5 Penyebab Konflik Berlin Perlu Diketahui

Kejadian yang amat buruk ini tidak hanya terjadi pada suatu titik di dunia, namun banyak sekali negara-negara yang ikut terpecah belah hanya karena konflik. Pada perbincangan lain kita pernah membahas tentang perpecahan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang mana sudah terjadi pada tempo dulu, namun sayangnya masih berkembang sampai sekarang, Apakah cukup di Korea saja ? Ternyata tidak. Konflik besar juga terjadi di Berlin, yang mana konfliknya berujung pada kehancuran berskala besar di pusat kota Jerman kala itu. Konflik yang dapat digolongkan besar ini terjadi antar Uni Soviet dan Jerman, yang mana pada saat itu Jerman mengalami masa kritisnya, hingga diakhiri dengan bunuh dirinya Sang Fuhrer, Hitler bersama istrinya di dalam bunker, wilayah Berlin.

Baca juga :

Walaupun pada awalnya memang konflik terjadi karena adanya perang dunia, namun konflik internal pun terus saja berlanjut. Bila ditelusuri lebih lanjut, terpecahnya Jerman menjadi dua bagian ini disebabkan oleh kehadiran Uni Soviet sebagai penguasa Jerman di kala itu. Tapi, apakah hanya itukah penyebab konflik Berlin ? Apakah ada faktor-faktor eksternal lain yang menyebabkannya? Atau ternyata ada faktor internal yang ikut serta memuluskan perpecahan ini? Mari kita telusuri lebih lanjut

1. Penolakan Rekonstruksi

Semenjak Jerman jatuh pada kekuasan Soviet, segala pemerintahan dan faktor di dalamnya dikendalikan oleh soviet. Sementara itu, terjadi keributan antar sekutu yang beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Soviet, dan Perancis. Jadi sekutu-sekutu selain Soviet mencanangkan ide untuk merekonstruksi kembali negara Jerman yang telah hancur. Namun hal ini malah tidak disetujui oleh Soviet karena alasan tertentu. Soviet merasa bahwa Jerman adalah kekuasaannya, tidak boleh ada campur tangan dari manapun. Dengan kekuasaan penh itulah, Jerman dibagi menjadi 4 bagian.

Menyadari bahwa Uni Soviet kurang kooperatif, pihak sekutu menerapkan kebijakaannya sendiri untuk memulai pembangunan ulang pada area-area yang lepas dari kekuasaan Soviet. Dalam hal ini, area yang bukan merupakan jajahan Soviet. Mereka kemudian berhasil menjalankan rencana awal untuk melakukan rekonstruksi yang disebut dengan Marshall Plan.

Baca Juga :

2. Kekalahan Jerman karena “Penghianatan”

Sebelum Uni Soviet berhasil menguasai Jerman, terdapat perdebatan sendiri antara Hitler dengan para panglimanya. Pada awalnya, disaat saat yang paling terpojok, Hitler mencanangkan operasi Clauzewitz, dimana Berlin lah yang menjadi pertahanan utama. Perintah untuk mempertahankan ibukota dengan segala cara diusahakan, termasuk mengerahkan pasukan-pasukan yang jumlahnya sedikit. Oleh karena itu, pasukan anak muda pun dibentuk, dimana pasukan nya berisi anak-anak muda berumur antara 7-15 tahun. Agak keji memang, tapi bagi Hitler itulah pilihan terakhir. [AdSense-B]

Semakin terdesaknya Jerman membuat para jendral kebingungan. Beberapa dari mereka seperti Goring, memutuskan untuk kabur dari Jerman. Hal ini tentunya membuat Hitler amat marah, karena dari awal dia sudah menekankan bahwa tidak ada jendral yang boleh kabur dari negara. Pihak-pihak yang kabur tadilah yang dianggap Hitler sebagai penghianat negara, karena berani mengabaikan perintah. Tentunya hal ini semakin membuat para jendral tertekan, di lain sisi Jerman sudah tidak memiliki harapan lagi untuk menang.

Akhirnya, banyak dari mereka yang mengakhiri hidup dengan menelan pil sianida atau menembakkan peluru di kepala. Termasuk Hitler sendiri dan kekasih yang baru dinikahinya di dalam banker, Eva. Tak lama, kejatuhan Jerman pun tidak bisa terhindarkan lagi.

3. Pembagian Wilayah Secara Rahasia

Pembangunan tembok Berlin sebesar itu tidak dijalankan dengan adanya pengumuman, atau informasi tertentu. Hal itu dilakukan secara diam-diam, agar membatasi warga-warga Jerman Timur yang kabur ke Jerman Barat, karena kehidupan disana bebas dikarenakan ideologinya yang Liberal. Berbeda dengan Jerman Timur yang dirasa begitu ketat terhadap aturan-aturannya. Masyarakat yang merasa kurang nyaman dengan itu terpaksa menyelinap ke wilayah sebelah yang mana penghidupannya lebih nyaman.

[AdSense-A]

Hal inilah yang mengganggu pikiran pemerintah Jerman Timur, Walter. Dia mengganggap Jerman Barat adalah sebagai pengganggu saja. Mengingat jumlah korban yang tidak sedikit juga karena mencoba kabur ke Jerman Barat, akhirnya dia mulai membangun sebuah proyek untuk memisahkan kedua daerah itu. Dibangunlah Tembok Berlin.

Baca juga:

4. Demonstrasi Besar-besaran Untuk Pindah Wilayah

Seperti yang tadi diterangkan di atas, banyak masyarakat kebanyakan yang merasa tidak nyaman dengan pemerintahan Jerman Timur. Oleh karena itu mereka ingin sekali “mengungsi” ke wilayah lain yang paling tidak dekat dengan wilayah Jerman Timur. DI sini mereka mempunyai beberapa pilihan seperti Hungaria, Austria, dan Jerman Barat. Mereka bisa menempuhnya dengan menggunakan kereta, tapi karena kebijakan perkeretaapian yang selalu membatasi mereka dengan mengembalikan jalur ke Jerman Timur menyebabkan masyarakat semakin tidak tahan.

Akhirnya demonstrasi besar-besaran terjadi di wilayah Jerman Timur. Pada awalnya hanya sedikit, namun pada akhirnya demonstrasi menyebar hingga ke seluruh wilayah Jerman Timur. Mereka menuntut adanya kebijakan yang mana membebaskan mereka untuk pindah wilayah ke wilayah lain. Agar terbebas dari Jerman Timur.

Baca juga:

5. Didirikannya Tembok Berlin Sebagai Simbol Perang Dingin

Didirikannya Tembok Berlin menyulut emosi preside-presiden di dunia. Sebagai contoh presiden-presiden Amerika seperti  JF Kennedy Ronal Reagan yang “mengumpat” tembok tersebut dengan pidato-pidato kebebasan. Walau tidak digubris oleh Pemerintahan Jerman Timur. Mereka menyatakan apa yang dilakukan oleh Jerman Timur untuk membatasi masyarakatnya adalah sebuah kejahatan. Merenggut kebebasan sosial sekaligus dengan Hak Asasi di dalamnya. Padahal pembatasan tadi  hanya dikarenakan karena ketakutan Pemerintahan Jerman yang takut akan jatuhnya sektor ekonomi karena pindahnya masyarakat yang rata-rata berada pada kategori usia kerja.

Kelima sebab itulah yang menyebabkan adanya konflik di Berlin, baik itu karena militer, ekonomi, dan juga politik. Berbagai sebab tadi yang akhirnya menimbulkan kerugian yang amat besar bagi masyarakat, kebebasan tersebut, nyawa bisa jadi taruhannya. Kebijakan pemerintah yang buruk seperti tadi menimbulkan imbas yang teramat buruk, yang lagi-lagi berefek pada masyarakat.

Baca juga: