Sponsors Link

Dampak Penghapusan Politik Apartheid di Afrika Selatan

Sponsors Link

Politik Apartheid menjadi mimpi buruk warga kulit hitam Afrika Selatan selama puluhan tahun. Sejak 1948 ketika Partai Nasional de Boer memenangkan pemilu, pemerintahan minoritas kulit putih dibentuk dan sistem Apartheid ditetapkan dalam Undang-Undang.

ads

Apartheid berarti sistem pemisahan ras antara ras Afrika (kulit hitam) dan koloni Inggris (kulit putih). Pada 1950, Undang-Undang Pendaftaran Populasi warga Afrika Selatan dibagi menjadi tiga kategori, yakni Bantu atau Afrika kulit hitam, kulit putih dan kulit berwarna lain, serta kategori baru yaitu warga Asia yang didominasi etnis India dan Pakistan.

Dampak dari diberlakukan Undang-Undang sistem Apartheid menguntungkan warga kulit putih yang dapat menguasai 80 persen wilayah Afrika Selatan. Di sisi lain warga kulit hitam hanya diizinkan tinggal di wilayah tertentu yang disebut sebagai homeland atau tanah air dan memiliki pemerintahan administrasi tersendiri. Pada 1970, Undang-Undang Kewarnegaraan Tanah Air Bantu diberlakukan dan mengatur semua warga kulit hitam hanya boleh tinggal di homeland yang dihuni mayoritas kulit hitam Afrika dan diwajibkan membawa paspor jika ingin meninggalkan wilayahnya. Hal ini tentunya tidak adil bagi warga kulit hitam yang dikucilkan secara ekonomi, sosial dan politik.

Pelaksanaan Apartheid dalam kehidupan masyarakat Afrika Selatan tidak hanya terlihat pada peraturan izin tinggal, tetapi juga dalam aspek lainnya. Akibat dari disingkirkannya warga kulit hitam ke homeland, kegiatan bisnis yang strategis di daerah perkotaan hanya dikuasai oleh warga kulit putih.

Seolah belum cukup, jenis pekerjaan, alat angkutan umum, fasilitas pelayanan masyarakat, tempat hiburan dan tempat ibadah untuk warga kulit putih dan kulit hitam dibedakan juga. Perkawinan antara kulit putih dan kulit hitam atau kulit berwarna pun dianggap melanggar hukum, dan warga kulit hitam atau kulit berwarna harus kehilangan hak politiknya karena dilarang melakukan kegiatan politik apapun.

Dengan adanya jurang diskriminasi yang begitu besar, maka mendorong munculnya reaksi dari masyarakat yang menentang sistem Apartheid. Bahkan reaksi tidak hanya muncul dari dalam negeri, tetapi juga dari dunia internasional.

Aksi Menentang Politik Apartheid

Perlawanan terhadap politik Apartheid yang terjadi di dalam negeri datang dari warga kulit hitam Afrika Selatan yang dipelopori oleh African National Congress (ANC) yang dipimpin oleh Nelson Mandela dan United Democratic Front (UDF) yang dipimpin oleh Uskup Desmond Tutu. Sebagai bentuk perlawanan, ANC membentuk sayap bersenjata yang disebut Umkhonto we Sizwe (MK) yang berarti Tombak Bangsa.

Diketahui MK telah melancarkan 200 aksi sabotase dalam kurun waktu 1,5 tahun hingga akhirnya ANC dilarang beroperasi. Namun, ANC tetap melakukan pergerakan di bawah tanah atau secara diam-diam. Pada 1964, pimpinan ANC Nelson Mandela akhirnya dijebloskan ke penjara dan divonis hukuman seumur hidup.

Pada 1984, warga kulit hitam melakukan aksi protes yang akhirnya berkembang menjadi kerusuhan rasial massal hingga membuat pemerintah memberlakukan keadaan darurat perang pada Agustus 1985. Desakan dari dunia internasional pun semakin keras. Negara-negara di Asia, Afrika dan Eropa Timur mematuhi resolusi PBB untuk memboikot Afrika Selatan. Pada 1986, negara anggota Persemakmuran juga menekan Afrika Selatan. Inggris melalui Menlu Sir Geoffrey Howe mendesak pemerintah Afrika Selatan untuk menghapus politik Apartheid.

Penghapusan Politik Apartheid

Dengan desakan dunia internasional yang semakin kuat, akhirnya Nelson Mandela dibebaskan pada 11 Februari 1990 pada masa pemerintahan Frederik Willem de Klerk. Hal ini memberi dampak positif terhadap perjuangan rakyat Afrika Selatan yang sedang berjuang melawan politik Apartheid. Nelson Mandela pun menerima ucapan selamat dari 30 pemimpin negara di dunia dan organisasi internasional.

Setelah melalui perjuangan panjang, pada Maret 1992 akhirnya diadakan referendum dan lebih dari setengah pemberi suara sepakat untuk menghapus politik Apartheid. Pemerintahan F.W. de Klerk pun berjanji menyelenggarakan pemilu yang adil tanpa adanya pembatasan rasial. Pemilu multirasial pertama di Afrika Selatan kemudian diadakan pada 1994 dan partai ANC yang dipimpin Nelson Mandela meraih mayoritas suara. Pada 9 Mei 1994 Nelson Mandela dipilih oleh parlemen Afrika Selatan menjadi presiden Afrika Selatan.

Babak Baru Pemerintahan Afrika Selatan

Dengan dihapusnya politik Apartheid, Afrika Selatan memulai babak baru dalam kehidupan sosial politik masyarakat. Pemerintahan yang baru menetapkan persamaan hak bagi seluruh warga Afrika Selatan tanpa memandang adanya perbedaan warna kulit. Inilah tonggak keberhasilan warga kulit hitam dalam memperjuangkan persamaan hak.

Pemerintahan yang baru juga merencanakan program land reform untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul pasca diberlakukan politik Apartheid. Program tersebut memiliki tiga fokus utama, yakni hak atas tanah, redistribusi tanah dan tenure reform. Sebelum dijalankannya land reform, warga kulit hitam hanya diizinkan menguasai 13% tanah dan tidak memiliki hak sumber daya alam dan industri. Setelah dijalankannya land reform, situasi pun membaik dimana warga kulit putih maupun kulit hitam atau berwarna memiliki hak yang sama atas sumber daya alam dan industri.

Ada hal unik yang dilakukan Nelson Mandela pasca dihapusnya Apartheid. Saat Apartheid masih berlaku, ANC menggunakan rugby sebagai alat untuk mengalahkan orang kulit putih. Mandela melakukan strategi yang sama untuk menyatukan warga Afrika Selatan dengan menggunakan tim rugby Springboks.

Mandela pun mengundang kapten Springboks untuk minum teh dan mengutarakan ide untuk menjadikan rugby sebagai representatif Afrika Selatan dalam sebuah kesatuan tim yang tidak memandang ras dan kelas. Mandela juga melakukan upaya persuasif terhadap warga kulit hitam yang dibesarkan untuk membenci rugby karena identik dimainkan oleh warga kulit putih.

Pada 1995 Afrika Selatan menjadi tuan rumah PIala Dunia Rugby. Semua pemain rugby Afrika Selatan merupakan warga kulit putih dan Chester Williams satu-satunya pemain kulit hitam. Namun, warga Afrika Selatan tidak lagi peduli dengan perbedaan warna kulit. Semua antuasias mendukung tim Afrika Selatan hingga akhirnya tim Afrika Selatan berhasil mengalahkan All Blacks, tim unggulan Selandia Baru dan menjadi juara Piala Dunia. Hal ini menandakan kebangkitan rakyat Afrika Selatan dalam menjunjung persatuan tanpa membedakan ras. Mereka memberikan dukungan atas satu nama, yakni atas nama rakyat Afrika Selatan.

, , , , , ,
Post Date: Wednesday 25th, September 2019 / 09:36 Oleh :
Kategori : Politik