5 Penyebab Konflik Sudan Selatan Perang Sudara

Yang namanya konflik, pasti terjadi di setiap negara di dunia. Sebut saja daerahnya, pasti paling tidak ada satu kali konflik yang pernah terjadi di daerah itu. Mengapa ya, padahal kita sudah hidup bersama sejak beribu tahun yang lalu, lahir dari bangsa yang survive dari kebringasan zaman prasejarah, malah balik menindas satu sama lain. Apakah ini yang namanya manusia modern? Atau memang kita tidak pernah bangkit dari yang namanya perilaku primitif.

Baca juga:

Nampaknya iya, kita masih tidak bisa melupakan tindakan primitif kita terdahulu. Tindakan semena-mena untuk menyiksa orang lain hanya untuk menyenangkan diri pribadi. Padahal, tiap manusia sudah dibekali otak untuk bisa digunakan memecahkan masalah dengan duduk bersama dan berpikir untuk mencapai suatu solusi. Namun nyatanya, justru kita selalu mengambil jalan pintas yattu berkonflik untuk segera menyingkirkan pihak yang berlawanan dengan kita.

Baca juga:

Banyak sekali sebab dari si konflik satu ini. Sebut saja hal apa saja di pikiran anda, hal itu bisa digunakan untuk berkonflik oleh orang yang benar-benar licik. Alasan dari yang masuk akal hingga yang konyol pun ada. Masalah pribadi atau golongan tidak dipandang lagi. Ekonomi, politik, budaya, gunakan semuanya. Hal itulah yang mungkin terjadi di Sudan Selatan, negara yang baru saja merdeka namun sebentar saja sudah timbul konflik di negara itu. Bayangkan saja, hal ini bisa bermula gara-gara asumsi belaka. Bagaimana bisa? Berikut ini Penyebab Konflik Sudan, Simak selengkapnya!

Baca juga:

1. Asumsi Presiden Kir Menuduh Wakilnya Machar Melakukan Kudeta

Ya, semua ini memang berdasarkan asumsi belaka, dari sang pemimpin negara. Entah kabar tersebut benar atau tidak, yang jelas semua ini bermula dari sana. Tidak lama setelah kemerdekaannya, kurang lebih sekitar 2 tahun, Sang Presiden tiba-tiba melakukan tuduhan yang ditujukan untuk wakilnya sendiri yaitu Riek Machar. Tentunya Machar menampik hal ini mentah-mentah, namun sayangnya ia melakukan tindakan yang amat kurang bijak. Sebagai wakil presiden, ia tiba-tiba melarikan diri dan malah menyerang balik Presiden dengan menyuruhnya turun dari tahta.

Tentunya sebagai Presiden, Kiir tidak terima atas tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Wakil Presidennya sendiri. Ia menganggap ini adalah kurang lebih sebagai pemberontakan atas pemerintahan. Disinilah semua bermulai.

Baca juga:

[AdSense-B]

2. Perseteruan Antara Kelompok Bernama Gerakan Pembebasan Sudan Selatan

Meski menyandang nama yang sama, namun kedua kelompok ini entah kenapa terus saja mengikuti jalan pikiran mereka untuk saling berselisih demi nama baik sendiri. Aneh bukan, grup berdiri bersama, namun akhirnya malah terpecah belah sendiri. Bisa ditebak apa yang menyebabkannya, di satu kubu membela Presiden, sedangkan yang lain membela Wakil Presiden yang sedang melarikan diri. Konflik antara dua kubu itu terus terjadi hingga menyebabkan korban jiwa (yang kebanyakan dari warga sipil) lebih dari ribuan orang. Hal ini terus terjadi hingga akhirnya ada penandatanganan perjanjian damai.

Meskipun begitu, konflik tersebut kembali terjadi setelah beberapa tahun. Sungguh amat disayangkan, di sini rakyat sipil kebingungan untuk mencari tempat perlindungan dan pembelaan. Bayangkan saja, ada dua kubu yang harus di pilih, dan apapun yang kita ambil kita akan mati diserang oleh kubu lainnya. Kebingungan rakyat inilah yang menyebabkan korabn jiwa terus berjatuhan.

3. Konflik Antar Etnis Presiden dan Wakil Presiden

Perseteruan antar Presiden dan Wakil Presiden akhirnya merambat ke rakyat juga, sampai ke etnis-etnis kecil yang ada di daerah terpencil. Hal ini menimbulkan kobaran api yang memisahkan antara ras etnis Dinka yang membela Presiden dan etnis Nuer pembela wakil presiden. Nah, pada awalnya hanya konflik kecil-kecilan saja yang muncul, dengan tujuan menggoda lawan mungkin. Namun lama-lama, konflik tersebut berkembang menjadi pertumpahan darah. Hanya gara-gara perbedaan pendapat golongannya. Hanya karena politik.

[AdSense-A]

Tentunya, hal ini menyebabkan rakyat sipil yang menjadi korban. Padahal mereka tidak tahu menahu soal perkara ini, dan kebanyakan dari mereka hanya ingin hidup damai di negara yang mereka tinggali selama ini. Harapan itu seolah sirna. Jutaan orang terpaksa mengungsi ke negara tetangga untuk mencari perlindungan. Mereka “terusir” dari tanah ari mereka sendiri. Walaupun menyadari bahwa sebagaian besar rakyat sudah meninggalkan negara, tidak ada rasa bersalah dari keduap pihak itu. Buktinya, mereka masih kerap melancarkan serangan ke kubu lawan tiap harinya.

Baca juga:

4. Pemasokan Senjata Oleh Beberapa Negara Eropa dan Timur Tengah, Termasuk Israel

Perang tentu saja membutuhkan banyak sumber daya, hal yang paling penting ada di faktor persenjataan. Tentunya, bila senjata memadai, perang akan terus berlanjut sampai ada salah satu pihak yang kalah. Hal inilah yang berlaku di Sudan Selatan, dimana pasokan senjata terus ada, bahkan sangat sulit untuk dihabiskan. Bayangkan saja, ada beberapa negara Eropa Timur dan Timur Tengah seperti Israel, dan Bulgaria. Entah apa maksudnya, entah apa hakikatnya, yang jelas negara-negara tersebut kerap kali melakukan eksport ke Sudan dengan dibuktikan oleh laporan rahasia dari PBB sendiri.

Bila dipikirkan, dengan senjata yang melimpah, tentunya mereka akan melakukan perang habis-habisan bukan. Namun bila dengan tingkat persenjataan yang kurang memadai, mungkin konflik bisa sedikit diredam dengan mediasi antar kedua pihak. Tanpa senjata. Dengan begitu, mungkin konflik yang berkelanjutan bisa dihentikan dari akarnya, jika memang itulah sumber masalah yang paling besar dalam hal ini.

5. Konflik Agama

Sekali lagi, agama disangkut pautkan sebagai Penyebab Konflik Sudan. Dalam kasus Sunda Selatan, konflik terjadi antara etnis yang berama Islam, dengan masyarakat beragama Kristen dan Animisme. Untuk meredakan ketidak adilan yang diserukan oleh beberapa kalangan masyarakat, Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membagi rata kekayaan alam di Sudan antar dua kelompok itu yang tersebar masing-masing di Sudan Utara dan Sudan Selatan. Hal ini ditentang oleh Masyarakat Islam, karena mereka menganggap mereka yang pantas untuk mendapat jatah yang lebih besar, karena mayoritas masyarakatnya. Islam agama yang fundamental di sana. Karena tidak mendapat persetujuan dari Pemerintah, muncullah konflik antar kelompok Islam dengan Pemerintah.

Selain itu, ras non-Islam lain juga menentang kelompok Islam karena mereka tidak setuju bahwa Sudan dijadikan negara Islam. Lalu terjadilah konflik itu, yang merugikan banyak orang sipil di sana.

Baca juga:

Itulah sebab-sebab kenapa Perang Saudara di Sudan Selatan bisa terjadi. Entah siapa yang bersalah di sini, intinya konflik ini bisa lahir karena masyarakatnya sendiri. Rasa toleransi yang kurang memadai disertai dengan rasa saling benci dengan kelompok yang berbeda menimbulkan suatu konflik yang amat mengerikan untuk dibayangkan. Semoga saja, hal yang serupa tidak terulang kembali di negara kita tercinta ini.