Sponsors Link

Dampak Politik Apartheid, Masa Kelam Afrika Selatan

Sponsors Link

Apartheid boleh jadi adalah hal yang momok bagi warga Afrika Selatan. Masyarakat Afrika Selatan menjalani apartheid selama kurun waktu 1948 – 1933 dan memberi dampak yang cukup besar terhadap kehidupan sosial politik warga setempat. Dalam kurun waktu tersebut mereka mengalami diskriminasi sembari berjuang untuk mendapatkan kesetaraan. Apakah sesungguhnya apartheid  dan dampak apa yang diakibatkan oleh apartheid? Simak pemaparan tentang sistem tersebut berikut ini.

ads

Apa itu Apartheid?

Kata apartheid berasal dari bahasa Afrikans yang dituturkan di Afrika Selatan dan Namibia, terdiri dari kata apart yang artinya terpisah dan heid yang artinya sistem. Apartheid berarti sistem pemisahan ras dimana pemisahan ras yang dimaksud adalah pemisahan antara koloni Inggris dan Afrika.

Pada 1948 berlaku undang-undang apartheid yang menyentuh aspek kegiatan sosial masyarakat Arika Selatan seperti larangan pernikahan antara orang kulit putih dengan kulit berwarna dan klasifikasi pekerjaan yang hanya dikhususkan untuk orang kulit putih. Apartheid juga disebut dengan “separate development” yang dilegalkan melalui Population Registration Act pada 1950 yang memisahkan orang Bantu (Afrika kulit hitam), Coloured (campuran) dan orang kulit putih yang kemudian bertambah dengan kategori Asia berdasarkan pada penampilan, penerimaan sosial dan garis keturunan.

Bagaimana Politik Apartheid Berjalan?

Partai Nasional yang beranggotakan orang kulit putih yang memenangkan pemilihan umum 1948 memberlakukan segregasi total di bawah kepemimpinan Daniel F. Malan. Periode pertama disebut sebagai baaskap, dimana dalam periode ini orang kulit hitam dan Asia diusir dari tempat tinggal mereka dan dipindahkan jauh dari pusat pemukiman, pertanian dan pusat bisnis orang kulit putih.

Selain itu, mereka juga kehilangan hak politik, termasuk hak kewarnegaan. Namun, dalam perkembangannya kaum kulit putih menyadari bahwa tenaga kerja murah hanya berasal dari kaum kulit hitam dan Asia sehingga mereka menginzinkan kaum tersebut untuk tinggal kembali ke wilayah orang kulit putih bekerja.

Untuk mengawasi orang kulit hitam, pemerintah mengesahkan empat undang-undang, antara lain UU Larangan Nikah Campur (1949), UU Registrasi Penduduk (1950), UU Wilayah Kelompok (1950) dan UU Reservasi Pemilihan Fasilitas (1953). Di antara undang-undang tersebut, UU Wilayah Kelompok membuat 3,5 juta direlokasi secara paksa pada akhir 1980.

Pada 1958, di bawah kepemimpinan Hendrick Verwoerd apartheid ditetapkan sebagai separate development atau pembangunan terpisah. Bantu Self-Government Act 1959 mengesahkan Black Homelands bagi 10 suku kulit hitam Afrika Selatan, dimana seluruh warga kulit hitam dipindahkan ke salah satu dari 10 wilayah suku kulit hitam sehingga orang kulit putih menguasai 87% tanah.

Di wilayah tersebut, orang kulit hitam dapat menikmati hak politik dan menjadi warga negara, tetapi bukan sebagai warga Afrika Selatan, melainkan didorong untuk mendapatkan kemerdekaan secara penuh seperti Swaziland dan Lesotho yang berhasil berdiri sendiri.

Dampak Politik Apartheid

Penerapan politik apartheid menyebabkan ketidakadilan bagi warga kulit hitam Afrika Selatan di segala bidang. Mereka tidak mendapatkan hak-hak politik sebagai warga negara. Politik apartheid menekan suara orang-orang kulit hitam dengan mencabut hak pilih mereka untuk memilih pemimpin. Mereka juga menerima ketidakadilan dalam masalah hak tinggal.

Dimana, mereka diharuskan untuk tinggal di satu wilayah dan diperparah saat pejabat pemerintah yang semuanya adalah orang kulit putih memberlakukan undang-undang yang membuat orang kulit hitam menjadi orang asing di tanah leluhur sendiri.

Orang kulit hitam pun tidak mendapatkan kesetaraan dalam hal pekerjaan dimana mereka tidak dapat menduduki posisi penting karena adanya dominasi kulit putih yang mengisi posisi-posisi strategis dan bekerja dengan upah yang murah pada usaha-usaha yang dijalan oleh orang kulit putih.

Dampak negatif bagi warga kulit hitam menimbulkan perlawanan terhadap politik apartheid dari para toko Afrika Selatan yang tergabung dalam African National Congress (ANC). Salah satu tokoh ANC yang terkenal dalam perjuangan menghapus sistem apartheid adalah Nelson Mandela yang mendorong ANC menjadi gerakan nasional. ANC fokus pada hak-hak sipil warga kulit hitam dan melakukan perlawanan terhadap hukum yang tidak adil secara damai.

Kampanye yang dilakukan ANC ternyata berhasil membuka mata dunia internasional tentang buruknya politik apartheid. Banyak negara mengecam sistem ini hingga membuat Afrika Selatan keluar dari PBB pada 1961. Aktivitas apartheid yang meningkat menyebabkan pemerintah menyatakan keadaan darurat pada 1986 dan terjadi depresi ekonomi di Afrika Selatan.

Pada 1989 pemimpin Partai Nasional Frederik Willem de Klerk akhirnya membebaskan banyak tahanan politik kulit hitam yang terlibat dalam gerakan anti apartheid. Kemudian pada 1990 organisasi anti apartheid tidak dilarang, tahanan politik termasuk Nelson Mandela dibebaskan dan resolusi baru yang secara resmi menghapus praktek apartheid disahkan. Hingga akhirnya pada 1994 apartheid resmi berakhir dan Nelson Mandela terpilih menjadi presiden melalui pemilihan yang diselenggarakan secara bebas tanpa pembatasan ras.

Perjuangan Nelson Mandela dalam menegakkan kekuasan tanpa adanya rasialisme dan menghapus apartheid bukan hal yang singkat hingga akhirnya berhasil mewujudkan kesetaraan bagi rakyat Afrika Selatan. Dampak yang terjadi setelah apartheid berakhir adalah rakyat Afrika Selatan bangkit setelah menjalani masa kelam dan membangkitkan semangat perjuangan orang-orang kulit hitam dalam memperjuangkan Afrika Selatan tanpa membedakan ras.

, , , , , , , ,
Post Date: Wednesday 11th, September 2019 / 10:14 Oleh :
Kategori : Politik