Sponsors Link

7 Penyebab Konflik Libya Paling Benar

Sponsors Link

Libya merupakan negara yang terletak di semenanjung Afrika Utara, tepatnya pada wilayah Maghrib. Berbatasan langsung dengan Laut Tengah di bagian utara, Mesir dibagian timur, Sudan dibagian Tenggara, dan Aljazair di bagian barat.

ads

Pemerintahan Libya

Awalnya Libya merupakan wilayah bagian dari pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Italia kemudian merebut Libyapada 1911 dan menjadikan wilayah jajahannya. Warga Libya mendapatkan kemerdekaannya setelah Italia kalah dalam Perang Dunia ke-II. Libya mendirikan sebuah negara kerajaan dibawah kepemimpinan Raja Idris pada  24 Desember 1951.

Pada 1 September 1969, keteika Raja Indris sedang menjalani perawatan medis di Turki, ia diturunkan dari jabatan melalui sebuah kudeta yang dipimpin oleh Muammar al-Qaddafi. Setelah lengsernya Raja Idris dan dihapusnya sistem monarki, kemudian Libya menjadi pemerintahan menjadi Republik Arab Libya dengan Qaddafi sebagai pemimpinnya.

Libya kemudian menegaskan sebagai negara sosialis dengan mengubah namanya menjadi Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya pada 1977 dengan kemempininan tetap berada ditangan Qaddafi. Sang pememimpin menjalankan pemerintahannya dengan kediktatoran selama empat dekade.

Pada 2009 Libya merupakan negara dengan Indeks Pembanunan Manusia tertinggi di Afrika dan memiliki PDB tertinggi di benua itu. Selain itu Libya memiliki cadangan minyak terbsesar ke -10 di dunia dan produksi terbesar ke-17 di dunia.

Gelombang demonstrasi besar-besaran pada 2011 terjadi di negara-negara semenanjung Maghrib yang meliputi Aljazair, Tunisia, Mesir dan termasuk Libya. Rakyat Libya menuntut sang pemimpin untuk turun dari jabatan yang dipimpinnya selama empat dekade itu. Unjuk rasa besar-besaran terjadi di berbagai kota di Libya: Tripoli, Tajoura, Zawiyah, Zintan, Ajdabiyah, Ras Lanuf, Sirte, Al Bayda, Benghazi, Bin Jawed, Bani Walid, Ar Rajban, dan Misratah. Unjuk rasa ini telah mejatuhkan korban sebanyak 165 jiwa, termasuk anak-anak. Beberapa hari setelahnya, tentara NATO masuk untuk melancarkan serangan bertubi-tubi di Tripoli untuk mendukung para desmonstran.

Penyebab konflik libya yang terjadi di Libya pada 2011 ini oleh beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Gelombang demonstrasi besar-besaran di Timur tengah

Pada akhir 2011, situasi Timur Tengah memanas karena adanya gerakan demonstrasi anti pemerintah di sejumlah negara yang ada pada wilayah itu. Kebanyakan demonstrasi ini menjatuhkan korban jiwa, tak terkecuali di Libya. Pemerintah Libya yang dipimpin Qadaffi melayani para demonstran dengan pendekatan represif sehingga banyak menimbulkan korban. Demonstrasi ini memecah warga Libya menjadi dua kubu, lawan para demonstran ati pemerintah itu adalah loyalis Qaddafi yang mengakibatkan perang sipil antara keduanya.

Seperti yang terjadi di negara-negara yang dilanda gelombang demonstrasi, di Libya pun fenomena itu mencuat dari ajakan-ajakan yang beredar di media sosial seperti facebook dan twitter. Pihak oposisi berhasil mengambil simpati masyarakat Libya maupun masyarakat Internasional melalui propaganda-propaganda yang disebar melalui media sosial yang sedang populer digunakan.

Sponsors Link

  1. Peredaran senjata yang marak

Dalam keadaan yang tegang, peredaran senjata bagi warga sipil menjadi begitu bebas. Hal ini semakin meningkatkan ketegangan di masyarakat. Tidak sedikit warga yang mengungsi. Baik itu warga Libya sendiri ataupun warga asing. Keadaan dalam konflik ini mebuat hukum negara tidak memiliki nilai, apalagi ketika tiap warganya telah dengan leluasa memiliki senjata api untuk melindungi diri dari kelompok lawan.

Setelah tewasnya Qaddafi, Bahkan senjata api diperjual belikan pada laman facebook orang-orang Libya. Ada yang mengatakan bahwa senjata-senjata tersebut merupakan peninggalan koleksi dari timbunan senjata milik Qaddafi. Selama 40 tahun ia berkuasa, Qaaddafi membelanjakan lebih dari 30 miliar dollar AS atau sekitar Rp 395 triliun untuk senjata.

ads
  1. Kekayaan Alam Libya yang melimpah

Wilayah Timur Tengah dikenal memiliki cadangan minyak bumi yang melimpah. Kebutuhan energi yang kian meningkat terutama di negara-negara maju membuat banyak pihak yang tergiur untuk menguasai minyak di tanah arab.

Libya sendiri merupakan pemilik cadangan minyak terbanyak ke-10 di dunia, dan produsen terbesar ke-17 di dunia. Libya seharusnya mnajdi mitra penting bagi negara yang konsumen minyak seperti Amerika. Namun karena tidak memiliki kecocokan ideologi maka kedua negara ini cukup sering bersitegang. Maka cara lain untuk dapat bermitra adalah menguasa negaranya melalui para pemberontak yang didanai oleh mereka.

  1. Kejenuhan rakyat dengan sistem diktator

Kekuasaan Qaddafi bermula saat ia memimpin kudeta terhadap pemerintahan Raja Idris. Ia mengubah sistem negara monarki menjadi republik. Mulai saat itu ia memimpin Libya dengan kediktatorannya. Meskipun Libya menjadi negara yang paling berkembang di Afrika Utara, dengan GDP tertinggi, namun sebagian warganya merasa jenuh karena segala hal diatur oleh negara. Mereka mengingkan revolusi pada pemerintahannya. Karena itu dengan momentum gelombang demokrasi dari negara-negara tetangganya, para demonstran mengajak warga lainnya untuk bergabung dalam revolusi melalui media sosial.

  1. Perbedaan kepentingan antar warga Libya

Tewasnya Qaddafi belum menjadi solusi menuju perdamaian di Libya. Warga Libya terpecah menjadi dua kubu dimana satu pihak ingin menjadi negara reblik yang sekuler dan lain pihak ingin mendirikan negara yang berasaskan keislaman. Masing-masing dari kubu tersbut memiliki peredaan keinginan, ada yang yang berada di golongan sentralis, yang mana pemerintahan diatur di satu pusat, dan juga golongan sentralis yang mana masing-masing daerah memiliki otonomi penuh.

Baca juga:

  1. Pemerintahan baru yang tidak stabil

Pasca tewasnya Qaddafi, pemerintahan Libya diambil alih Dewan Transisi Nasional. Selama pemerintahan transisional ini, hukum yang ada di Libya sangat lemah. Ketidak stabilan hukum karena peralihan kekuasaan ini membuat warga sipil merasa bebas untuk menuntut kepentingannya dengan tidakan represif terhadap yang bertentangan dengannya. Tindakan ini dapat menjadi penyebab konflik libya yang dapat berujung pada perang sipil.

Sponsors Link

  1. Bersatunya kelompok-kelompok anti Qaddafi

Ada enam kelompok mayor yang menyatakan diri mereka sebagai anti pemerintahan Qaddafi, mereka adalah National Transisitional Council yang nantinya akan memegang kendali pemerintahan pasca Qaddafi, Libyan Youth Movement, Committee for Libyan National Action in Europe, Libyan Freedom and Democracy Campaign, National Conference for the Libyan Opposition yang berisikan kelompok-kelompok pejuang HAM, dan Libyan Islamic Movement dan dimotori oleh Al Qaeda.

Sebagian besar mereka menuntut pemerinthan yang demokratis dan lebih berperikamnusiaan. Tujuan utama mereka adalah menghentikan kediktatoran Qaddafi. Mereka menggunakan bendera Kerajaan Libya yang dahulu dipakai ketika pemerintahan Raja Idris, sebagai identitas perlawanan mereka. Pihak oposisi harus berdahapan dengan militer Libya yang berada dibawh perintah Qaddafi.

, , ,
Post Date: Monday 25th, September 2017 / 06:53 Oleh :
Kategori : Internasional