Sponsors Link

Penyebab Perang Karbala di Irak

Sponsors Link

Banyak sekali peristiwa di dunia ini yang disebabkan oleh penyebab konflik antar suku maupun penyebab konflik antar agama. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari dampak konflik suku atau dampak konflik agama adalah lahirnya sebuah peperangan yang bisa menewaskan banyak orang. Selain dari bangsa Indonesia sendiri, peperangan yang disebabkan karena agama juga banyak.

ads

Ada juga berbagai konflik yang juga terjadi selain karena perjuangan bangsa untuk lepas dari penjajahan seperti pada peperangan di negeri kita seperti penyebab perang Padri pecah dan perang yang dikarenakan latar belakang perang Banjar.  Namun, peperangan juga bisa terjadi pada suatu kaum dengan ras yang sama seperti pada Perang Karbala ini. Apakah Perang Karbala itu? Mari kita ulas bersama-sama

Perang Karbala

Perang ini merupakan perang yang terjadi pada satu kaum yang sama, yang hampir sama dengan yang terjadi pada konflik yang diakibatkan oleh penyebab perang Pakistan dan India. Perang ini bisa disebut dengan peperangan saudara dalam Islam kedua yang mana terjadi pada sekitar tanggal 10 Muharram atau dalam kalender Masehi pada 9 / 10 Oktober tahun 680 (Kalender Islam, tahun ke 61). Perang ini merupakan perang yang cukup fenomenal, mengenai pertikaian antara keturunan Nabi Muhammad SAW, dengan kekhalifahan Bani Ummayah yang saat itu dipimpin oleh keturunan dari Muawiyah, bernama Yazid Bin Muawiyah. Untuk Indonesia sendiri, kita bisa bercermin pada bangsa sendiri, yang sudah mengalami berbagai konflik seperti pada penyebab perang Aceh dan juga penyebab konflik Poso.

Perang ini dikarenakan oleh perebutan kekhalifahan yang dilakukan  oleh Bani Ummayah yang saat itu mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah umat Islam secara sepihak. Tentunya umat muslim jauh lebih percaya pada Hasan sebagai khalifah, karena beliau lah yang merupakan orang yang pantas untuk mendapatkan gelar tersebut. Namun, Kaum Muawiyah kala itu tetap kukuh dengan pangangkatan Yazid setelah meninggalnya Muawiyah nanti. Hal tersebut akhirnya diredakan sejenak dengan adanya perjanjian antara Hasan dengan Muawiyah, yang sayangnya kembali diberi bumbu licik oleh Muawiyah. Perangpun tidak bisa dihindari antara keduanya, dan berlangung sangat tidak adil. Sisi hasan yang dipimpin oleh adiknya yakni Husein, hanya memiliki pasukan sejumlah 128 orang, yang melawan pasukan Yazid sejumlah 10.000 orang. Kala itu, pasukan Husein juga ditemani oleh anggota keluarga yang juga ingin untuk ikut berperang, termasuk anak-anak dan wanita. Korban jiwa dari perang ini pun cukup banyak, hampir sama dengan korban jiwa dari akibat konflik Palestina dan Israel.

Sebab Perang Karbala

Kelicikan tadi akhirnya menjadi awal munculnya sebab-sebab lain dari Perang Karbala ini, antara lain :

Sponsors Link

1. Adanya pertentangan soal Kekhalifahan dari Keturunan Abi Hasan dan Muawiyah

Berbeda dengan penyebab Perang Salib yang juga dipengaruhi pula oleh agama, akar dari mengapa perang ini bisa terjadi terdapat pada unsur kelicikan yang terdapat pada Muawiyah, yang mengatakan bahwa dirinyalah seorang khalifah di muka bumi yang memimpin umat Islam. Namun, pernyataan tadi diumumkan secara sepihak, tanpa dibicarakan terlebih dahulu dengan keluarga Khalifah sebelumnya. Pernyataan ini sempat membuat umat muslim bingung, namun mereka lebih memilih Hasan, terutama karena Hasan merupakan salah satu anggota Nabi Muhammad. Untuk mengantisipasi tindakan ini, Hasan kemudian membuat perjanjian dengan Muawiyah.

Namun, beberapa saat kemudian perjanjian tersebut dilanggar. Hasan dari awal sudah tidak percaya dengan Muawiyah, beliau mengira pasti cepat atau lambat Muawiyah akan menghiraukan perjanjian ini. Pendapat ini didukung dengan adanya tulisan dari Syaikh Al-Mufid yang menyatakan bahwa Muawiyah merupakan orang yang bengis, yang pernah berkata bahwa “ Aku pernah berjanji memberikan sesuatu kepada Hasan, namun aku telah memenuhinya. Sekarang aku tidak akan pernah lagi memenuhi janji yang telah aku utarakan, karena semua sudah berada pada telapak kaki ku”. Cukup berbeda sebab dengan konflik yang disebabkan karena penyebab konflik Ambon.

ads
2. Dibunuhnya Hasan Bin Ali

Kelicikan Bani Ummayah diperkuat dengan tragedi meninggalnya Hasan Bin Ali. Hasan Bin Ali bukan meninggal secara alami karena suatu penyakit atau serangan dari hewan buas, namun beliau meninggla dengan cara dibunuh. Hal ini melahirkan suatu kebencian terhadap Bani Ummayah dari Keluarga Ali, karena tidak ada kaum lain yang memiliki kebencian mendalam selain dari Bani Ummayah.

Dengan hal ini, sang adik Husein, tidak bisa tinggal diam begitu saja, mengingat Umaiyah mengangkat anaknya sendiri sebagai seorang khalifah, tanpa persetujuan dari umat Islam, dan juga tanpa adanya bai’at untuk menggantikan sang kakak. Khalifah Yazid tidak diakui oleh umat Islam sendiri, yang mana sang ironis sekali mengingat seorang khalifah merupakan pemimpin bagi seluruh umat Islam yang ada di muka bumi.

3. Pengangkatan Yazid Bin Muawiyah Secara Sepihak Sebagai Khalifah Umat Islam

Sepeninggalan Hasan Bin Ali, kekhalifahan Muawiyah yang seharusnya jatuh kepada adiknya yatu Husein Bin Ali, malah ditahtakan kepada sang anak Yazid bin Muawiyah. Kekhalifahan Yazid dipenuhi dengan segala pertentangan yang datang dari segala penjuru. Yazid yang saat itu sudah menjadi seorang Khalifah meminta kepada gubernur Madinah, untuk membai’at Husein (yang mana merupakan Khalfah yang sah) kepada Yazid. Tentunya hal ini ditolak mentah-mentah oleh Gubernur Madinah, karena orang-orang madinah tidak akan pernah mambai’at orang-orang yang licik seperti Yazid. Sebab Politik ini sama dengan konflik yang terjdi karena latar belakang konflik Israel Palestina yang juga disebabkan karena penyebab perang Israel dan Palestina.

Tidak berhenti pada itu saja, gejolak amarah Yazid juga memuncak ketikda Husein mengumpulkan para pengikutnya untuk membangun sebuah organisasi keagamaan, namu juga memiliki visi atau tujuan politik yang kental dan kuat. Hal ini dikhawatirkan oleh Yazid, karena bisa menggulingkan rezimnya yang telah ia dapat dari sang ayah.

4. Sejarah yang Memiliki Memori Pahit Antara Sunni dan Syi’ah

Perang Karbala bukan merupakan perang yang baru. Pertentangan kaum Sunni dan Syi’ah sudah lama terjadi, jauh sebelum perang ini terlahir. Memori pahit mengenai peperangan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib yang berperang melawan Muawiyah Bin Abu Sofyan, kembali dilanjutkan degan peperangan anaknya yaitu Husein Bin Ali dan Yazid bin Muawiyah. Memori-memori buruk yang tertuang kembali pada generasi berikutnya merupakan sebuah warisan yang terpaksa mengisi kepala-kepala generasi penerus. Hal ini menyebabkan umat muslim sangat berat untuk bersatu, dikarenakan tindakan buruk yang dilakukan oleh para aktor sejarah di masa lampau. Kita bisa melihat pada perang tersebut, ada faktor juag yang mempengaruhi selain agam yaitu perbedaan budaya, dan juga penyebab konflik antar ras.

Sponsors Link

Itulah tadi keempat sebab mengapa Perang Karbala bisa terjadi. Semoga saja kita sebagai bangsa Indonesia bisa memetik suatu ilham dari peperangan ini. Sudah saatnya kita melanjutkan kehidupan kita tanpa memikirkan sejarah kelam yang dimiliki dengan bangsa atau kaum atau ras yang lain. Jangan sampai penyebab konflik sara bisa memecah belah umat. Kita jadikan sebuah engendalian konflik sosial yang baik agar kita bisa hidup dengan damai dan tentram.

, ,
Post Date: Wednesday 03rd, January 2018 / 06:24 Oleh :
Kategori : Internasional