4 Contoh Pencemaran Nama Baik yang Pernah Terjadi Di Media Sosial

Pencemaran nama baik merupakan salah satu jenis kasus pidana yang akhir-akhir ini kerap terjadi dan menyita perhatian publik sebagaimana contoh kasus kdrt terhadap istri . Banyak pakar yang menilai dasar dari tindakan pencemaran nama baik dinilai merupakan bentuk tindakan penghinaan. Dimana sebagai negara hukum tentunya hal tersebut telah diatur oleh hukum. Dalam lapangan hukum pidana (KUHP) yang digolongkan sebagai pencemaran nama baik diatur dalam beberapa pasal dan istilah yang lazim digunakan pasal-pasal tindak pidana penghinaan.

Sehingga Tindakan  pidana penginaan itu yang belakangan sering pula disebut dengan tidak pidana pencemaran nama baik sebagaimana pasal perjudian togel. Meskipun secara istilah keduanya merupakan hal yang berbeda. Namun, didalam tindakan penemaran nama baik, terdapat unsur penghinaan yang kemudian dapat dijadikan sebagai landasan hukum. tidak pidana pencemaran nama baik (penghinaan) saat ini tidak hanya diatur dalam KUHP, tetapi juga dalam hukum pidana diluar KUHP seperti dalam UU ITE.

Sehingga segala bentuk penghinaan yang terdapat unsur pencemaran nama baik, baik yang dilakukan secara langsung atau melalui internet dapat ditindak secara hukum sebagaimana prinsip-prinsip demokrasi pancasila . Apalagi saat ini banyak orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan media sosial sebagai senjata untuk melontarkan hinaan dan ucapan yang berunsur mencemarkan nama baik. Setiap individu yang merasa dicemarkan nama baiknya dapat langsung melakukam tindakan dengan melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal ini, berikut akan di bahas mengenai 4 contoh pencemaran nama baik yang pernah terjadi di media sosial.

1. Kasus Prita Mulyasari

Tahun 2008 silam, kita sempat dihebohkan dengan sebuah kasus pencemaran nama baik yang menjerat Prita Mulyasari sebagai contoh demokrasi pancasila . Pihak pelapor merupakan pihak dari Rumah Sakit Omni Tangerang yang merupakan sebuah rumah sakit swata di Tangerang. Pada awalnya Rumah Sakit Omni sendiri merupakan tempat dimana Prita berobat atas keluhan panas tinggi dan pusing kepala. Saat itu juga ia langsung dirawat inap, diinfus dan diberi suntikan dengan diagnosa positif demam berdarah. Keesokan harinya terdapat revisi hasil lab yang dilakukan saat Prita melakukan pemeriksaan pertama, thrombosit bukan 27.000 tapi 181.000.

Kemudian ia mulai mendapat banyak suntikan obat, tangan kiri tetap diinfus. Tangan kiri mulai membangkak, Prita minta dihentikan infus dan suntikan. Suhu badan naik lagi ke 39 derajat. Dokter menjelaskan dia terkena virus udara. Infus dipindahkan ke tangan kanan dan suntikan obat tetap dilakukan. Malamnya Prita terserang sesak nafas selama 15 menit dan diberi oksigen. Karena tangan kanan juga bengkak, dia memaksa agar infus diberhentikan dan menolak disuntik lagi.  [AdSense-B]

11 Agustus 2008 Terjadi pembengkakan pada leher kanan, suhu badan kembali ke 39 derajat. Prita memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan mendapatkan data-data medis yang menurutnya tidak sesuai fakta. Prita meminta hasil lab yang berisi thrombosit 27.000, tapi yang didapat hanya informasi thrombosit 181.000. Pasalnya, dengan adanya hasil lab thrombosit 27.000 itulah dia akhirnya dirawat inap. Pihak OMNI berdalih hal tersebut tidak diperkenankan karena hasilnya memang tidak valid. Di rumah sakit yang baru, Prita dimasukkan ke dalam ruang isolasi karena dia terserang virus yang menular.

Tanggal 15 Agustus 2008 Prita kemudian  menulis keluhan atas pelayanan diberikan pihak rumah sakit ke forum pengaduan melalui customer_care@banksinarmas.com dan ke kerabatnya yang lain dengan judul “Penipuan RS Omni Internasional Alam Sutra”. Emailnya menyebar ke beberapa milis dan forum online. Prita mengirimkan isi emailnya ke suratpembacadetik.com pada tanggal 30 Agustus 2008. Kemudian pada 5 September 2008 keluhan Prita tersebut dijawab oleh RS Omni internasional dengan sebuah pelaporan atas pencemaran nama baik ke Devisi Reserse Kriminal Polri. Akibatnya dia terjerat hukum UU ITE pasal 27 ayat 3 tentang pencemaran nama baik.

2. Kasus Pencemaran Nama Baik yang Dilakukan oleh Siswa SMA 2 Purbolinggo

Kasus pencemaran nama baik kembali berulang dan dilakukan  oleh empat siswa sekolah SMAN 2 Probolinggo terhadap sekolah mereka di status jejaring sosial yaitu facebook yang berakibat mereka harus dikeluarkan dari sekolah. Hal ini bermula pada Jumat (30/7) lalu, Devi Riski dan Annisa membuat status di Facebook. Ia mengeluhkan sejumlah kejadian di SMAN 2, mulai dari helm yang hilang di tempat parkir sekolah, jok motor disilet, hingga sepatu di musola juga disilet. Kejadian itu sudah dilaporkan kepada guru bidang kesiswaan tapi pihak sekolah tidak ada respon.

Kemudian status Devi ini dikomentari oleh Rosdiana dan Mega Ayu yang berisi komentar tentang pelecehan dan pencemaran nama baik sekolah seperti kata  kasar berisi umpatan dan hujatan kepada pihak sekolah dan guru.
Hal ini ternyata bisa diketahui oleh pihak sekolah, akibatnya ke empat orang tua siswa yang terlibat  pelecehan dan pencemaran nama baik selokah dipanggil. Sunadi ayah dari Devi menyatakan dia di kontak dan diminta datang ke sekolah oleh pihak sekolah.

Di sekolah, Sunadi diperlihatkan status dan komentar FB anak nya oleh Safiudin kepala sekolah SMAN 2 Probolinggo. “Katanya anak – anak bisa dijerat dengan UU Informasi Teknologi dan Elektronika yang hukumannya 6 tahun penjara dan denda Rp. 1 Milyar”. ujar Sunadi. Akhirnya sekolah memutuskan untuk mengembalikan anaknya ke orang tua (dipecat). Demikian juga dengan anak – anak yang lain yang memberi komentar di FB juga dikeluarkan sebagaimana hukuman bagi penuduh zina.  [AdSense-C]

3. Kasus Pencemaran Nama Baik oleh Lyra Virna

Kasus ini merupaka  salah satu kasus yang menimpa publik figur atau selebritas. Lyra Virna dikenal sebagai salah satu artis yang memiliki usaha karaoke yang kemudian dilaporkan oleh pemilik dari agen travel. Krononolgi kejadian berawal saat lyra virna melakukan ibada umrah bersama Ada Tour dan Travel. Ia kemudian mengeluhkan oelayana  dari pihak travel yang dianggapnya membuat para jamaah terkatung-katung. Keluhan tersebut ia sampaikan langsung melalui akun instagram pribadi atau media sosialnya. Merasa nama baiknya dicemarkan maka pemilik dari Ada Tour and Travel Lasty Annisa  melaporkan Lyra ke Polda Metro Jaya atas dugaan pencemaran nama baik sebagaimana pasal perjudian online .

4. Dugaan Pencemaran Nama Baik Oleh Fahri Hamzah 

Politisi Fahri Hamzah juga pernah diduga melakukan pencemaran nama baik melalui media sosial. Kronologi berawal dari sebuat cuitan Fahri Hamzah dalam akun Twitternya pada tanggal 3-4 Januari 2018. Dalam akun twitternya tersebut Fahri mencuitkan “Boleh Melakukan Kesalahan Apapun Yang Penting Taat Qiyadah.”  Sedangkan satu lagi adalah pernyataan Fahri di media pemberitaan yang berbunyi “Di PKS Boleh Melakukan Kejahatan Apapun Yang Penting Nurut Sama Pimpinan.” Atas dasar tersebut, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Sakhir Purnomo melaporkan Fahri ke Polda Metro Jaya 27 Maret kemarin.

4 contoh pencemaran nama baik yang pernah terjadi di media sosial. Tentu hanyalah sebagian kasus yang sempat menarik perhatian publik. Faktanya masih banyak kasus yang terjadi dan dapat menjerat siapapun. Oleh sebab itu, selalu bijaklah dalam berkomentar dan menukiskan cuitan agar tidak menjerat anda keranah hukum. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.