4 Ciri-ciri Perang Gerilya Yang Pernah Dipakai Di Indonesia

Perang gerilya merupakan istilah yang berasal dari bahasa spanyol guerrila yang berarti perang kecil. Gerilya menjadi salah satu strategi perang yang dikenal luas karena banyak digunakan sebagai taktik pemenangan sebagaimana latar belakang perang puputan. Indonesia sendiri pernah menggunakan strategi ini pada masa kedatangan Belanda di tahun 1948 dalam rangka kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif untuk digunakan dalam taktik dan siasat untuk memenangkan perang.

Dengan strategi perang gerilya ini, para tentara dapat dengan mudah menipu dan mengelabui musuh dan bahkan dapat melakukan serangan kilat. Taktik ini sangat manjur untuk digunakan dalam menyerang musuh dengan jumlah besar yang kehilangan arah, serta tidak menguasai medan. Taktik ini juga dapat digunakan untuk menyerang musuh tanpa terlihat (Invisible).Saat ini taktik perang gerilya banyak digunakan oleh para teroris, dengan pengguasan medan mereka dapat melakukan penculikan , penahanan dan sandera, berlatih hingga menjadi mata-mata. Musuh juga dapat melakukan nomaden yakni berpindah pindah lokasi dan kemudian melakukan serangan tanpa diketahui lawan. Simak juga tokoh-tokoh perang aceh .

Jenderal Soedirman merupakan tokoh besar perang yang  membuat tentara Belanda ketar-ketir karena keberhasilannya menggunakan taktik perang gerilya. Secara umum berikut akan dijelaskan 4 ciri-ciri perang gerilya yang pernah dipakai di indonesia, semoga dapat membantu anda untuk semakin memahami mengenai perang gerilya itu sendiri. Berikut uraiannya.

1. Perang Dilakukan Secara Sembunyi-sembunyi untuk Menghindari Perang Terbuka

Kedatangan tentara belanda yang kala itu mendarat dengan tiba-tiba melalui serangan udara keseluruh daratan nusantara pada tanggal 19 Desember 1948 simak juga  perlawanan aceh terhadap portugal . Membuat pemerintah Indonesia tidak mungkin melawan dengan perang terbuka. Penyebabnya ialah kurangnya waktu untuk bisa mempersiapkan peralatan dan juga sarana prasarana dan peralatan perang yang kurang memadai karena pada saat itu Indonesia sendiri baru merdeka. Sehingga tentunya untuk mempersiapkan hal itu semua bukanlah hal yang mudah. Simak juga mengenai fakta tentang kim jong un .

Karena itulah kemudian, pasukan tentara Republik indonesia menyusun siasat perang gerilya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari perang terbuka. Hal ini dirasa cukup tepat untuk digunakan mengingat kedatangan tentara belanda yang tiba-tiba dan minimnya persiapan serta persenjataan militer tentara kita. Perang gerilya ini dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. [AdSense-B]

Terbukti bahwa pada akhir tahun 1980-an pergerakan tertara kita dalam bergerilya mulai terorganisir dan dinamis. Berbekal pengalaman masa perang sebelumnya, kemampuan tentara kita saat itu juga cukup mumpuni. Sehingga tentara Belanda mulai kewalahan. Para tentara bersembunyi ditengah hutan dan mempersiapkan strategi penyerangan. Tempat persembunyian ini juga berpindah-pindah sehingga sulit untuk di lacak. Inilah mengapa taktik perang ini cukup efektif digunakan dalam menghadapi tentara Belanda. Simak juga penyebab perang padri pecah.

2. Melakukan Penyerangan Secara Kilat

Selain dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ciri perang gerilya yang kedua ialah adanya penyerangan secara kilat. Saat itu, Belanda kesulitan untuk menggempur tentara republik, karena banyak pos yang diserang dan menjadi target belanda telah dalam kondisi kosong. Namun tiba-tiba pada saat yang tidak disangka-sangka tentara Republik kemudian menyerang kedudukan belanda dengan cepat. Saat Belanda menyerang balik kubu-kubu tentara telah dalam kondisi kosong. Karenanya maka Belanda hanya mampu menguasai daerah perkotaan besar dan jalan raya.

Taktik menyerang tiba-tiba dalam perang gerilya ini memberikan dampak yang cukup baik. Pihak musuh yang tidak memiliki persiapan dan tidak menyangka akan diserang tentu tidak dalam kondisi siaga. Sehingga tentunya akan lebih mudah dikalahkan. Kondisi inilah yang kemudian membuat jatuhnya banyak korban dari pihak musuh sebagaimana dampak perang padri . Sedangkan tentara kita sendiri tentu telah memiliki antisipasi menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi .

Selain itu juga, kondisi yang demikian dapat membuat psikologis pasukan lawan menjadi melemah. Yang pada akhirnya dapat menurunkan semangat  berjuang dalam perang. Inilah yang kemudian akan dimanfaatkan dengan baik pada serangan berikutnya. Kondisi ini tentu sangat baik mengingat semangat musih yang turun maka dipastikan dengan serangan yang tidak optimal saja maka kemenangan dapt diraih. [AdSense-C]

3. Memakai Teknik Penyamaran atau Kamuflase

Selain teknik penyerangan secara tiba-tiba ke markas musuh, ciri perang gerilya yang digunakan Indonesia saat itu adalah melakukan penyamaran atau kamuflase sebagai rakyat biasa sebagimana ciri-ciri perang banjar . Dengan menyamar sebagi rakyat biasa maka tentara Belanda tidak akan merasa curiga. Penyamaran ini dilakukan dengan tujuan untuk mengintai atau mengawasi keadaan musuh. Pihak tentara belanda sendiri juga tidak memperhitungkan dan mencurigai penggunaan teknik penyamaran ini.

Sejumlah tentara di tugaskan untuk menyamar dan membaur dengan rakyat. Atau dalam istilah moderen saat ini bisa juga disebut sebagai mata-mata. Mereka dapat berinteraksi dan menjalin hubungan selayaknya rakyat dan tentara musuh. Dengan memanfaatkan peluang ini, mereka kemudian menginformasikan bagaimana kondisi pasukan lawan. Sehingga tentara kita dapat mempersiapkan langkah dan strategi penyerangan dan sekaligus juga antisipasi segala kemungkinan untuk melumpukan tentara Belanda. Simak juga penyebab perang aceh .

4. Menghilang Dengan Bersembunyi Dihutan Belantara 

Medan perang yang terdiri dari banyaknya daerah hutan belantara memberikan keuntungan tersendiri dalam upaya perang menghadapi belanda secara gerilya ini. Bagi tertara Republik sendiri tentu medan peperangan di hutan merupakan hal yang mudah untuk ditaklukan. Selain itu, tentara kita juga lebih berpengalaman dan sangat memahami seluk beluk dan kondisi hutan yang ada. Namun, tentunya bagi tertara belanda sendiri hal ini merupakan sebuah kesulitan .

Meskipun dibekali perlengkapan perang yang canggih. Namun, kemampuan mereka dalam menaklukan kondisi alam, terutama hutan Indonesia masih berd dibawah kemampuan tentara kita. Hal ini dimanfaatlan betul dalam strategi perang gerilya ini. Dimana tertara belanda akan di tarik untuk menuju medan perang di hutan belantara. Lalu kemudian, para tentara kita akan tiba-tiba menghilang dalam lebatnya hutan. Kondisi yang demikian tentu akan menyebabkan pencarian sulit dilakukan. Selain karena medan yang sulit, pengetahuan tentara lawan tentang kondiai hutan terkait juga sangat minim. Simak juga akibat perang banjar .

Meskipun sempat menghadapi beberapa gejolak yang terjadi. Seperti ditawannya  wakil presiden Muhammad Hatta dan presiden Soekarno oleh Belanda. Namun berkat dukungan dunia internasional dan semakin besarnya performa pasukan indonesia dalam melancarkan serangan gerilya. Akhirnya pemerintah dan tentara belanda kemudian menerima dengan terpaksa resolusi yang di ajukan oleh Dewan Kemanan PBB. Resolusi DK PBB inilah yang kemudian mengakhiri perang, dan penyerangan militer antara keduanya.

Nah, itulah tadi 4 ciri-ciri perang gerilya yang pernah dipakai di indonesia. Dengan keterbatasan persenjataan ternyata strategi perang ini dapat membawa kemenangan dan mengembalikan lagi kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya diraih dengan susah payah. Semoga hal ini dapat mengingatkan kembali mengenai nilai perjuangan  dan betapa besarnya jasa para pahlawan yang rela berkorban nyawa demi kemerdekaan yang saat ini dapat kita nikmati. Semoga artikel ini dapat membantu.