Kecerdasan Politik Jokowi yang Jarang Diketahui

Dalam hiruk pikuk politik yang ki semrawut di negara kita ini, banyak sekalia hal yang perlu dicerna dengan baik, sebelum hal tersebut bisa meracuni otak kit dan membuat kita saling membenci satu sama lain, yang contohnya bisa anda lihat pada penyebab konflik Ambon dan juga penyebab konflik Maluku. Masyarakat sang berpecah belah dan bermusuhan akibat dari segelintir harta yang dikeluarkan oleh oknum biadab, agar para masyarakat yang sudah teracuni oleh uang bisa memperjuangkan mereka sampai titik darah penghabisan. Selepas dari halal tidaknya uang tersebut, lagi-lagi keluarga yang menjadi korbannya. Menjadi korban bully an, menjadi korban penganiayaan, dan korban olokan. Hal itu sudah banyak sekali terjadi di Indonesia, artikel ini pun tidak sanggup untuk menampung semuanya.

Terlepas dari beragam perpecahan bangsa yang telah terjadi di Indonesia, tentunya perpecahan tadi memang sudah dirancang dengan sangat baik dan rapi oleh semua oknum yang memang ingin kehancuran ini terjadi, untuk keuntungan mereka sendiri. Kita bisa melihat contoh nyata padapolitis-politisi kita yang suka mengujar kata-kata menjelekan kubu lain dengan berbagai hal yang sangat sensitiv di masyarakat, yakni agama. penyebab konflik antar agama tadi akhirnya menyebabkan kobaran api membara dari masyarak yang termakan omongan kebencian tadi, dan akhirnya dampak konflik agama dari konflik tadi dirasakan oleh banya orang.

Pembagian kaum minoritas dan mayoritas juga tampaknya semakin mengaburkan makna dari negara kesatuan, salah satu penyebab penyebab konflik antar suku. Namun kita patut bersyukur, karena kita memiliki presiden yang sangat hebat, Pak Jokowi. Diam namun mematikan, dengan sifat legowo yang mencerminkan orang khas jawa. Banyak sekali orang yang berhasil dimanipulasi, kemudian berbalik menjelek-jelekkan beliau dengan alasan tidak ada kemajuan ekonomi. Namun mereka belum tahu bahwa presiden yang selama ini mereka hina memiliki kehebatan dan kecerdasan politik yang luar biasa, seperti :

1. Banyak Aksi, Sedikit Bicara 

Salah satu kehebatan dari presiden kita adalah sikap tenangnya dalam menghadapi masalah. Amat sangat jarang kita melihat beliau membara emosinya. Kecerdasan intelektual tadi dilengkapi dengan kecerdasan emosi, sehingga upaya pemecahan masalah bisa dapat terasi dengan efisien. Apalagi untuk bisa mengatasi tingkah laku licik pesaing politiknya. Sama seperti pada kasus Seracen dulu, yang membuat bangsa kita terpecah belah karena berita dan isu yang tidak benar / hoax. Apa yang dilakukan tadi yaitu seperti mengujar kebencian pada suatu kaum atau golongan menjadi penyebab utama penyebab konflik sosial dan juga penyebab konflik antar ras yang akhirnya berhasil memecah kubu mayoritas dan minoritas.

[AdSense-B]

Pada awalnya, banyak orang berspekulasi bahwa Jokowi hanya orang yang tidak demokrasi, tidak peduli akan bangsanya yang sedang terpecah belah. Namun ternyata, dibalik sifat diam Jokowi tadi, beliau berhasil berpikir mengenai struktur dari Seracen itu sendiri. Tentunya Seracen dipengaruhi oleh para penguasa yang mengiming-imingi mereka dengan sesuatu. Untuk itu, dibalik itu semua Jokiw telah bekerja sama dengan Polri berhasil meringkus para tersangka Seracen. Setelah ditangkapnya para pelakul maka politikus rakus yang menjadi pelanggan Seracen pun gelagapan, terlebih lagi Seracen ternyata memiliki nama pelanggan yang namanya tidak terdengar asing di telinga kita. Poin yang baik dari Jokowi sebagai tindak pengendalian konflik sosial.

[AdSense-A] 2. Dekat Dengan Masyarakat Tanpa Memecah Belah

Tanpa neko-neko, Jokowi rela menghabiskan waktunya untuk bercanda ria dengan warga, dengan membagikan hadiah iconic dari beliau, yakni sepeda gowes. Ya, semua orang dapat berpatisipasi untuk ikut serta di dalamnya. Anak SD sampai guru sekalipun bisa mengikutinya. Inilah teknik Jokowi untuk memeperoleh hati masyarakat tanpa adanya seruan, pidato, dan kampanye yang memuat unsur SARA. Semua dilakukan dengan sifat humble beliau yang selalu beliau keluarkan untuk siapa saja. Tak jarang, beliau bisa tertawa lepas saat di atas podium saat melihat tingkah polah lucu warganya. Hal ini sangat menyentuh sekali, mengingat sekarang banyak sekali rakyat yang mengeluh akan adanya penyebab pelanggaran HAM vertikal, dan juga penyebab konflik horizontal.

Sebagai langkah yang baik, presiden kita mendekatkan diri kepada masyarakat dengan blusukannya yang khas. Pergi ke desa-desa atau daerah terpencil, kemudian bersilaturahmi dengan sesi tanya jawab, sapa presiden, dan juga kuis yang berhadiah sepeda. Ini merupakan sebuah langkah yang cukup baik dan rapi untuk menangkis akibat konflik sara.

3. Santai Namun Serius (Program Nawacita)

Salah satu hal yang dikeluhkan masyarakat adalah ekonomi. Terutama, apabila harga di pasar mulai naik, maka lagi-lagi presiden yang disalahkan. Perlu diketahui bahwa pada era Jokowi ini, hampir sleuruh kebijakan yang telah ada pada periode presiden sebelumnya tidak dirubah, melainkan ditingkatkan dan dilaksanakan. Sebagai contoh saja, program pengembangan potensi daerah yang terkandung dalam Nawacita. Nawacita sendiri merupakan gagasan dari SBY yang kemudian berhasil direalisasikan oleh Jokowi.

Sebenarnya program ini mnargetkan bahwa pada tahun 2025 nanti, Indonesia paling tidak sudah berhasil meraih posisi ke 12 ekonomi dunia. Namun, pada tahun 2017, Indonesia sudah berhasil mencapai tingkat 5 kekuatan ekonomi dunia. Itu tandanya bahwa, program tadi dapat secara efektif dikembangkan dan kemudian dijalankan , dengan jerih payah dan usaha yang luar biasa. Hal ini tentunya bisa dicontoh sebagai strategi pemenangan Pemilu.

4. Membalikkan Tuduhan Dari Lawan Politik Dengan Canda Gurau yang Cerdas

Posisi Jokowi tentunya ingin direbut oleh para pesaingnya. Oleh karena itu, tak sedikit dari mereka yang mengatai Jokowi sebagai seorang diktator, karena ia tidak peduli dengan rakyatnya sendirim dan memaksa rakyat untuk bekerja keras. Segala kebijakan ang telah dikeluarkan Jokowi memang oleh masyarakat dipandang sebagai hal negatif, terutama saat pembubaran HTI, yang dinilai membunuh ormas yang ada di dunia.

Namun, dengan santainya Jokowi menanggapi tududan diktator tersebut dengan gurauan khasnya. Beliau berceloteh bahwa wajah seperti milik beliau bukanlah wajah seorang diktator. Sontak gurauan tersebut menghibur seluruh remaja yang berada di Lubang Buaya pada Selasa 8 Agustus. Ini merupakan contoh yang baik, untuk menghiraukan ejekan orang lain kepada diri kita yang bisa berujung pada penyebab konflik sosial paling umum.

5. Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake

Apa arti dari segerombolan kata di atas? Kata-kata tadi mencerminkan hal yang baru-baru ini terjadi, yakni kasus Setya Novanto, yang pernah berkata bahwa Jokowi adalah presiden yang keras kepala pada salah satu rekaman bukti. Namun ternyata Setya Novanto yang tertimpa batunya. Akhirnya Setya Novanto malu luar biasa karena kehilangan kewibawaannya karena menganggap remeh Jokowi. Jokowi memang sengaja untuk tidak membuat langkah yang jelas dan frontal, karena mengingat kejadian yang menimpa Gus Dur dahulu. Dengan langkah tersebut, akhirnya tersangka bisa santai berpikir bahwa presiden merupakan orang yang mudah dijatuhkan. Namun, hasilnya kini bisa anda lihat sendiri di layar kaca anda. Ketua DPR yang disanjung-sanjung akhirnya harus memakai rompi oranye juga.

Untuk merayakan kemenangannya yang manis, Jokowi beserta para staff mengundang para pelawang yang terkenal untuk makan-makan bersama di Istana. Sementara itu, dimalam yang sama Setya Novanto mengundurkan diri sebagai Ketua DPR. It’s a sweet victory. Berperang sendirian, dan menang tanpa membuat lawan malu (Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake).

[AdSense-C]

Itulah tadi kelima kecerdasan orang nomor satu di Indonesia yakni Presiden Joko Widodo  beserta kehebatan politik Jokowi. Walaupun banyak sekali orang yang mencerca beliau, namun dengan kesabaran hati yang khas dari beliau, kita bisa lihat bagaimana kekuatan seorang pemimpin yang sebenarnya. Dengan adanya beliau, maka Indonesia bisa sedikit bernapas lega, karena negara pada akhirnya sudah memiliki soerang pemimpin yang luar biasa. Semoga saja, kita sebagai rakyat juga bisa menutup telinga dari penyebab konflik sara yang terjadi di luar sana. Dan berkembang bersama menjadi bangsa yang hebat.