Latar Belakang Perang Puputan di Bali

Perang Puputan, dikenal juga dengan nama Perang Bali. Perang ini terjadi pada tahun 1948 – 1906. Perang Puputan ini sendiri terjadi antara pihak Hindia Belanda dan kerajaan-kerajan di wilayah Bali, yaitu Kerajaan Klungkung, Kerajaan Buleleng, Kerajaan Karang Asem, Kerajaan Gianyar dan Kerajaan Badung. Perang Puputan ini maknanya adalah perang sampai titik darah penghabisan.

Bali bukanlah satu-satunya yang melakukan perlawanan terhadap pihak eksternal. Namun sejarah juga pernah mencatat perlawanan Aceh terhadap Portugis.  Adanya campur tangan Belanda juga merupakan salah satu penyebab perang Padri. Intervensi Belanda pada beberapa wilayah di Indonesia menjadi sebab terjadinya perang yang menjatuhkan banyak korban jiwa. Latar belakang Perang Banjar juga disebabkan oleh turut campur Belanda pada otoritas dan wewenand Kerajaan.

Puputan itu sendiri adalah ritual adat Bali mengenai bunuh diri massal. Sejarah Bali sendiri dipengaruhi oleh berbagai hal dari pihak luar. Salah satu sejarah berdarah yang ada di Bali terjadi di Denpasar pada tanggal 20 September 1906, ketika Raja Badung, Gusti Gede Ngurah mengambil kesimpulan bahwa kerajaannya tidak bisa lagi bertahan di bawah tekanan pihak otoriter Belanda, oleh karena itu, Gusti Gede Ngurah memerintahkan warganya untuk melakukan bunuh diri masal, ritual Puputan.

Kerajaan yang Ada di Bali

  • Kerajaan Klungkung

Kerajaan ini terletak di kabupaten Klungkung yang menjadi salah satu pusat pemerintahan raja-raja Bali. Kerajaan Klungkung berdiri dari tahun 1688-1950. Yang menjadi raja Klungkung adalah generasi atau pewaring langsung dari Dinasti Kresna Kepakisan. Invasi Belanda ke tanah Bali pada tahun 1906 menjadi salah satu penyebab musnahnya Kerajaan Klungkung ini. Menurut ramalan, raja dan para prajurit istananya akan menghancurkan musuh menggunakan keris-kerisnya, namun ramalan tersebut terbukti salah. Hal ini dikarenakan Raja yang mati tertembak oleh pihak belanda. Melihat Raja yang sudah mati, ke-enam istri raja pun melakukan aksi bunuh diri atau puputan menggunakan keris-keris mereka, dan diikuti oleh warga Bali setempat.

  • Kerajaan Buleleng

Kerajaan Buleleng terletak di bagian utara pulau Bali. Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu-Budha yang didirikan pada pertengahan abad ke 17. Raja yang sangat berperang penting dalam pembangunan Kerajaan Buleleng ini adalah Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti yang berasa; daro wangsa kepakisan. Tadinya, nama wilayah yang dijadikan Kerajaan Buleleng bernama wilayah Den Bukti. Kerajaan Buleleng sendiri dikuasai oleh pihak Hindia Belanda setelah adanya serangan pada tahun 1849, dimana pihak Hindia Belanda sudah dapat menghancurkan benteng Jagaraga dan akhirnya menguasai Kerajaan Buleleng.

Salah satu tokoh terkenal dari Kerajaan Buleleng adalah seorang Patih atau Panglima Perang I Gusti Ketut Jelantik. I Gusti Ketut Jelantik adalah seorang Panglima yang berasal dari Kerajaan Buleleng. Pihak kolonial Belanda terus menyerang Kerajaan Buleleng mulai dari tahun 1846 hingga 1848.

  • Kerajaan Karang Asem

Kerajaan Karang Asem memiliki kekuasaan yang sangat meluas, hingga sampai Pulau Lombok. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-17 dan menduduki atau berada di wilayah timur Pulau Bali. Kerajaan ini pemerintahannya dipimpin oleh I Gusti Anglurah Made Karangasem. Kerajaan ini merupakan Kerajaan Hindu dan sudah ada dari tahun 1600 an hingga 1950. Kerajaan Karangasem memiliki berbagai puri seperti Puri Gede Karangasem, Puri Agung Karangasem dan Puri Taman Ujung. Kerajaan yang berada di bagian timur Pulau Bali ini dikuasai Belanda pada tahun 1894. Kerjaan ini dibentuk setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit.

  • Kerajaan Gianyar

Kerajaan Gianyar berdiri pada tahun 1771 hingga tahun 1950. Kerajaan ini tadinya adalah sebuah Puri Batu yang diberi nama Grya Anyar atau rumah baru. Berdirinya Grya Anyar ini lah yang menandai terbentuknya kerajaan Gianyar yang diperintah oleh Ide Anake Gung I Dewa manggis Api atau I Dewa Manggis Shakti. Keraton istana raja berada di Puri Agung Gianyar. Kerajaan Gianyar sendiri juga mengalami invasi Belanda pada Perang Puputan pada tahun 1906 dan juga 1908. [AdSense-B]

  • Kerajaan Badung

Kerajaan Badung berdiri pada tahun 913 dan penguasa pada saat itu adalah Sri Kresna Dalem Kepakisan. Raja dari Kerajaan Badung menggunakan gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan, karena berasal dari Dinasti Pemecutan (1788-1813)

Perang Puputan yang Pernah Ada di Bali

  • Perang Puputan Badung tahun 1906

Perang Puputan yang disebabkan oleh  invasi Belanda di Badung terjadi pada tahun 1906. Invasi ini menghancurkan dua kerajaan Bali yaitu Kerajaan Badung dan Kerajaan Tabanan, serta mempengaruhi kekuatan Kerajaan Klungkung. Invasi pada tahun 1906 ini adalah invasi Belanda ke 6 di Pulau Bali. Perang Puputan Badung ini terjadi karena adanya perebutan hak untuk merampas kapal yang terdampar dan kandas di pantai sekitar Bali. Hak ini disebut dengan Hak Tawan Karang.

Hak Tawan Karang adalah hak yang dimiliki oleh para raja di kerajaan Bali untuk mengambil kapal-kapal yang terhempas dan kandas di terumbu sekitar Bali menjadi miliknya, sementara pihak Kolonial Belanda berkata lain. Peristiwa yang memicu terjadinya perselisihan lebih lanjut ini disebabkan oleh adanya perebutan sebuah kapal Cina yang bernama Sri Kumala yang terhempas di dekat karang dekat Sanur.

Perebutan kapal yang terdampar ini mendapat reaksi negatif dari pihak Belanda dan akhirnya pada bulan Juni 1906, Pihak Kolonial Belanda membuat blokade di pantai selatan, serta mendaratkan pasukannya di bagian utara Pantai Sanur dan membuat ultimatum serta menamai invasi mereka dengan Ekspedisi Militer Keenam yang dipimpin oleh Komando Mayor Jendral M.B. Rost Tonningen.

  • Puputan Klungkung tahun 1908

Intervensi Belanda juga terjadi pada tahun 1908 yang sekaligus menjadi intervensi militer Belanda ke tujuh di Pulau Bali. Intervensi ini mengakibatkan kerajaan Bali porak poranda karena adanya monopoli opium dari pihak Belanda. Beberapa kerajaan seperti Kerajaan Klungkung dan Kerajaan Karangasem termasuk ke dalam Kerajaan yang menjadi rusuh akibat intervensi Belanda ini. Belanda menghabisi Kota Klungkung.

Raja Klungkung dan para pasukan istana melawan berdiri melawan Belanda dengan menggunakan keris-kerisnya. Sesuai ramalan yang terjadi, Sang Raja akan membunuh pihak Belanda dengan keris tersebut. Namun ternyata kenyataannya, Belanda malah menembak mati Raja Klungkung dan keenam istri raja yang mengetahui bahwa Rajanya mati dan tidak ada masa depan untuk mereka, melakukan aksi bunuh diri yang diikuti oleh penduduk Bali sekitar menggunakan keris-keris mereka. Selanjutnya Belanda membakar istana Kerajaan Klungkung. Namun pada bulan Oktober 1908, diadakan persetujuan antara pihak Belanda dan juga Raja Bangli untuk menjadikan Klungkung seperti Gianyar dan Karangasem sebagai protektoral Belanda. [AdSense-C]

 Pahlawan Perang Puputan

  • I Gusti Ketut Jelantik

I Gusti Ketut Jelantik adalah pahlawan yang harum namanya karena perjuangannya pada Perang Puputan. Perang ini berlangsung sangat lama dengan banyak korban yang berjatuhan. Pada tanggal 19 April 1840, I Gusti Ketut Jelantik meninggal karena serangan pihak Hindia Belanda yang menghancurkan seluruh kerajaan Buleleng.

 Latar Belakang Perang Puputan

  • Pihak Belanda ingin Menguasai Bali

Pihak Hindia belanda ingin meluaskan kekuasaannya di Bali. Pihak Belanda menginginkan adanya kesepakatan dengan beberapa pihak kerajaan Bali seperti dengan Raja Klungkung, Raja Badung dan Raja Buleleng untuk mengizinkan pengibaran bendera Belanda di wilayahnya.

  • Hak Tawan Karang

Hak Tawan Karang adalah suatu kebijakan yang ada pada sekitar abad ke – 18, dimana para pihak kerajaan Bali berhak untuk merampas dan menyita barang dan kapal yang kandas dan terdampar di perairan Bali. Pemerintah Belanda ingin menghapuskan hak ini, dimana hak ini sudah menjadi tradisi dari kerajaan Bali. Dengan segala taktik dan strateginya, pihak Belanda berhasil menghapuskan hak tawan karang ini pada beberapa kerjaan, kecuali dua kerajaan, yaitu kerajaan Buleleng dan Karang Asem.

Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Karang Asem masih bersikukuh untuk mengambil haknya dengan merampas dan menyita barang dan kapal Belanda yang terdampar di Pantai Sangsit dan Jembrana. Hal ini membuat pihak Belanda geram dan perselisihan ini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Perang Puputan.