Sponsors Link

2 Faktor Penghambat Politik Bagi Perempuan Dalam Berpartisipasi

Sponsors Link

Faktor penghambat politik menjadi isue yang nenarik untuk dibahas. Apalagi mengenai politik pastisipasi perempuan yang kini kerap menjadi sorotan. Sebelum menjelaskan lebih jauh, maka setidaknya kita harus mekihat satu persatu definisi dari topi yang akan dibahas. Menurut kamus besar bahasa Indonesia , dijelaskan bahwa
hambatan ataupun penghambat adalah hal yang menjadi penyebab atau karenanya, tujuan atau keinginan tersebut tidak dapat diwujudkan. Hal ini berarti bahwa hambatan menjadi salah satu faktor utama tidak terwujudnya sebuah tujuan. Tentu saja hal ini merupakan sebuah problem yang harus segera ditangani secara masif.

ads

Terlebih lagi, mengenai penghambat politik bagi perempuan dalam berpartisipasi selalu menjadi isue yang menarik untjk dibahas. Apalagi mengingat bahwa saat ini isue gender dan kesetaraan antara perempuan dan laki laki begitu sering dibahas. Termasuk juga bagaimana pasrtisipasi perempuan diranah politik. Meskipun menuai pro serta kontra, namun setidaknya terdapat 2 faktor utama yang akan dijabarkan dalam 2 faktor penghambat politik bagi perempuan dalam berpartisipasi berikut ini.

1. Faktor internal

Faktor penghambat internal yaitu faktor segi pendidikan, segi kultur budaya, segi keluarga, segi diri perempuan itu sendiri. Pembagian peran gender secara biologis antara laki-laki dan perempuan dibangun di atas konstruk budaya patriarkis. Interpretasi agama yang disalahartikan merupakan hambatan karir perempuan dalam politik,
sehingga perempuan berpartisipasi di wilayah politik tidak mendapatkan dukungan dari lingkungannya atau bahkan dirinya sendiri. Menurut Ramlan Surbakti dalam Liza Hadis beberapa hambatan
yang dirasakan oleh perempuan yaitu:

  • Pendidikan

Adanya pembedaan antara laki-laki dengan perempuan berdampak pada perbedaan pada penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK, sehingga tertinggal dalam memperoleh informasi dan keterbatasan komunikasi, sehingga perempuan terhambat dalam membangun jaringan di wilayah publik. Informasi tentang politik selalu diterima melalui
perspektif laki-laki, sehingga perempuan tereliminasi karena beranggapan bahwa politik menjadi fenomena di luar dirinya. Hal ini dapat menjadi kendala terbesar dalam mengangkat keterpurukan dan
ketertindasan perempuan dalam nuansa budaya patriarkhi sehingga menjadi penghambatan yang besar bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam politik.

  • Kultur dan Budaya

Segi kultur budaya bahwa terdapat perbedaan kemampuan antara perempuan dan laki-laki dalam memimpin, bahkan perempuan selalu menilai bahwa kebudayaan suku/etnis mempengaruhi kepartisipasiaanya dalam politik bahkan segi kultur budaya pun perempuan cendrung mengikuti pilihan laki-laki baik itu ayah ataupun suami. Perempuan lebih ditekankan kepada budaya yang melekat, yang mengatakan bahwa perempuan adalah pelayan bagi laki-laki serta perempuan tidak berhak mengambil keputusan termasuk dalam pilihan politik.

  •  Keluarga

Segi keluarga adalah masih terikat dengan adanya faktor budaya yang menyatakan perempuan di dalam mengambil keputusan harus berdasarkan suami/ayah karena perempuan dianggap sebagai pelayan
bagi laki-laki serta tidak berhak mengambil keputusan termasuk dalam pilihan politik, sehingga kurangnya dukungan keluarga di dalam perempuan berpartisipasi.

  • Dalam diri perempuan itu sendiri

Hambatan berpartisipasi secara politis berasal dari perempuan sendiri.
Pencitraan perempuan sebagai mahluk lemah, tidak mandiri, kurang Tanggung jawab yang sudah meresap di alam bawah sadar, dirasakan oleh perempuan sebagai fitrah, bawaan dan kodrati. Inferioritas (rendah diri) akibat konstruk masyarakat juga menjadi hambatan perempuan
dalam proses aktualisasi potensi dirinya. Kurang mampunya perempuan mengukur potensi diri menyababkan perempuan seolah kehilangan jati dirinya. Sebagai akibatnya adalah pola pikir perempuan menjadi sangat akrab dengan kepasrahan, sengaja atau tidak akan dimanfaatkan oleh kekuatan superioritas laki-laki.

2. Faktor eksternal

faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar yang melingkupi sosialisasi atau pengarahan, segi pandangan politik, dan segi peran lokal.

Sponsors Link

  • Sosialisai dan pengarahan

Sosialisasi atau pengarahan tentang politik atau tentang pemilihan umum kaum perempuan terkadang menganggap bahwa sosialisasi tersebut dianggap tidak perlu untuk dihadiri, karena perempuan lebih mementingkan kepentingan yang bersifat pribadi. Perbedaan sosialisasi antara kaum perempuan dan laki-laki adalah di dalam pemberian pengarahan politik selalu mengutamakan laki-laki di dalam pemberian pengarahan politik. Perempuan selalu dianggap tidak perlu mengikuti sosialisasi tersebut karena dianggap sebagai second class bahkan karena rendahnya tingkatan pendidikan kaum perempuan maka di dalam sosialisasi pun kaum perempuan diterbelakangkan.

  • Pandangan Politik

Pandangan politik adalah bahwa kaum perempuan tidak dapat berpartisipasi politik karena perempuan terkadang memandang politik itu tidak terlalu penting. Perempuan lebih mementingkan urusan rumah tangganya daripada politik. Sebagian perempuan beranggapan bahwa memasuki wilayah politik adalah memasuki wilayah yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan luar biasa. Sebagian perempuan beranggapan bahwa memasuki wilayah politik adalah memasuki dunia
yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.

Kurangnya kaum perempuan yang memiliki naluri juang untuk berpolitik untuk membela kaum perempuan yang lemah dan tertindas yang dikenal dengan politik androsendtris, politik androsentris dengan ciri khasnya adalah memarginalisasi perempuan, semestinya menjadi agenda untuk dihapuskannya dan mempopulerkan politik androgini agar siapapun baik laki-laki atau perempuan dapat menyuarakan suara perempuan.

  • Peran sosial

Peran lokal adalah dimana peran lingkungan seperti tokoh masyarakat
dalam partisipasi politik tidak medukung kaum perempuan berpartisipasi dikarenakan faktor lingkungan yang memandang kaum perempuan hanya sebagai pelayan bagi suami serta keterbelakangan pendidikan di kalangan lingkungan sekitar bahkan tokoh masyarakat jarang memberikan saran sebagai dukungan agar perempuan bisa dan yakin jika perempuan itu sendiri mampu berpartisipasi politik.

itulah tadi, 2 penghambat politik bagi perempuan dalam berpartisipasi . Semoga bermanfaat.

, , ,
Post Date: Saturday 23rd, March 2019 / 22:54 Oleh :
Kategori : Politik