Sponsors Link

3 Contoh Konflik Vertikal Di Tengah Masyarakat

Sponsors Link

Konflik merupakan bagian dari kehidupan di masyarakat yang hampir sulit untuk dipisahkan, apalagi di tengah-tengah masyarkat majemuk misalnya Indonesia. Konflik sendiri memiliki beberapa contoh, antara lain contoh konflik individu, contoh konflik rasial, contoh konflik sosila, konflik horizional, dan juga contoh konflik vertical.

ads

Pada dasarnya, munculnya konflik dipicu adanya perbedaan yang ada diantara dua pihak atau lebih dan mempunyai pemicu yang beraneka ragam. Umumnya, dilihat dari strata, tingkatan, atau derajat, terdapat dua macan jenis konflik yang sering muncul di lingkungan masyarakat. Keduan jenis tersebut adalah konflik horizontal dan konflik vertical

Diantara keduanya, pasti terdapat perbedaan. Konflik horizontal sendiri memiliki arti sebagai suatu konflik antara individu ataupun kelompok yang terjadi diantara kelompok maupun individu yang mempunyai status sosial sama. Adapun konflik vertikal adalah konflik yang dapat timbul diantara individu maupun kelompok yang mempunyai kewenangan, kekuasaan, serta status sosial berbeda.

Pengertian konflik vertikal dan contohnya

Konflik sendiri merupakan sebuah hal yang tak bisa dihindari dihadari dalam hubungan antar manusia, mulai dari interkasi antara dua orang, hingga interkasi yang melibatkan orang banyak. Kali ini, artikel akan membahas tentang pengertian konflik vertikal beserta contoh yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Mengenai, penjelasan singkat tentang konflik vertikal sudah dijelaskan sebelumnya, namun tak perlu khawatir disini akan dijelaskan kembali tentang pengertian perselesihan vertikal. Pertikaian atau konflik vertikal adalah konflik yang dapat timbul diantara individu maupun kelompok yang mempunyai kewenangan, kekuasaan, serta status sosial berbeda.

Perbedaan ini dapat dilihat dari strata, tingkatan, atau derajat antara individu maupun kelompok lebih besar. Agar mempermudah memahaminya, berikut ini sudah disiapkan tentang contoh konflik vertikal di tengah-tengah masyarakat, diantaranya yaitu :

  1. Konflik antara Orang Tua dan Anak

Contoh konflik vertikel pertama yaitu pertikaian diantara orang tua dan anak. Secara sederhana, sudah nampak terlihat perbedaan status sosial diantara keduannya. Orang tua, pada umumnya memiliki anggapan sebagai pihak yang mempunyai kekuasaan maupun wewenang tertinggi di dalam keluarga. Alhasil, tidak sedikit yang beranggapan bila semua keputusan sumbernya berasal dari orang tua.

Di satu sisi, hal tersebut memang tidak dapat disalahkan, akan tak sedikit pula anak-anak yang sepakat dengan keputusan orang tua. Hal tersebutlah yang lantas menjadi salah satu hal pemicu konflik antara orang tua dan juga anak di dalam sebuah keluarga. Timbulnya konflik tersebut terkadang memiliki dampak positif dan tak jarang juga mempunyai dampak yang negatif. Perbedaan diantara keduanya terletak pada kadar konflik itu.

Bila konflik yang timbul memiliki kadar rendah, umumnya bisa dengan mudah diselesaikan dengan cara menahan diri. Namun hal sebaliknya pun bisa terjadi jika kadar konflik diantara orang tua dan anak dilevel tinggi bahkan sangat tinggi. Benih-benih pertikaian dengan kadar tinggi tersebut bila tak kunjung diselsaikan akan menumpuk dan semakin merusak keharmonisaan antara orang tua dan anak.

Pada umumnya, permasalah ini terjadi karena komunikasi diantara kedua pihak yang kurang nyambung alias tidak saling bersepakat. Misalnya, orang tua ingin akanya masuk kuliha di jurusan ekonomi namun sang anak ingin masuk jurusan seni. Dari perbedaan tersebut lantas tak dibicarakan dari hati ke hati dan hanya terpendam di dalam hati saja. Memang ada baiknya, antara orang tua dan anak diperlukan komunikasi dan kesepakatan untuk dapat menentukan hal paling terbaik untuk keduanya agar tak timbul hal-hal buruk ditengah-tengah keluarga.

  1. Konflik Antara Majikan dengan Pembantu

Contoh berikutnya adalah konflik diantara majikan dengan pembantu. Dari judulnya saja, status sosial diantara keduanya pun sudah nampak jelas. Konflik ini memang kerap kali muncul di tengah-tengah masyarakat, parahnya hingga terjadi kekerasan yang biasanya dilakukan oleh sang majikan kepada pembantu, atau bahkan sebaliknya.

Penyebab terjadinya konflik ini memang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya perilaku bebrapa oknum majikan yang bersikap kurang manusiawi dan sering kali melakukan tindakan kekerasan kepada pembantunya. Dari beberapa kasus tersebut, akhirnya menjadikan seorang pembantu tersebut yang tertindak dan merasa hak-haknya kurang terpenuhi akhirnya berbuat nekat. Mereka bisa saja melakukan pemberontakan misalnya mengambil harta benda milik majikan tanpa izin, melakukan penculikan anak majikan, hingga yang paling parah melakukan tindakan kekerasan sebagai salah satu cara untuk balas dendam kepada majikannya.

  1. Pemberontakan DI/TII

Contoh konflik vertikal berikutnya ialah perselesihaan antara kelompook dengan negara, salah satunya yaitu DI/TII atau kepanjangan dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di masa awal-awal kemerdekaan bangsa Indonesia.  Pemberontakan ini dimulai pada 7 Agustus 1949 oleh sekelompk milisi muslim yang dikoordinasi oleh politisi bernama, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di sebuah Desa Cisampang, Kecamatan Ciawiligar, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Konflik atau pemberontakan ini diladasi keinginan untuk menegakkan hukum Islam dalam menjalankan proses pemerintahan pasca kemerdekaan. Hal ini dikarenakan, mayoritas masyarakat Indonesia memeluk ajaran Islam. Pembetontakan ini sempat menyebar keberbagai penjuru nusantara, diantaranya Aceh, Jawa Tengahdan Sulawesi Selatan.

Demikian merupakan penjelasan tentang contoh konflik vertikal yang terjadi di tengah-tengah masyarkat Indonesia. Semoga bermanfaat.

 

, ,
Post Date: Monday 02nd, September 2019 / 10:09 Oleh :
Kategori : Pro Kontra