3 Nilai yang Terkandung Dalam Perang Puputan Paling Penting

Puputan berasal dari kata’puput’ yang berarti selesai, tamat, berakhir dan dalam bahasa Bali juga berarti habis-habis. Perang puputan secara tidak langsung bermakna perang habis-habisan. Perang Puputan terjadi di Lombok pada tahun 1839 dan juga terjadi di Bali pada tahun 1906. Perang puputan yang terjadi di Lombok dipimpin oleh Raja Cakranegara melawan Raja Mataram. Raja Mataram sendiri juga melakukan perang puputan terhadap pihak pasukan Belanda. Sedangkan perang puputan yang terjadi di Bali dikenal dengan nama Puputan Bandung adalah perang antara Kerajaan Badung dengan pihak Kolonial Belanda.

 Sebab Terjadinya Perang Puputan

Salah satu sebab perang puputan yang terjadi adalah adanya perselisihan kapal Cina bernama Sri Kumala. Rakyat Badung telah menyelamatkan para awak dan penumpang yang ada di kapal tersebut, namun ada beberapa barang yang hilang di kapal yang membawa bibit tersebut. Menurut beberapa laporan, tuduhan jatuh ke rakyat Sanur yang mengambil atau merampas isi dari kapal tersebut. Namun ribuan warga penduduk Sanur bersumpah di Pura bahwa mereka tidak melakukan hal tersebut.

Sumpah yang telah dilakukan oleh penduduk Sanur dibela oleh Raja Badung. Oleh karena itu, Raja Badung tidak mau membayar kehilangan atau bertanggung jawab atas barang-barang yang hilang dari kapal tersebut. Karena penolakan ini, pemerintah Belanda menganggap Raja Badung memberontak dan membangkang. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan blokade di pantai Sanur yang membuat banyak kerugian finansial bagi penduduk setempat.

Adanya ketidakpahaman ini berujung pada peperangan puputan yang memakan banyak korban jiwa. Setelah negosiasi dan diplomasi gagal dilakukan, Belanda mengirimkan pasukan militer ke Bali dan mulai menakut-nakuti rakyat Badung di daerah sekitar Sanur, Kesiman, Sanglah dan lain-lain. Kemudian rakyat Badung sendiri tidak hanya dia, ada beberapa yang melakukan perlawanan, seperti pada daerah selatan Kesiman. Suasanapun semakin memanas karena banyaknya tembakan yang ada diudara. Diperkirakan ada ratusan tembakan setiap harinya yang dilemparkan dari pihak Belanda. Perang yang terjadi terus memanas dengan banyak strategi Belanda yang mulai memecah belah dan membuat kekacauan dan juga banyak korban yang meninggal membuat kondisi Bali semakin darurat.

Nilai yang Terkandung Dalam Perang Puputan

Apa yang terjadi dalam perang puputan, latar belakang, sebab, tujuan dan proses terjadinya perang tersebut menyimpan banyak makna, membantu kita memahami karakter budaya dan juga banyak nilai yang dapat kita pelajari sekarang ini. Nilai-nilai tersebut masih terus dilestarikan hingga saat ini oleh para raja-raja yang berkuasa. Beberapa nilai tersebut adalah sebagai berikut :

  • Nilai kesetiaan dan kepercayaan

Perang Puputan mengandung nilai-nilai kesetiaan dan kepercayaan tinggi dari warga atau rakyat kerajaan terhadap rajanya. Puputan mengandung nilai kesetiaan dan kepercayaan tinggi karena perintah “puputan” atau perang penghabisan adalah dari sang Raja kepada rakyatnya. Namun demikian, sang raja tidak memaksa seluruh rakyatnya untuk melaksanakan puputan ketika situasi sudah seperti tidak ada harapan lagi. Dikatakan bahwa rakyat yang mamu setia membela kebenaran sajalah yang dipersilahkan melakukan puputan. [AdSense-B]

  • Nilai pembelaan kebenaran

Dalam keadaan kritis di mega peperangan, serangan dari pihak Kolonial Belanda tidak menggetarkan semangat yang ada di hati para rakyat Bali untuk membela rajanya. Terjadinya perang puputan merupakan salah satu bukti bahwa pembelaan kebenaran dilakukan secara habis-habisan dan dengan penuh semangat.

Diceritakan bahwa rakyat Badung serta seluruh keluarganya mengikut raja melakukan peperangan. Rakyat Badung baik laki-laki maupun perempuan semua turun ke jalan untuk melawan pihak Belanda, membawa keris mereka masing-masing dengan menggunakan baju putih bersih, mengikuti kemana rajanya pergi. Mereka membawa keris dan tombak, siap untuk melawan Belanda.

Pentingnya membela kebenaran dituliskan di karya tulis (gaguritan) Raja Badung yang bernama Gaguritan Purwa Sanghara. Dalam Gaguritan Purwa Sanghara, sang Raja mengingatkan akan pentingnya membela kebenaran, menjunjung tinggi nilai kekesatriannya yang penuh dengan budi dan karakter selayaknya seorang Raja.

  • Nilai kerja keras mencapai cita-cita

Nilai selanjutnya yang dapat diambil dari terjadinya puputan ini adalah nilai kerja keras mencapai cita-cita. Nilai kerja keras mencapai cita-cita digambarkan oleh sikap saling tolong menolong diantara 3 pusat kerajaan Badung, yaitu Denpasar, Pemecutan dan Kesiman. Ketida kerajaan ini terus bekerja sama agar tercapai cita-cita mereka untuk memenangkan peperangan melawan pihak Kolonial Belanda. Dalam Gaguritan Bhuwana Winasa, puputan yang terjadi di Puri Denpasar dan Pemecutan ini memakan korban berjumlah sebanyak 1000 hingga 1500 nyawa yang meninggal.

Dalam laporan Rost van Tonningen, menyebutkan bahwa perlawanan rakyat Badung sangatlah gigih dan juga penuh kerja keras. Rost van Tonningen berkata, bahwa walaupun kami sangat waspada, berulang kali kelompok kecil mengadakan serangan tombak yang mengakibatkan banyak korban pada pihak kami.

Perjuangan kerja keras mencapai cita-cita yang dilakukan oleh rakyat Badung sungguh sangat mudah diucapkan namun tentu sangat tidak mudah diimplementasikan. Nilai kerja keras untuk mencapai cita-cita terutama dalam kondisi kritis peperangan sangat perlu diapresiasi sebagai bentuk karakter dan budaya rakyat Badung sebagai salah satu anggota kerajaan Bali.

  • Nilai Berkorban

Pengorbanan dengan tulun dan pembelaan kebenaran tidak mungkin dapat tercapai apabila tidak ada kebersihan pikiran dan kejernihan budi pekert. Pengorbanan harus dilakukan sebagai pembuktian kecintaan rakyat dan raja terhadap kerajaan Badung. Raja Badung yang memerintahkan terjadinya puputan adalah Raja Anak Agung Made. Namun sebelum hal tersebut terjadi, Raja Anak Agung Made memerintahkan para rakyat dan pasukannya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing dan untuk mereka berkumpul ke keluarganya masing-masing. Hal ini disebabkan karena Raja Anak Agung Made tidak ingin rakyatnya ikut berkorban, biar dia sendiri sebagai raja yang dicari dan ditangkap oleh Belanda.

Namun hal ini tentu tidak digubris oleh rakya Badung dan mereka hanya ingin bersama berkorban dengan Raja yang sangat mereka cintai dan hormati. Dalam keyakinan agama Hindu, pengorbanan membela kebenaran hingga kematian merupakan hal yang sangat terhorbat. Hal ini juga yang menjadi faktor pendorong para rakyat untuk terus maju tak gentar.

Kesimpulan

Uraian singkat mengenai nilai-nilai yang terkadung dalam perang puputan sebenarnya masih sangat banyak. Namun pada akhirnya, karakter dan kebudayaan bangsa yang kuat menjadi salah satu nilai yang paling berharga dari suatu kejadian. Kesetiaan, keberanian untuk membela kebenaran, pengorbanan dan kebijaksanaan seorang Raja akan terlihat ketika sedang berada di situasi krisis yang mengancam nyawa. [AdSense-C]

Nilai dalam puputan adalah juga mengenai ketangguhan untuk terus berjuang hingga kematian daripada harus menyerah di bawah kekuasaan musuh. Semangat, kerja keras dan kerja sama merupakan pemahaman yang sangat mudah dalam teori namun aplikasinya sangat sulit diterapkan. Latar Belakang perang puputan di Bali dapat dipelari secara mendalam, mengenai intervensi Belanda dan juga strateginya dalam peperangan tersebut.

Intervensi yang dilakukan oleh Belanda juga merupakan salah satu penyebab perang Aceh dan juga latar belakang perang Banjar. Pihak Hindia Belanda mengintervensi beberapa wilayah Indonesia mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Bali. Intervensi yang dilakukan oleh pihak Kolonial Belanda memiliki satu kesamaan yaitu dengan ikut campur dalam kekuatan, kewewenangan dan juga politik kerajaan yang berkuasa.