Sponsors Link

Konflik Korea Utara dan Korea Selatan – Sejarah, Penyebab dan Dampaknya

Sponsors Link

Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya, perang saudara memang kerap kali di berbagai belahan dunia, salah satunya di Korea yang akhirnya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Kita bisa lihat sekarang, bahwa kedua negara ini memiliki kehidupan yang hampir 180 derajat bedanya.

ads

Kita bisa menikmati berbagai entertainment di Korea Selatan yang terkenal akan berbagai media utama seperti K-Pop, K-Drama, belum lagi soal boy/girl band yang menjamur di sana. Perilaku di sana cenderung meniru kehidupan sosial serta gemerlap yang biasa kita temukan di Amerika. Lain halnya dengan Korea Selatan, Korea Utara kini lebih memajukan segi kemiliteran di atas faktor lainnya. Kim Jong Un tengah merancang berbagai teknik dan peralatan perang yang canggih untuk melumpuhkan lawan dengan akurat dan efisien. Kini Korea Utara sedang getol-getolnya menegmbangkan teknologi nuklir untuk kemudian dijadikan senjata, hal ini memberikan reaksi yang mengejutkan pula dari berbagai negara di dunia, khususnya Amerika.

Baca juga :

Nah, kedua perbedaan tersebut di lain sisi memberikan ciri khas yang ada pada kedua negara tersebut, namun sebenarnya merupakan kenyataan pahit bahwa dulunya mereka pernah menjadi satu saudara. Sebetulnya hal apakah yang memicu perpisahan dan konflik Korea Utara dan Korea Selatan hingga sekarang? Mari kita simak ulasan lengkapnya berikut

Sejarah

Perang Dunia kedua tentunya meninggalkan “goresan” di berbagai negara di dunia. Salah satunya adalah Korea yang ikut tergores dan pecah menjadi dua bagian. Sebenarnya, kedua pihak yang bercampur tangan langsung kala itu adalah Amerika dan Uni Soviet yang membuat kebijakan untuk membagi Korea menjadi dua bagian. Mungkin untuk memudahkan pembagian wilayah yang diperebutkan.

Konflik antar kedua daerah tersebut kemudian berlanjut beberapa tahun kemudian, menyisakan korban yang jumlahnya jutaan. Hal ini bermula ketika pihak Korea Utara melakukan pelanggaran perjanjian yaitu dengan menyebrang melewati batas teritorial, yang kemudian melakukan aksi dengan adanya berbagai invasi yang ditujukan untuk Korea Selatan. Perang tersebut terjadi sekitar tahun 50’ an, dan akhirnya berhenti dengan adanya genjatan senjata tiga tahun berikutnya.

Sponsors Link

Kemudian, diadakan perjanjian damai yang harus ditanda tangani oleh kedua pihak. Tidak ada yang menandatanganinya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa hingga saat ini kedua pihak tersebut masih termasuk dalam keadaan “siaga perang” satu sama lain. Meski memang tidak begitu terlihat pertikaian antar kedua pihak secara fisik. Beribu pertanyaan muncul, “Kapan mereka bisa bersatu lagi?”. Ketika itu Presiden Kim Dae Jung, Presiden Koreas Selatan menciptakan suatu kebijakan demi memperoleh keharmonisan kedua pihak dengan menciptakan Sunshine Policy pada 1998.

Untungnya perjanjian tersebut disetujui oleh Korea Utara, mereka hidup harmonis untuk beberapa waktu. Beberapa konferensi diselenggarakan untuk memastikan sehatnya hubungan kedua negara tersebut. Sayangnya, perjanjian tersebut karena ternyata Korea Utara kembali mengembangkan persenjataan nuklir secara rahasia. Hubungan keduanya pun saling menegang. Korea Utara masih kembali mengembangkan senjata nuklirnya, namun kali ini menimbulkan korban sipil dan militer dari Korea Selatan. Dengan begitu, pada tahun 2000 Pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa kebijakan Sunshine Policy telah gagal. Akhirnya mereka tetap “berkonflik” hingga sekarang.

ads

Baca juga :

Penyebab

Ada beberapa penyebab di sini yang bisa kita telusuri sebagian dari konflik Korea Utara dan Korea Selatan ini:

1. Terlalu Menjunjung Tinggi Harga Diri Yang Berubah Menjadi Gengsi

Harga diri memang penting, terlebih lagi soal harga diri suatu negara yang berdaulat. Tapi demi kedamaian umat, apakah itu harus masih saja diterapkan? Kita bisa lihat buktinya pada aksi penandatanganan perjanjian damai antar kedua negara tersebut, yang seharusnya bisa berjalan lancar malah tidak ada satupun dari mereka yang menjunjukkan eksistensinya. Salah satu pihak, atau bahkan keduanya pasti memiliki suatu asumsi yang berbeda antar satu sama lain. Entah asumsi apakah itu, yang jelas berkat opinil mereka sendirilah, akhirnya perjanjian damai tersebut tidak pernah “ada”.

Satu-satunya jalan damai malah hanya dibiarkan begitu saja. Padahal, bisa saja konflik dapat diredam pada saat itu juga, dan bahkan bisa meredam konflik-konflik yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

2. Kesombongan

Dalam hal Korea Utara yang tingkahnya makin menjadi untuk mengembangkan kemiliterannya. Dengan majunya kemiliteran yang mereka punya, mereka berpikir bahwa mereka adalah negara yang hebat, jauh lebih hebat dari saudaranya sendiri Korea Selatan. Dari beberapa “ledekan” yang ditujukan oleh Presiden Korea Selatan.

Walaupun begitu, yang namanya manusia tidak memiliki batas untuk mengurangi kesombongannya. Apalagi bila kesombongan tadi digunakan untuk menghancurkan orang lain. Bisa dipresiksi bahwa apabila Korea Utara masih tetap menciptakan senjata nuklir yang amat dahsyat, maka dunia akan berada dalam kehancuran.

3. Hilangnya Rasa Persaudaraan

Hal terakhir yang sekaligus paling penting adalah rasa saling memiliki sesam saudara, yang sayangnya hilang. Padahal bisa dilihat bahwa kedua negara ini memiliki berbagai kemiripan dalam hidup. Sejak awal, mereka kan memang satu rumpun.

Tapi sejak konflik ini terlahir, mereka melihat satu sama lain sebagai musuh, sebagai hal yang harus disingkirkan. Entah itu lewat jalan militr atau politik. Itu pula yang mungkin membuat perjanjia damai gagal, karena mungkin dari awal mereka sudah membenci satu sama lain karena sejarah yang buruk. Kemudian, persaudaraan pun hilang entah kemana.

Baca juga :

Sponsors Link

Dampak

Konflik semacam ini tentunya membuat beberapa akibat yang buruk bagi masyarakat luas atau untuk mereka sendiri.

  1. Jutaan jiwa yang menjadi korban, di Korea Selatan maupun Korea Utara
  2. Hubungan Yang Tidak Pernah Harmonis antar Korea Utara dengan Korea Selatan dan Amerika
  3. Korea Utara menjadi negara yang ditakuti dalam segi militernya
  4. Kim Jong Un menjadi ikon villain terkenal di dunia nyata
  5. Timbulnya Perang Dunia Ke 3 di masa yang akan datang

Kita bisa melihat bahwa perang abadi ini sejak awal memang merugikan. Namun sayangnya tidak ada antusiame dari kedua pihak untuk melakukan hal kecil yang disebut berdamai. Sulit memang melakukan perdamaian dengan suatu hal yang kerap melukai kita. Tapi justru dari luka itu kita bisa belajar, bahwa tidak ada hal yang sempurna, mereka pasti mempunyai berbagai kelemahan yang seharusnya kita maklumi. Dengan begitu, perdamaian bukanlah hanya sekedar mimpi.

Simak Artikel Hukamnas.com lainnya:

,
Post Date: Monday 18th, September 2017 / 07:33 Oleh :
Kategori : Daerah