4 Contoh Pelanggaran Hak Merek di Indonesia yang Marak Terjadi

Cukup banyak contoh pelanggaran hak merek di Indonesia baik yang sudah terekspos maupun belum. Sebenarnya banyak langkah hukum yang bisa ditempuh maupun upaya prefentif untuk menguranginya. Kurangnya sosialisasi menjadi salah satu latar belakang pelanggaran ini terjadi.

Setiap produk yang diciptakan manusia harus memiliki merek agar bisa diakui oleh banyak orang bahwa barang tersebut adalah atas nama seseorang yang memproduksi atau memiliki hak atas kepemilikan barang tersebut. Berikut beberapa contoh kasus sengketa merek yang pernah terjadi di Indonesia.

1. Kasus Pelanggaran Hak Merek pada Aqua

Siapa warga di seluruh dunia yang tidak mengenal Aqua? Contoh pelanggaran hak merek di Indonesia adalah tentang perusahaan ini. Pelanggaran merek ini hampir sama dengan contoh kasus pelanggaran hak cipta teknologi informasi dalam meniru dan mengimitasi produk. PT. Aqua Golden Missisipi yang berhasil menyebarkan mereknya dan dikenal di seluruh dunia. Popularitas itu membuat usaha air minum kemasan lain ingin meraih popularitas yang sama, dan memberi merek produk air kemasan mereka “Aqualiva”.

Meskipun dilakukan melalui pemberian merek dengan nama yang sedikit berbeda, namun tidak meninggalkan nama “Aqua“ sebagai merek utama, maka usaha tersebut dianggap melakukan pelanggaran hak merek, atau plagiat merek. Misalnya seperti, usaha yang memproduksi air kemasan diberi merek Aqualiva diputuskan oleh MA sebagai usaha yang melanggar hak merek Aqua, karena telah melakukan persamaan visual, jenis barang, dan konsep.

2. Kasus Pelanggaran Hak Merek Pierre Cardin

Contoh pelanggaran hak merek di Indonesia yang kedua adalah tentang Pierre Cardin. Perancang busana terkenal yang berasal dari Perancis memiliki hak untuk memberi merek Pierre Cardin pada produknya yang berupa karya busana dan berbagai fashion. Ia kemudian menuntut ke pengadilan di Indonesia mengenai persengketaan merek dagang yang juga digunakan oleh pengusaha asal Indonesia untuk menamai produk fashionnya.

Namun, hal itu memberikan hasil yang tidak memuaskan karena MA memberikan putusan bahwa pendaftaran merek dengan nama tersebut lebih dulu diajukan oleh pengusaha dari Indonesia. Hal ini dapat mengakibatkan konsumen kebingungan atas ketidakjelasan merek dagang.

3. Kasus Barang-Barang KW

Merek juga berfungsi agar pengakuan barang atau suatu hal tidak diambil orang lain. Atau bisa juga disebut sebagai salah satu jenis dari pelanggaran HAM sehingga penting bagi semua orang untuk mengetahui tentang apa yang dimaksud pelanggaran hak asasi manusia. Merek ini bisa berupa sebuah nama, huruf, angka, gambar, logo, dan lain-lain. Karena itu, maraknya barang-barang KW atau palsu di banyak tempat yang menggunakan nama mirip sangat merugikan produsen.

Merek tidak bisa dipandang remeh, jika terdapat seseorang yang mengambilalih suatu gambar atau nama yang digunakan untuk menandai barang yang dihasilkan oleh orang lain, maka orang tersebut dianggap melanggar hak merek, hak cipta, atau hak kepemilikian tanda.

Biasanya sebuah merek yang langka akan diperebutkan seperti sebuah harta karun yang dapat memberi kekayaan besar yang menguntungkan bagi yang bisa mendapatkannya. Dengan begitu, merek juga bisa diperjual-belikan tanpa memdulikan sebuah hukum tentang hak cipta.

Merek adalah suatu hasil kekayaan intelektual suatu pihak yang tidak bisa dikeluarkan begitu saja, tetapi melalui proses dalam mengolah pikiran yang luar biasa. Dan, jika sudah dikeluarkan maka akan memberi pengaruh sangat besar bagi kemajuan di masa depan. Pentingnya merek yang harus dilindungi agar tidak dengan mudah direbut atau diambil alih oleh orang lain yang tidak tidak bertanggungjawab dan tidak beretika, maka dibuatlah hukum untuk melindungi hak merek, yakni UU No. 15 Th. 2001.

Hak merek dapat diurus terlebih dahulu melalui jalur hukum, namun harus selalu diperbarui pada periode tertentu. Periode yang diberikan untuk melindungi hak merek ialah setelah 10 tahun, kemudian surut dengan dihitung dari waktu pertama permohonan merek yang bersangkutan diterima. [AdSense-B]

4.Dunkin Donuts yang Dijiplak Menjadi Donats Donuts

Peristiwa ini terjadi di Yogyakarta dimana masalah terjadi ketika perusahaan donat memberi namanya mirip dengan Dunkin Donuts yang ternama. Bukan hanya mirip ternyata hampir sama dan cukup mengecoh bagi konsumen. padahal, tidak ada kerjasama merek dagang dalam hal ini. Jika sebuah merek dagang bisa menjadi sangat terkenal, namun tidak melakukan perpanjangan kontrak yang mengakibatkan pihak tersebut kehabisan periode waktu merek produknya, maka itu sangat beresiko pada munculnya produk imitasi atau tiruan.

Merek bisa menjadi sebuah sengketa jika menjadi satu hal bisa digunakan untuk segala sesuatu yang bisa menghasilkan profit atau untung yang memuaskan. Contoh pelanggaran hak merek di Indonesia di atas juga termasuk pelangaran hukum internasional seperti dalam contoh kasus sengketa perdata internasional paling fenomenal di dunia. Perlindungan hak merek pada umumnya sering tidak pada tempatnya. UU perlindungan hak merek kurang dihargai.

Hal itu terbukti dengan banyaknya kasus sengketa merek yang terjadi di Indonesia, yang menjerat berbagai pengusaha yang dengan sengaja memakai beberapa merek ternama. Maka dari itu segera ajukan permohonan hak merek ke pengadilan. Jika tidak, maka biersiaplah merek tersebut untuk dijadikan sebagai bahan taruhan oleh banyak pihak yang berkepentingan.