Apa itu Politik Dumping ? Dan Contohnya

Dumping adalah politik dagang yang menetapkan harga jual di luar negeri lebih rendah dari harga normal. Tujuan dumping adalah untuk meningkatkan pangsa pasar di luar negeri dengan mematikan persaingan. Istilah ini memiliki konotasi negatif karena pendukung perdagangan bebas menganggap “dumping” (secara harfiah berarti “pembuangan” dalam bahasa Indonesia) sebagai salah satu bentuk persaingan yang tidak sehat.

Dalam definisi lain politik anti dumping didefinisikan sebagai Pengertian politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian dumping dalam konteks hukum perdagangan internasional adalah suatu bentuk diskriminasi harga internasional yang dilakukan oleh sebuah perusahaanatau negara pengekspor, yang menjual barangnya dengan harga lebih rendah di pasar luar negeri dibandingkan di pasar dalam negeri sendiri, dengan tujuan untukmemperoleh keuntungan atas produk ekspor tersebut.

Sedangkan menurut kamus hukum ekonomi dumping adalah praktik dagangyang dilakukan eksportir dengan menjual komoditi di pasaran internasional denganharga kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah daripada harga barang tersebut dinegerinya sendiri atau daripada harga jual kepada negara lain, pada umumnya, praktikini dinilai tidak adil karena dapat merusak pasar dan merugikan produsen pesaing dinegara pengimport.

Kebijakan dumping merupakan bentuk kebijakan diskriminasi harga untuk melindungi produknya diluar negri.
Ada tiga jenis kebijakan politik dumping yaitu,

1. Presistan Dumping

Presistant dumping adalah kecenderungan suatu negara melakukan tindakan monopoli yang berkelanjutan atau continous dari suatu perusahaan di pasar domestik dengan tujuan memperoleh laba maksimum dengan cara menetapkan harga yang lebih tinggi di dalam negri ketimbang di luar negri.

2. Predatory Dumping

Predatory dumping adalah tindakan perusahaan untuk menjual hasil produksinya dengan harga yang lebih murah untuk sementara waktu atau jangka waktu tertentu (temporary), dengan tujuan untuk memaksa perusahaan lain untuk menurunkan harga barangnya menjadi lebih rendah sampai batas perusahaan tersebut tidak mampu lagi sehingga perusahaan tersebut akan mati atau mengalahkan perusahaan lain dari persaingan bisnis.

Setelah menguasai atau memonopoli pasar yang dituju maka kemudian harganya dia naikan kembali seperti semula sampai yakin tidak ada kompetitor lainnya untuk memaksimalkan laba.

3. Sporadic Dumping

Pengertian Sporadic dumping adalah kebijakan suatu perusahaan untuk menjual produknya ke luar negri dengan harga yang lebih rendah secara sporadic dibandingkan dengan harga pada dalam negri karna adanya kelebihan produksi di dalam negri.

[AdSense-B]

Menurut Pasal VI Perjanjian Umum Tarif dan Perdagangan (GATT), tindakan dumping tidak dilarang kecuali jika tindakan tersebut menyebabkan kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis, mengancam terjadinya kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis, atau menghalangi pengembangan industri barang sejenis di dalam negeri.

Pasal VI GATT juga menjabarkan tiga metode yang dapat digunakan untuk mengetahui harga normal suatu produk. Cara yang paling utama adalah dengan melihat harga di pasar domestik pengekspor.

Jika metode ini tidak dapat digunakan, terdapat dua cara lain, yaitu dengan melihat harga yang dibebankan oleh pengekspor di negara lain atau dengan menggabungkan biaya produksi negara eksportir, biaya-biaya lain, dan batas keuntungan normal.

Pada tahun 1994, negara-negara anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menetapkan Perjanjian Anti-Dumping yang mengklarifikasi dan mengembangkan Pasal VI GATT. Menurut catatan kaki 2 Perjanjian Anti-Dumping, penjualan domestik produk serupa cukup untuk menjadi landasan penentuan nilai normal jika penjualan tersebut mencakup lima persen atau lebih penjualan ekspor di negara yang melakukan penyelidikan anti-dumping. Aturan ini disebut “aturan 5 persen”.

Tuduhan Praktek Dumping yang dilakukan oleh Indonesia :Pada Sengketa Anti-Dumping Produk Kertas dengan Korea Selatan”

Indonesia sebagai negara yang melakukan perdagangan internasional dan jugaanggota dari WTO, pernah mengalami tuduhan praktek dumping pada produk kertasyang diekspor ke Korea Selatan.

Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatanmengajukan petisi anti-dumping terhadap produk kertas Indonesia kepada KoreanTrade Commission (KTC) pada 30 September 2002. Perusahaan yang dikenakantuduhan dumping adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT. Pindo Deli Pulp & Mills,PT.

[AdSense-C]

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper Trading Pte Ltd.Produk kertas Indonesia yang dikenai tuduhan dumping mencakup 16 jenisproduk, tergolong dalam kelompok uncoated paper and paper board used for writing, printing, or other graphic purpose serta carbon paper, self copy paper and other copying atau transfer paper.

Tahapan awal penyelesaian sengketa yang dilakukan Indonesia dalam kasus Anti-Dumping adalah melakukan Konsultasi dengan Korea Selatan yang kemudian dilanjutkan dengan Pembentukan Panel sebagai akibat dari tidak ditemukannya titik temu dalam Konsultasi tersebut.

DSB WTO kemudian menyatakan bahwa Korea Selatan telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Anti-Dumping Agreement dalam mengenakan Bea Masuk Anti-Dumping terhadap produk kertas Indonesia DSB WTO menyatakan bahwa KTC terbukti melakukan pelanggaran dalam kasus tersebut dan merekomendasikan agar Korea Selatan melakukan penijauan kembali atas kebijakannya mengenakan BMAD terhadap produk kertas Indonesia serta melakukan penyesuaian sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang diatur dalam perjanjian WTO.

Itulah tadi, penjabaran mengenai apa itu politik dumping dan contohnya. Semoga dapat bermanfaat.