaganda. Namun walaupun mengedukasi warga pribumi untuk menentang kekuasaan kolonialisme, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Dari 100 anggotanya pada tahun itu, hanya tiga orang yang merupakan orang pribumi. Serikat kerja ini tumbuh dengan cepat menjadi radikal dan anti kapitalis.

Baca Juga:

Sneevliet kemudian memindahkan markas ISDv dari Surabaya ke Semarang. Di sana ia menarik banyak orang-orang pribumi dari berbagai elemen seperti agama, nasionalis, dan aktivis gerakan-gerakan lain yang banyak tumbuh di Hindia Belanda sejak 1900. Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV merasa tidak puas dengan dengan kepemimpinan SDAP di Belanda yang menjauhkan diri dari ISDV. ISDV juga menolak bekerja sama dengan pemerintah karena harus berpura-pura menjadi Dewan Masyarakat. [AdSense-B]

Pada tahun 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk Partai Demokrasi Hindia Belanda. Di tahun yang sama, ISDV kembali merilis publikasi, kali ini dengan bahasa Indonesia dengan nama Soeara Merdeka.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ia merasa yakin revolusi oktober yang terjadi di Rusia harus ditiru di Indonesia. ISDV kemudian berhasil mengumpulkan orang-orang dari kalangan tentara dan pelaut Belanda yang berada di Hindia Belanda. Mereka membentuk aliansi yang dinamakan “Pengawal Merah” yang tumbuh cepat. Dalam tiga bulan mereka berhasil mengumpulkan 3000 orang. Akhir 1917 kelompok itu melakukan pemberontakan di Surabaya yang merupakan pangkalan utama Hindia Belanda saat itu dan membentuk Dewan Soviet. Para penguasa kolonial menindas Dewan Soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpinnya dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontak di kalangan militer Belanda pun dijatuhi hukuman 40 tahun penjara.

ISDV kemudian membentuk organisasi anti-kolonialis yang mereka namakanSarekat Islam. Banyak anggota Sarekat Islam yang tertarik dengan ide-ide Sneevliet seperti Semaun dari Surabaya dan darsono dari Solo. Sebagai hasil dari strategi Sneevliet kemudian banyak dari anggota Sarekat Islam untuk memebentuk kelompok revolusinoeris yang lebih Marxist, Sarekat Rakjat.

[AdSense-A]

ISDV kemudia terusw bergerak secara diam-diam. Organisasi ini merilis publikasi yang lain dengan tajuk Soeara Rakyat. Setelah kepergian paksa beberapa kader Belanda, dan dengan kobinasi pengerjaan dengan Syarekat Islam, keanggotaan ISDV berpindah dari mayoritas Belanda ke Mayoritas Indonesia. Pada 1919, anggota Belanda pada organisasi ini hanya tersisa 25 orang dari total 400 orang anggota.

Di Semarang pada bulan Mei 1920, ISDV mengadakan kongres dan mengubah nama organasasi itu menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaun menjadi ketua partai dan Darsono menjadi wakil ketuanya. Sekertaris, bendahara, dan tiga dari lima anggota komite adalah orang Belanda. PKH adalah partai komunis dari Asia pertama yang menjadi dari bagian Komunis Internasional. Henk Sneevliet yang berada di Belanda menjadi perwakilan PKH pada kongres kedua Komunis Ionternasional pada 1921.

Baca juga:

Mejelang kongres ke-enam Sarekat Islam ke-21, para anggota menyadari strategi Sneevliet dan berupaya untuk menghentikannya. Agus Salim selaku sekretaris organisasi, melarang anggota Sarekat Islam memegang keanggotaan dan gelar ganda dari pihak lain dalam perjuangan pergerakan Indonesia.

Keputusan tersebut mengecewakan banyak pihak dalam Sarekat Islam, terutama yang berhaluan kiri. Mereka keluar dari partai, seperti Tan Malaka dan Semaun yang kecewa dan kemudian mengubah taktik dalam perjuangan pergerakan Indonesia. Di periode yang sama, pemerintah Belanda menyerukan untuk pembatasan kegiatan politik, lalu Sarekat Islam memutuskan untuk lebih fokus untuk kegiatan agama.

Bersama Semaun yang berada di Moscow untuk menghadiri Far eastern Labor Conference pada awal 1922, Tan Malaka berupaya untuk mengubah pemogokan pekerja pegadaian pemerintah menjadi pemogokan nasional untuk mencakup semua serikat buruh Indonesia. Namun upaya tersebut gagal, dan Tan Malaka ditangkap dan diberi peilihan antara pengasingan internal atau eksternal. Lalu Tan Malaka memilih yang terakhir dan berangkat ke Rusia.

Mei 1922, Semaun kembali dari Rusia setelah tujuh bulan berada di sana. Ia mulai mengatur semua serikat buruh dalam satu organisasi. Pada 22 September, Serikat Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia dibentuk.

Pada 1924, Kongres Komunis Internasional kelima digelar. Pada kongres itu, Semaun yang menjadi perwakilan PKH menekankan bahwa: prioritas utama dari partai-partai komunis adalah untuk mendapatkan kontrol dari persatuan buruh, karena tidak mungkin ada revolusi yang sukses tanpa persatuan kelas buruh ini.

Di tahun yang sama, Partai Komunis di Hindia berubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia.