Sponsors Link

4 Kasus Pelanggaran Hak Cipta Buku yang Pernah Ada di Indonesia

Sponsors Link

Hak cipta pembuatan buku sudah dilindungi oleh Undang Undang Dasar No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Tetapi walaupun telah di lindungi Undang Undang Dasar, masih banyak kasus mengenai penggandaan karya cipta terutama buku pelajaran, novel secara tidak resmi yang di lakukan masyarakat, termasuk di dalamnya insitusi pendidikan. Orang orang yang memiliki kepentingan itu sengaja memanfaatkan karya cipta itu. Salah satu buktinya adalah banyak tempat fotokopi yang banyak buka di sekitar universitas universitas di Indonesia. Bahkan secara terbuka mereka berani memasarkan buku buku hasil fotokopi dan penggandaan tersebut. Itu kan merugikan penerbit dan pencipta karya itu.

ads

Di Undang Undang No 28 Tahun 2014 itu tertuama di pasal ke 9 ayat ke 3 di tuliskan: “Setiap Orang yang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang melakukan penggandaan dan/ atau penggunaan secara komersiap ciptaan”. Sudah jelas kan, tentu peraturan tersebut ada konsekuensi hukumnya. Dan di pasal ke 10 dikatakan juga “Pengelola tempat perdagangan dilarang membairkan penjualan dan/ atau penggandaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan/ atau hak terkait di tempat perdagangan yang di kelolanya”. Eh tapi ternyata masih banyak yang melakukannya.

Melakukan pelanggaran karya cipta sendiri termasuk sebuah kejahatan dan kriminal di Indonesia yang masih belum banyak di tumpas. Kejahatan itu tidak jauh beda dengan contoh kejahatan kemanusiaan. Hukumannya juga adalah hukuman pidana, yang berasal dari sumber hukum pidana.

Pada artikel kali ini kita akan membahas banyak mengenai kasus – kasus yang tersorot mengenai penggandaan hukum. Simak yuk 5 kasus yang menarik berikut ini.

Kampoeng Ilmu Surabaya

Kasus pertama penggandaan buku yang terjadi di kota Surabaya. Kampoeng Ilmu Surabaya menjual berbagai buku lengkap, bahkan buku yang jarang ada itu juga dapat kita dapatkan di Kampoeng Ilmu Surabaya. Walaupun telah tercampur dengan buku buku bekas, tapi kampoeng ilmu ini juga ada banyak buku hasil penggandaan. Dari mana pembeli tahu bahwa itu berasal dari hasil gandaan? Kertas yang di gunakan dari mayoritas buku mereka itu berbeda dengan buku asli. Harganya pun jauh lebih murah. Buku seharga Rp 100.000 kita bisa dapatkan hanya dengan harga Rp. 20.000 – Rp. 25.000. Harga tersebut tentu merupakan harga murah, dan orang orang tentu memilih yang lebih murah, dengan isi yang sama.

Sampai Hari ini, Kampoeng Ilmu Surabaya masih tetap buka. Banyak dari mereka masih menjual dagangan bajakan. Pemerintah masih belum banyak merazia buku bajakan tersebut. Bahkan DPRD kota juga sempat mendatangi, justru menyarankan warga Surabaya bisa mencari buku kuliah di Kampoeng Ilmu. Itu sangat merugikan pencipta dan penerbitnya bukan? Seharusnya mereka di kenai denda, seperti Contoh kasus hukuman denda untuk setiap buku yang mereka jual.

Buku Kilas Balik Pembangunan Aceh

Kasus kedua ini tergolong masih kasus yang baru di mata masyarakat. Di tahun 2017 lalu, pemerintah aceh mengeluarkan buku yang berjudul “Kilas Balik Pembangunan Aceh Setelah MoU Helsinki Flashback on The Debelopment of Aceh After Helinski MoU” yang ternyata adalah ciptaan dari seorang jurnalis di Biro Ekonomi Pemerintah Aceh yang pada saat itu masih bertugas di sana, Junaidi Hanafiah.

Pemerintah Aceh juga menyebutkan proyek tersebut di telurkan saat Karo Humas lama, bapak Frans masih menjabat. Karo Humas Pemerintah Aceh yang menggantikan pak Frans terebut, Mulyadi juga mengatakan bahwa penerbitan buku ini juga berbincang bekerja sama dengan pak Frans.

Junaidi menyerahkan masalah hukumnya ini kepada kuasa hukumnya. Walaupun Junaidi pad masa itu masih bekerja di Pemerintah Aceh, tapi ia merasa itu adalah hak miliknya. Merupakan kewajiban dan hak Junaidi, karena itu adalah hasil karya miliknya.

Sarjana Komputer Cetak Buku Bajakan

Di Semarang, seseorang di tangkap kepolisian karena telah mencetak dan menyebarluaskan buku palsu. Romy Heriyanto lah pelakunya. Romy awalnya memiliki usaha percetakan di tahun 2008 tapi, setelah 1 tahun berjalanm ternyata ada permintaan untuk menggandakan buku secara ilegal. Awalnya Cuma cetak nota saja, tapi lama lama adapermintaan cetakan buku dengan bayaran lumayan besar. Modus yang di lakukan itu adalah beli buku asli atau kamus original lalu ia memfotokopinya dengan cara di scan lalu menggunakan kertas berkualitas rendah. Dari sana bisa memangkas harga kertas dan dengan buku isi sama namun bisa di jual dengan harga yang lebih rendah.

Keuntungan dalam melakukan pembajakan buku juga tergolong lumayan tinggi, ia bisa dapat 4 juta rupiah setiap bulannya dengan membajak banyak buku untuk pendidikan. Pasar yang sekarang sudah ada di daerah Jawa Tengah, Jakarta dan Yogyakarta. Jika beberapa buku ada E-Booknya, maka romy juga memberikan CD bajakan. Pada tahun 2014 lalu, Romy telah di tangkap polisi dan akhirnya mendekap di penjara serta denda Rp. 500 juta rupiah. Kasus ini juga termasuk dalam Contoh Pelanggaran Norma Sosial, dan juga contoh pelanggran etika bisnis karena dalam perusahaan tidak bisa sembarangan comot termasuk di dalam pembuatan buku.

Yahya Muhaimin

Di tahun 1992, salah satu ahli pendidikan dari Sumatera yang berdomisili di Amerika mengeluarkan satu buku yang menyampaikan mengenai plagiat. Buku itu berjudul plagiat – plagiat. Dia menjelaskan tentang seorang Yahya Muhaimin yang memiliki karya yang di pertahankan di Cambridge di tahun 1982 yang bukunya yang serupa dibandingkan capitalism and The Bureaucratic State in Indonesia di tahun 1965, di Sydney pada 1977 lalu.

Walaupun sempat menjadi masalah, tapi menurut Ismet (ahli pendidikan itu) keduanya itu berasal dari 1 sumber yang sama saja tidak termasuk dalam pelanggaran hak cipta.

Heri Ahmad Sukria (2010)

Salah satu Dosen di IPB, Heri Ahmad Sukria di laporkan seorang profesor dari Universitas Hassanudin Sulsel. Somasi untuk melaporkan itu di lakukan karena adanya plagiarisme buku dengan judul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Menurut penggugat, pak Heri Ahmad itu mengambil data dari artikel yang di buat sang profesor.

Walaupun buku yang di buat tidak 100% menjilak, ternyata hanya dengan mencomot data tanpa memberikan sumbernya yang jelas juga termasuk dalam plagiaris.

Demikian 4 kasus mengenai pelanggaran hak cipta buku yang pernah memberikan warna di kehidupan perbukuan di Indonesia. Pelanggaran Hak cipta tidak hanya terjadi pada buku saja, tetapi juga ada pada Film, seperti Contoh Pelanggaran Hak Cipta Film dan seperti banyak contoh pelanggaran hak cipta software di Indonesia.

Jadi lebih baik berhati hati untuk mengambil sumber menulis, lebih baik meminta izin pada pemilik buku.

, ,
Post Date: Monday 22nd, July 2019 / 08:37 Oleh :
Kategori : Hukum