Sponsors Link

Inilah 7 Penyebab Terjadinya Pelanggaran Hak Cipta di Indonesia

Sponsors Link

Pelanggaran hak cipta seringkali diistilahkan sebagai pembajakan. Kasus ini cukup banyak terjadi karena kurangnya kesadaran terhadap penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta di Indonesia ditambah para pembajak tersebut juga tidak memperhatikan aturan hukum.

ads

Padahal, aturan tentang hak cipta telah ditetapkan dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Pasal (1) ayat 1-4 memuat tentang definisi hak cipta, pencipta, ciptaan dan pemegang hak cipta. Bahkan ketika berkampanye pun seseorang harus punya hak cipta ide kampanye sendiri dan hal ini termasuk tata cara kampanye  yang baik.

Jadi, sudah ada definisi yang jelas dan baku tentang apa hak cipta itu, yakni sebuah hak khusus yang hanya dikenakan pada pencipta untuk dapat mempublish karyanya. Sementara di ayat 2 dijelaskan lebih detail lagi tentang pencipta yang didefinisikan sebagai pelaku pembuat suatu ciptaan. Pada ayat 3 dijelaskan bahwa ciptaan merupakan karya yang tertuang dari pemikiran, keahlian, imajinasi, atau kecakapan lain milik si pencipta.

Hal inilah yang selanjutnya menjadi latar belakang mengapa ada banyak penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta di Indonesia. Jadi jika ada yang mengganggu hak cipta orang bahkan hingga melakukan pencurian karya dan sebagainya tentu termasuk contoh pelanggaran norma sosial.

Dari penjelasan di Undang-undang Undang Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Pasal (1) ayat 1-3 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemegang hak cipta adalah orang yang mencipta dan hak-haknya dilindungi oleh negara. Jadi, sebelum memahami tentang penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta, terlebih dahulu harus diketahui apa saja ruang lingkup hak cipta. Apalagi sekarang hak cipta sudah dapat dilanggar secara online sehingga termasuk dalam pelanggaran cyber crime.

Ruang lingkup hak cipta yaitu ketika seseorang mengumumkan karya ciptaannya kepada masyarakat. Selain itu, ruang lingkupnya juga saat si pencipta memperbanyak karya itu. Sebagai contoh, jika seseorang melakukan perekaman lagu yang ditulis dan dinyanyikan sendiri maka hal ini termasuk hak sebagai pencipta karya. Jadi, seseorang yang bukan pencipta atau tidak punya kewenangan atas itu lalu memperbanyak karya tersebut dalam bentuk copy maka statusnya adalah melanggar hak cipta. Bahkan ada beberapa hal yang jika dilakukan dapat memberatkan pelakunya karena berhubungan dengan pelanggaran HAM.

Berikut ini adalah beberapa penyebab penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta di Indonesia:

1. Minimnya kesadaran untuk menghargai orang lain

Penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta di Indonesia yang pertama adalah minimnya kesadaran. Pembajakan seperti ini sering menimpa para musisi atau pembuat film yang menemukan karyanya dicopy tanpa sepengetahuannya. Di Indonesia sendiri ada istilah CD bajakan untuk film maupun lagu-lagu dan video klip. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab pelanggaran hak cipta ini adalah minimnya kesadaran untuk menghargai orang lain. Tentunya hal ini merupakan salah satu contoh pelanggaran sila ke 2 Pancasila.

2. Tingginya permintaan

Buku atau karya sastra juga tidak luput dari pembajakan. Bukan hanya karya fiksi yang tebal dan harganya cukup tinggi, tetapi juga karya non fiksi seperti buku-buku literatur sengaja digandakan dan dijual dengan harga murah. Biasanya, alasan klasik orang-orang mau membeli barang bajakan meskipun kualitasnya buruk adalah soal harga. Jadi, alasan kedua yang menyebabkan terjadi pelanggaran hak cipta adalah ada permintaan atas bawang KW tersebut. Ironisnya, ada juga beberapa permintaan yang menyebabkan pelanggaran iklan di televisi baik berhubungan dengan hak cipta maupun lainnya.

3. Ingin memperoleh keinginan secara instan

Di dunia online shop, masalah pelanggaran hak cipta juga sering menimpa para seller maupun buyer. Misalnya ketika seseorang membuat katalog online yang isinya barang-barang ori atau asli, lalu menawarkannya pada customer. Karena modelnya bagus dan harganya murah maka customer akan tertarik untuk membeli. Sayangnya, ketika barang sampai di tempat tujuan customer akan kecewa karena kualitasnya sangat jauh berbeda dengan katalog online.

4. Tidak memperhatikan kekecewaan orang lain

Bahkan, banyak juga customer yang membuat komunitas atau kolompok percakapan khusus dengan memuat bukti foto ekspektasi vs realita. Di sana tampak jelas bahwa foto barang yang ditawarkan benar-benar elegan, anggun dan tampak menarik. Sebaliknya ketika barang datang kualitas bahan serta pengerjaannya sangat jauh berbeda. Tentu hal ini cukup ironis mengingat giat toko online di Indonesia sudah cukup luas hingga menjangkau daerah-daerah.

Sponsors Link

5. Ingin meminimalisir risiko

Alasan lain yang tentu tidak bisa dibenarkan ketika seseorang memperbanyak karya cipta  orang lain tanpa izin adalah karena ingin mendulang keuntungan tanpa risiko. Karena merk dagang yang dimiliki orang lain sudah populer, maka risiko tidak laku pun akan berkurang. Namun, karena ide yang digunakan seharusnya tidak mencuri dari si pencipta maka hal ini tetap tidak dibenarkan. Padahal, jika mau berinovasi maka akan ada banyak etika bisnis yang menggemparkan tanpa harus merugikan orang lain.

6. Tidak memedulikan inovasi seni

Banyak pengusaha baru yang membuat barang-barang KW dengan kualitas beragam, misalnya KW super, KW menengah, dan KW murah. Jadi, bentuk barang secara fisik memang sama tapi kualitasnya berbeda. Ini dilakukan pada ranah ciptaan karya seni atau barang pada umumnya. Namun, hal ini tentu tetap merugikan meskipun ada pihak-pihak yang diuntungkan.

Karena ide dan inovasi menjadi hal yang abstrak untuk dimiliki, maka naungan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta memang sangat penting guna meminimalisir pelanggaran hak cipta. Namun demikian, sikap proaktif dari masyarakat juga dibutuhkan agar tidak ada lagi pencipta yang merasa dirugikan hingga nominalnya milyaran rupiah hanya karena produk bajakan. Tentu pelanggaran ini juga menyangkut tentang hak-hak orang lain sehingga termasuk contoh pelanggaran nilai nilai Pancasila.

Indonesia termasuk negara yang tinggi permintaan barang bajakan. Jadi, sebagai pembeli maupun orang yang menikmati karya siapapun, sebaiknya pilih barang ori atau asli meskipun harganya lebih tinggi. Karena harga sebuah ide tentu tidak bisa diukur dengan beberapa rupiah saja. Dibutuhkan waktu lama untuk bisa memberikan karya terbaik yang baru dan inovatif. Jadi semua orang harus ikut berpartisipasi dalam memaksimalkan pencegahan terhadap pelanggaran hak cipta. Ini adalah salah satu cara dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi agar setiap orang punya hak untuk mengekspresikan karyanya.

, ,
Post Date: Tuesday 11th, December 2018 / 08:00 Oleh :
Kategori : Hukum